Iklan

Puisi-Puisi Muhamad Fikri Nadzif

WAWASANews.com
Selasa, 26 Februari 2013 | 23.41 WIB Last Updated 2013-02-26T16:42:36Z
Puisi


Ka-fir-daus


Ka
        Fir
                Ka
                        Fir
                Ka
        Fir
Ka
        Mu
                Ka
                        Mu
                Ka
        Mu
Ka
        Mi
                Ka
                        Mi
                Ka
Mi
Kami
        Kamu
                Kafir
                        Ka
                Fir
        Ka
Fir
Firdaus; buat siapa?


Apa Sebenarnya Ini?

Bulan purnama malam ini, entah aku tak ingat purnama yang keberapa sejak kau memintaku untuk menemukan hal yang sukar dipahami, dirasakan, dan dicari? Bukan karena sesuatu itu adalah barang yang abstrak, yang diluar ejaan panca indra. Melainkan kau memintaku menemukan rasa biasa yang belum terbiasa aku mengenalinya. Entahlah, rasanya masih rancu saja waktu itu aku memamah perkataanmu.
“tahukah kau betapa tersiksanya aku merindukanmu, A?” keluhku.
“benarkah?” sangsimu dengan sedikit mengerutkan dahi dan menjunjung sepasang alis.
“aku sangat kesepian tanpamu, A” kukuhku kemudian.
Saat itu, kau sedikit berpaling dan membuang muka. Kemudian tertunduk dan memainkan sedotan dengan separuh jus jambu dalam gelasmu. Aku tahu kau kemudian memikirkan sesuatu. Sepertinya kau begitu mencurahkan sepenuhnya rasa dalam memahami ujaranku. Aku hanya menelan ludah. Bersiap untuk responmu yang sepertinya akan sedikit, atau mungkin begitu mencengankanku.
“ada apa denganmu? Apa hal yang sedang kau pikirkan?” selidikku
“ah, bukan. Aku tak apa kok”
“kau yakin?”
Sepi sebegitu saja melintas saat kau memberikan ruang pada keheningan yang semakin mengakrabi. Kau tampak sedikit gelisah.
“kau yakin kau merindukanku?” katamu menguraikan keheningan.
“tentu” jawabku singkat
“kau yakin kalau itu bukan hanya sekedar rasa sepi?”
“maksud kamu?”
“aku harap kau tak menganggap sama antara rindu dan hanya sekedar rasa sepi”
“......”


Nanah Air Mata

Diam..!!!
..
..
..
..
..
Jangan riuh
Aku sedang mencari nama baru
Bagi nanah-air mataku; indonesia


Haram

Retakan di tapak kaki itu prasasti tirani
Tuk sebuah bangku di istana ilmu
“Hai suhu” ujar ibu
Tumballah diriku
Maka ilmu kau sabdalah tuk putraku
Akhlak, ijazah, pun apalah
Karena tak boleh ada payah nanti dimamah
Biarpun sedebu payah
Haram kau maujudkan
Bilapun sealam maharnya
Terwajibkan aku hibahkan


Muhamad Fikri Nadzif. Lahir di Grobogan, 13 Januari 1994. Sekarang tinggal di Semarang. Dia mulai belajar menulis puisi dan cerpen sejak Madrasah Tsanawiyah melalui lambaga penerbitan sekolah. Kini sedang menjalani perkuliahan di Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi-Puisi Muhamad Fikri Nadzif

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF