Iklan

Gula-Gula Kenduri

WAWASANews.com
Senin, 14 Januari 2013 | 14.55 WIB Last Updated 2013-01-14T08:21:57Z
Cerpen

Oleh Issahani Alcharie

papangdr.blogspot.com
Fajar beberapa saat lalu telah pamit. Rona-rona merah di timur langit berganti sinar kemuning berpendaran. Semilir angin sehilir-mudik menerbangkan bau embun. Sukir menggemarinya; menciumi lekat-lekat aroma embun yang jatuh di helaian daun jambu. Bersama dengan Cipto -anaknya yang belum cukup lancar mengatakan “maem”–, Sukir tiap pagi mengelilingi jalanan desa hingga berhenti di bawah pohon jambu pada pekarangan rumahnya. Pohon jambu itu baru ditanamnya dua bulan lalu.  
Sukir mendongak. Ia berandai bilamana pagi tiba ia melihat pohon jambunya telah berbunga. Butuh dua tahun setidaknya untuk memanen buah jambu. Waktu lama sebuah penantian.
Sukir hanya mampu menanam dua pohon jambu sebagai penjaga di halaman rumahnya. Ia belum memiliki cukup uang membeli sebidang tanah. Harga tanah di desanya terus melesat seiring tahun berganti. Tempo hari Fahru menolak tanahnya 4x12 cm itu dihargai enam puluh juta. Padahal dulu tanah itu dibeli dengan harga tujuh juta.
Di tanah itu Fahru menanami beberapa pohon jambu. Hingga kini Fahru sanggup membiayai ketiga anaknya sekolah ke perguruan tinggi di kota. Semuanya S1. Motor Fahru pun kini ada dua. Siapa penduduk yang tak kenal Fahru? Semua orang menganggap Fahrulah orang pertama yang pantas diajak bernegosiasi ketika ada warga yang berniat menjual tanah.

***
Sukir menginginkan punya kebun jambu. Seperti milik Fahru. Tanah yang ditanami jambu jenis delima juga citra. Dipanen tiga kali setahun. Sukir bercita-cita membelikan sebuah sepeda roda dua dengan belnya yang nyaring buat Cipto jika sudah besar kelak. Juga untuk sekolah Cipto sampai dia jadi sarjana.
Suara musik dangdut bertalu dari pesawat radio di ruang tengah. Manggut-manggut kepala Sukir mengikuti alunan iramanya. Pagi tak serasa pagi tanpa koplo-an dangdut. Dari balik bilik, istrinya memanggil. Sarapan telah siap santap.
Meja makan jadi penumpu bakul nasi, cobek dan satu piring berisi tempe goreng. Tampak terlalu besar untuk menampung ketiganya. Sukir mengucap syukur pada Tuhannya karena pagi itu lidahnya diijinkan mengecap tekstur kedelai pada seiris tempe goreng. Kemarin dan hari sebelumnya lagi, tiap pagi lidah Sukir berjingkat-jingkat dihajar pedasnya sambal.
“Makin pedas, makin bagus. Biar mas jadi trengginas waktu kerja,” goda istrinya kepada Sukir yang pongah menahan pedas. Tak ada yang bisa dimakan selain cabe hasil dari kebun di pekarangan belakang rumah. Sementara sayuran yang lain seperti kangkung, bayam dan terung akan dimasak jadi sayuran berkuah di siang hari.  
Gelas belimbing berisi teh hangat berada di sisi kanan Sukir. Segera ia meraihnya selepas semua nasi di piring habis. Baru sekali minum, Sukir berhenti. Lidahnya menjulur, matanya menyipit. “Lha teh-nya kok pahit gini tho, nduk? Gulanya kau jual ke mana?” tanya Sukir pada istrinya yang sedang menyuapi Cipto dengan bubur bayi instan yang satu bungkus harganya seribu itu.
        “Dijual? Memang kita punya gula? Kalau mas punya berkuintal-kuintal gula seperti Lik Sritun hasil dari nyunatin anaknya, baru itu juragan-juragan warung pada mau beli. Sekali-kali gak ada salahnya ngicipi teh pahit.”
          Istri Sukir menggerutu sendiri. Semua berawal dari yang disebut gula. Beberapa hari lalu ia melaporkan uang habis dibelanjakan untuk membeli gula. Betapa kini Sukir harus meredam amarahnya sendiri; tiap hari bekerja jadi buruh mblongsong jambu pada Fahru, seluruh upah ia berikan pada istrinya lalu dibelanjakan untuk membeli gula.
Namun pagi itu tak ia rasakan manisnya gula dalam teh. “Ini kan bulan syawal, banyak orang pada punya kerja. Nikahin, nyunatin anaknya. Lha wong siang-siang mata masih keliyeran habis ngelonin si Cipto, orang sudah keburu datang nganterin layang ulem. Mata baru melek sudah dikasih tanda suruh buang duit,monyong istri Sukir bersungut-sungut pada Cipto.

***
        Burung-burung bergurau ceria. Mereka hinggap dari satu atap joglo ke atap lainnya. Sukir beranjak. Meniti jalan hidupnya sebagai buruh mblongsong Fahru.
          Tiga ikat plastik cap Mickey Mouse yang telah dilubangi pangkalnya dipungut Sukir. Ia ingin pekerjaannya selesai dengan cepat. Bahkan jadi yang tercepat. Biar Fahru tahu ia buruh yang cekatan. Biar Fahru mempercayakan banyak pekerjaan padanya. Banyak pekerjaan berarti banyak upah yang didapat. Apalagi kini ia punya banyak kebutuhan. Layang ulem dari para tetangga terus mengalir deras. Tentu saja Sukir harus menyiapkan banyak uang untuk angpao. Belum lagi gula yang harus dibawa istrinya. Paling tidak dua kilo di setiap acara. Jika tidak, Sukir dan istrinya disebut tetangga kikir.
        Di antara rerimbunan dahan pohon jambu, Sukir menggantungkan rejeki. Sebuah tangga bambu mengantarkannya ke pucuk pohon tempatnya menggantungkan rejeki itu. Jika seluruh karuk di daerah pucuk telah rata  terbungkus dengan plastik, ia mulai turun ke dahan yang lebih rendah. Dengan penuh ketekunan, Sukir mem-blongsong karuk-karuk yang telah terpisah dari putiknya itu. Pelan. Tak boleh sampai membuat mereka tergoyah. Jika tidak, maka esok hari bisa jadi mereka akan tanggal dari batangnya. Dengan lidi pula ia menusuk plastik yang telah membungkus bakal-bakal buah jambu itu agar rapat dan tak seekor kelelawar pun sempat melahapnya.
          Udara jam dua belas siang mendidihkan kepala Sukir. Enam puluh menit sejak itu adalah waktu untuk beristirahat. Ia turun. Cemilan dari majikannya telah dihidangkan: satu teko berisi es teh, rokok kretek dan beberapa gorengan.  
        “Kenapa, Kir? Kamu gak suka gorengannya? Atau minta dicarikan brownies kayak kemarin?” tanya istri Fahru pada Sukir yang hanya minum saja dan tak menyentuh gorengan sama sekali. Juga rokoknya.
        “Bukan, Bu, bukan masalah gorengannya. Tapi kok saya lebih senang kalau dapat hasil seperti bulan puasa kemarin. Rokok dan jajan diganti mentahnya saja. Dapat duitnya jadi lebih banyak.
Ia tak menyangka jika kata-kata yang awalnya hanya selorohan itu kemudian direspon serius oleh sang majikan. Dan hari itu Sukir pulang membawa lima puluh ribu rupiah. Hasil kerjanya selama sehari. Ia tidak membiarkan uangnya menumpuk dahulu lalu mengambilnya di akhir pekan seperti biasanya. Tidak. Ia harus pulang membawa uang. Tetangga belakang rumah ada hajatan sunatan anaknya.  
        Lepas maghrib, kantong plastik hitam berisi dua kilo gula pasir ditenteng istri Sukir. Sementara Sukir telah memasukkan selembar uang dua puluh ribu ke dalam amplop putih. Mereka berangkat menuju rumah yang sedang ramai bunyi lagu-lagu Islami, dangdut kasidah.
        Si empunya kenduri menyembelih seekor kerbau jantan. Badannya sangat besar, itu kata mereka yang pagi tadi ikut menyembelih. Pikir Sukir malam itu ia bisa makan daging kerbau. Lumayan. Istri dan anaknya akan kenyang pula. Pun kala pulang, istrinya membawa bungkusan berisi nasi dan lauk daging kerbau. Tengah malam nanti bisa dimakannya jika ia terjaga dan lapar. Tak apa jika esok lidahnya kembali diganyang sambal.
