Bedah Buku Kritik Tanpa Solusi di STAIN Pekalongan


Ada empat “Dosa Besar” mahasiswa yang umum terjadi dan dilakukan oleh mahasiswa di berbagai kampusIndonesia. Empat dosa besar dimaksud adalah: tidak suka membaca, enggan berdiskusi, malas bersosialisasi dan malas menulis. Dosa di sini tidak selalu diartikan meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allah. Istilah dosa juga bisa dilekatkan pada tidak adanya tanggung jawab atas apa yang sudah menjadi kewajiban intelektual mahasiswa di atas. 
Itulah satu hal yang terungkap dalam kegiatan “Diskusi dan Bedah Buku Kritik Tanpa Solusi” yang diselenggarakan oleh BEM STAIN Pekalongan bekerjasama dengan Penerbit Diroz Pustaka Semarang, di Auditorium STAIN Pekalongan pada hari selasa, 20 November 2012.


Acara yang diikuti oleh lebih dari seratus mahasiswa tersebut berlangsung sederhana, santai dan mengalir. Namun demikian, hal tersebut tidak mengurangi suasana hidmat dan keseriusan acara. Pemateri sekaligus penulis buku, M. Abdullah Badri mengungkapkan bahwa kritik adalah pengabdian seseorang dalam kepedulian dan perhatian terhadap realitas sosial. Buku tersebut merupakan kumpulan artikel yang ditulis Badri mulai dari awal jadi mahasiswa sampai sekarang,  4 tahun. Penulis muda yang seorang mahasiswa ini sangat jarang kita temukan. 
Seperti diketahui, buku "Kritik Tanpa Solusi" yang memuat 171 judul dalam 404 halaman berisi tentang memoar anomali dan teologi zaman ini, cukup komprehensif untuk mengetahui banyak hal. 
DR. Hj. Qomariyah MA, pembanding dari pemateri bedah buku, menyatakan bahwa kritik memang tidak selalu harus menyajikan solusi secara langsung. Karena kritik sendiri merupakan hasil dari sebuah proses yang tidak mudah. "Kemunculan kritik membutuhkan tahapan-tahapan mulai dari melihat dan mendengar, menganalisa, merefleksikan, dan mendialektikan antara yang terjadi dan yang seharusnya," kata Qomariyah yang juga mantan Bupati Kabupaten Pekalongan periode 2007-2011.
"Bedah Buku yang diadakan oleh BEM STAIN Pekalongan ini didasarkan atas kegelisahan yang ada dalam kampus STAIN Pekalongan khususnya dan mahasiswa pada umumnya atas hilangnya semangat membaca dan diskusi. Ini bagian dari pertobatan mahasiswa," ungkap Abdul Adhim, Presiden BEM STAIN Pekalongan. (Andi)

Post a Comment