Iklan

Sarasehan IKSAB TBS: Santri Jangan Cuma Pintar Mengaji

WAWASANews.com
Selasa, 11 Desember 2012 | 13.58 WIB Last Updated 2012-12-11T07:05:20Z
Semarang-WAWASANews.com
Seorang santri harus peka dengan lingkungan sekitar. Masalah agama, sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya merupakan bagian yang terintegrasi dalam kehidupan sosial bermasyarakat para santri. Para santri harus pandai-pandai menyikapinya.
Di samping mengaji, para santri selaiknyalah mempunyai sebuah karya yang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Keprihatinan santri bukan Cuma ahli mengaji saja ini muncul bersamaan tentang beredarnya karangan-karangan penulis buku yang mengatasnamakan Ahlussunnah Wal Jama’ah tetapi isinya tidak jarang mendiskriminasikan para kyai dan santri. Ironis.
M Abdullah Badri dalam “Sarasehan dan Maulid Akbar” yang diadakan oleh Ikatan Siswa Abiturien (IKSAB) Madrasah NU TBS Kudus Cabang Semarang di Ma’had Ulil Albab Perumahan BPI Blok P.13 Ngaliyan Semarang, Senin malam (10/12), mengatakan bahwa heroisme santri kini sudah mulai pudar.
“Dulu para kyai dan santri yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini sekarang hilang dalam sejarah. Sekarang saatnya para santri, terutama yang lulus dari sekolah dan pondok pesantren harus mengibarkan semangat heroisme itu melalui sebuah karya. Apalagi sekarang banyak dari mereka yang berpendidikan tinggi dan punya kemampuan akademik yang mumpuni,” jelas pengarang buku “Kritik Tanpa Solusi” itu.
Munculnya buku-buku disusul ustadz-ustadz “Ahlussunnah Wal Jama’ah” juga dianggap sebagai tantangan yang harus dihadapi secara cerdas oleh Ahmad Tajuddin Arafat, alumni Madrasah NU TBS yang sekarang menjadi dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.
“Inilah saatnya kita sebagai penerus para kiai, sesepuh, ulama dan para guru kita untuk membendung aliran-aliran yang tidak jelas Aswaja-nya. Bisa jadi mereka yang adalah kelompok teroris yang masuk ke kampung lalu menyebarkan bukunya atas nama Aswaja,” ujar ujar Tajuddin dalam acara yang dihadiri oleh sekitar 50-an alumni Madrasah TBS Kudus dari lingkungan kampus di Semarang itu.
Tajuddin menjelaskan bahwa semangat heroik sekarang diantaranya bisa diimplementasikan melalui penguatan Aswaja dan juga membuat karya tentang Aswaja ala Nahdliyyin. Selain menjadi kajian, karya tersebut bisa dibuat pegangan ideologis di kemudian hari.

Gelar Workshop, Terbitkan Buku
Minimnya buku yang mengulas Aswaja itulah yang membuat IKSAB Madrasah NU TBS Kudus Cabang Semarang mencoba melakukan sebuah terobosan penting. “Rencananya, kami segenap pengurus IKSAB akan menggelar workshop Aswaja pada liburan semesteran mendatang sebelum menerbitkan buku. Pasca workshop, buku yang akan diterbitkan itu nantinya akan disusun murni dari alumni Madrasah NU TBS Kudus yang berada Semarang, berasal dari seluruh kampus se-Semarang dan sekitarnya,” papar M. Fadhlullah, Ketua IKSAB Madrasah NU TBS Kudus Cabang Semarang.
Sarasehan dan maulidan malam itu dihadiri oleh alumni dari pelbagai kalangan kelas dan profesi: mahasiswa, aktivis, wartawan, penulis, asisten dosen, dosen, pengusaha dan lainnya.
Turut mengundang juga, para alumni TBS: KH. Ahmad Rofiq (Sekretaris MUI Jateng), KH. Abdul Muhayya (mantan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang), Zainul Adzfar (Ketua Jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang) dan K. Moh. Fauzi (Ketua Pusat Studi Gender dan Anak IAIN Walisongo Semarang) dan nama-nama lain. (Akmal)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sarasehan IKSAB TBS: Santri Jangan Cuma Pintar Mengaji

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF