Mbak Dian Mau Menikah

Cerbung Edisi 29…

Oleh Sofi Muhammad

Kebenaran nan pasti itu tidak pasti. Satu golongan orang mengatakan begini dan lainnya begitu. Sebagai seorang manusia yang sangat biasa, tentu saja kupilih jalan yang mana pun asalkan aku suka.
Tidaklah terlalu kupedulikan ke mana arahnya nanti. Yang kulakukan saat ini hanyalah apa yang mampu kujalani. Baik roda pedati ataupun tronton yang tiap hari menggilasi badan jalan, semuanya pun memiliki peranannya masing-masing.
Biar pun sesama roda tapi mereka tak sama kuat. Begitu pula denganku yang tentu saja memiliki kadar kekuatan yang berbeda denganmu, barangkali.
Usai pergulatan kami, aku dan Rio di malam itu, aku semakin sering bergila-gilaan dengannya. Tak tahulah diriku ini. Rasanya, aku semakin bosan saja menunggu ketidakpastian dari Arya yang tak jelas di mana juntrungannya.
Iyalah, aku memang hanya main-main dengan Rio. Tak mungkin jika aku ini sampai berharap lebih pada playboy itu. Lagi pula, dia itu anak kuliahan, sedang aku cuma lulusan SMP. Walau ada kemungkinan jika dia akan menerimaku apa adanya, tapi bagaimana dengan orangtuanya?
Tentu saja aku tahu diri. Sedari lahir, aku sudah belajar untuk tahu diri. Lahir dengan tanpa pernah merasakan timangan seorang ayah, diludahi teman-teman sepermainan karena raporku tak pernah diambilkan ayah. Halah, itu sudah kebal aku.
Gila saja jika aku terus-terusan menjadi orang baik-baik. Mana ada?
Bahkan yang hidup sempurna semacam Rio, yang memiliki ayah-ibu komplit, berkecukupan materi, dan tampan pula, masih juga tak sanggup menjalani kehidupannya dengan baik-baik. Memangnya, siapa aku hingga sok-sokan jual mahal!
Meski begitu, aku masih tak tertarik kala Mas Hadi yang mengajak. Dia itu memang tak terlalu peduli denganku ini, apakah masih jomlo atau tidak. Toh selama ini bisa dikatakan bahwa dia tidak jomlo tapi selingkuhannya ada di mana-mana.
“Ras, kayaknya, aku akan menikah, deh,” ucap Mbak Dian secara sangat tiba-tiba kala kami sedang berkumpul di depan TV pada malam setelah aku pulang kerja.
“Apa?” tanyaku setengah melotot.
“Iya, menikah.”
Kupegang jidat Mbak Dian selayaknya perilaku orang yang di TV-TV Indonesia.
“Panas, Mbak,” komentarku.
“Ih, apaan sih kamu, Ras,” kilah Mbak Dian, “emangnya aku ini gila, apa?”
“He, he…habis, aneh banget sih Mbak,” kataku, “emangnya ada angin apa ini?”
“Tak tahulah. Tapi, aku sudah yakin, Ras. Aku juga sudah bosan hidup begini terus. Jadi simpanan orang, jadi bola yang dioper ke sana-sini,” jelasnya.
Syukurlah Mbak Dian telah menyadarinya sendiri tanpa harus aku yang ngomong. Hidup seperti dia itu kurasakan sangat berat sekali. Bagaimana mungkin bisa bercinta dengan beberapa lelaki sedang tak ada perasaan sama sekali.
Selain itu, pelanggan Mbak Dian tidak hanya anak muda yang masih genteng dan menggairahkan, tapi beberapa malah tua. Soalnya, sebagaimana yang pernah dikatakannya, yaitu bahwa hanya yang telah berubanlah yang mampu membayarnya dengan sangat mahal.
Tapi, ngomong-ngomong, dia mau menikah dengan siapa?
“Dengan Mas Hadi, Mbak?” tanyaku agak takut. Jika benar dia, takutnya Mas Hadi akan leluasa tinggal di rumah dan menggerayangiku saat malam ketika Mbak Dian kebetulan sedang kondangan.
“Ya nggaklah,” jawabnya mantap sekali.
Syukur, deh.
“Sama siapa, dong?”
“Mas Pras.”
“Orang mana, Mbak? Masih muda? Kerja apa dia?” tanyaku bertubi-tubi.
“Ya, kok borongan pertanyaannya.”
Untungnya, benar-benar bukan Mas Hadi itu. Meski belum kenal tapi aku yakin saja dengan kemampuan Mbak Dian dalam menilai orang. Dia yang selama ini begitu bangga tiap kali mampu menundukkan lelaki, akhirnya tunduk juga.
Seberapa hebat sih lelaki itu hingga sampai Mbak Dian mau menikah segala dengannya. Padahal, tidak muda juga katanya. Sudah empat puluh lebih. Anaknya saja sudah dua dan yang pertama sudah tujuh belas tahun. Cewek pula.
Tentu saja ada bedanya antara cewek dan anak cowok. Dari beberapa sinetron dan film FTV yang pernah kutonton, anak tiri cewek itu lebih besar mulutnya. Untung-untung malah Mbak Dian itu bisa jadi ibu tiri yang kejam hingga mereka jadi takut.
Tapi, yang sebaliknya kini juga sangat banyak. Gantian anak tirinya yang kejam. Apalagi jika dari sononya bapaknya itu sangat kaya raya. Dari kecil sudah sering dimanja tentu saja nglunjak.
Aku ini hanya kasihan saja jika Mbak Dian sampai disakiti oleh anak tirinya kelak. Agak beruntung karena istri lelaki itu sudah meninggal. Kalau masih hidup, semakin hancurlah rumah tangga Mbak Dian pasti.
Kubayangkan, jika istrinya masih hidup, serangan itu muncul dari kedua belah pihak. Di rumah diserang anaknya, sedang di luar diserang ibunya. Apalagi jika suami Mbak Dian kelak adalah businessman yang jarang di rumah. Ya, sudah.
“Rencananya kapan Mbak, aku jadi tidak sabar,” kataku dengan mata yang kurasakan telah berbinar-binar.
“Kok jadi kamu yang nggak sabar.”
“He, he, kan pingin lihat Mbak Dian dirias, pasti tambah cantik, Mbak.”
“Eh, Ras, tapi anaknya itu nggak pernah senyum sama aku.”
“Oh, iya?”
“Ya, itulah yang membuatku ragu. Rasanya, pingin tak bunuh saja dia.”
“Wah, Mbak Dian sudah sangat cinta ya dengan calon suami?”
Cinta yang tumbuh di hati Mbak Dian itu entah cimon atau cinlok. Apapun itu, aku hanya bisa mendukung dari belakang. Usianya memang masih cukup muda sebenarnya. Baru dua puluh lima hampir dua enam. Tapi, sudah sejak sangat belia Mbak Dian menjadi, ya, bola yang dioper-oper tadi. Jadi, menurutku ya pantaslah jika dia sudah mulai bosan.
Sedang aku ini, malah justru sebaliknya. Payah benget hidupku. Mudah sekali ternyata. Apa karena aku ini, seperti yang dikatakan Santi, masih lugu, lugu banget begitu. Jadi, sekali rayu saja sudah langsung klepek-klepek.
Biarlah. Kan sudah kukatakan bahwa aku ini bukan anak dari orang penting juga. Bisa bertahan sampai sejauh ini saja kupikir sudah bagus. Memangnya siapa aku ini? Tak penting dan tak istimewa pasti.
Tapi, aku merasa murahan benget jadi orang. Masih mending Mbak Dian kalau begitu. Dia jadi seperti itu kan tidak gratis. Sedang aku, aku ini sekali pun tak pernah meminta bayaran pada Rio saat ia menciumiku.

Bersambung Episode ke 30…

Baca juga: 

Post a Comment