***
        Pagi hari Sukir bersiap diri menuju kebun uang. Langkahnya terhenti di ambang pintu tatkala dilihatnya sang istri menyodorkan dua buah layang ulem. “Tetangga sialan! Tak sadar apa mereka sudah bikin hidup orang lain jadi susah? Aku kerja seharian; naik-turun pohon, memblongsongi jambu satu-persatu, kakiku lemas, tulang leherku linu, e... upahnya langsung habis hanya untuk mereka. Umpak-umpakan! ” Kutuk Sukir.
        Di kebun, majikan Sukir menepati perkataannya. Tak ada rokok kretek, es teh atau pun sepiring gorengan bahkan roti brownies. Di siang hari panas matahari kian membabi-buta menaikkan suhu tubuh. Sukir berkali-kali menyembunyikan wajahnya di balik rerimbunan daun jambu. Sedikit sumringah hatinya, bu Fahru membawa teko yang dipenuhi titik-titik embun. Tahulah ia majikannya tak akan tega.
        Tepat seperti yang Sukir harapkan, ia mendapat upah lebih dari biasanya. Esok akan ia lakukan hal yang sama. Uang rokok dan makan dihargai dua puluh ribu. Lumayan. Pulanglah Sukir dengan wajah tenang, setenang gambar wajah pahlawan yang tercetak pada uang di sakunya. Uang pecahan lima puluh ribu dan dua puluh ribu.
        Oleh istrinya uang itu dibelikan gula empat kilo. Dua kilo untuk tetangga yang menikahkan anaknya dan dua kilo lagi untuk tetangga yang mengkhitankan anaknya.
        “Apa-apaan ini?” Sukir kaget.
“Aku cuma ambil dua puluh saja. Kau tadi kuberi lima puluh kan, nduk? Sekarang kau minta uang belanja padaku? Benar-benar kau ini perempuan boros,” bentak Sukir pada istrinya. Ia kesal. Uang dua puluh ribu yang ada padanya pun habis masuk ke amplop putih. Bahkan ia harus menambal dua puluh ribu lagi. Bagaimana tidak, setiap amplop harus berisi uang dua puluh ribu rupiah. Sementara ada dua tetangganya yang punya kerja hari itu. Sukir benar-benar tak memiliki uang lagi. Istrinya benar-benar tak tahu menghargai uang. Yang istrinya tahu hanya caranya minta uang.
         Istri Sukir tak mau kalah. Ia menjadi kesal dengan perkataan suaminya. Dengan panjang lebar ia ceritakan pada suaminya perihal perkembangan naik-turunnya harga gula.
“Dengan uang lima puluh, sama saja tak ada uang belanja. Harga gula sekilo itu dua belas ribu, mas. Kubelikan empat kilo. Coba kalikan sendiri berapa itu uangnya. Empat puluh delapan! Apa mas mau aku hanya beli dua kilo dan datang pada ke dua kenduri itu dengan satu kilo-satu kilo? Mas kira pantas dilihat orang?” tukas istri Sukir.  
        Motor-motor itu datang dari berbagai penjuru desa. Banyak pula yang datang dari desa tetangga. Mereka menuju tempat punya hajat kenduri. Pengendaranya selalu berpenampilan sama; seorang bapak berkemeja batik dan seorang ibu bergincu merah menyala mengenakan kebaya yang membonceng di belakang. Di antara deru-deru motor tersebut, suara ruji-ruji sepeda Sukir mengalun ritmis. Lirih. Menyertai bunyi jeruji-jeruji itu, si pengayuh dan si pembonceng secara bergantian mengeluarkan pisuhan.         
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Gula-Gula Kenduri

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF