Iklan

Syarat Jadi Penulis itu Sombong

WAWASANews.com
Minggu, 24 Februari 2013 | 03.08 WIB Last Updated 2013-02-23T20:09:55Z
Semarang-WAWASANews.com
Bertanya: salah seorang peserta membaca pertanyaan
(Foto: WAWASANews.com/Autad)
Sekitar 300-an santriwati Ma’had IAIN Walisongo Semarang yang berlokasi di kampus II, memadati ruang aula lantai bawah. Bukan antri sembako, mereka berkumpul sejak pukul 09.00 WIB menunggu kehadiran M Abdullah Badri, Pemimpin Redaksi Portal WAWASANews.com dalam rangka “To Week of Training” Jurnalistik. Antusiasme muncul, suasana yang awalnya kemrecek, tiba-tiba tenang saat pemateri asal Jepara tersebut datang sekitar pukul 09.30-an pagi.
“Anda tahu syarat jadi seorang penulis?” tanya Badri mengawali materi. “Syarat penulis adalah sombong,” tuturnya. Sontak pada keget dan tidak percaya dengan “ajaran” tersebut. Dalam penuturannya, pemateri hanya ingin menjawab kegelisahan peserta yang pada umumnya ingin menulis, namun tidak punya keberanian mengirimkan ke media. Percaya diri dengan ide yang ditulis –entah salah atau benar-, lalu kemudian bangga terhadap tulisannya, adalah syarat untuk jadi penulis. “Asal tidak menghina orang lain saja,” katanya.
Satu jam lebih mengurai materi kepenulisan yang meliputi Fiksi, Non Fiksi dan Faksi, Badri memberikan waktu sepenuhnya kepada peserta untuk bertanya, menggugat, atau bahkan menyatakan ketidaksependapatan. Peserta yang dalam pengamatan WAWASANews.com terdiri atas mahasiswi semester awal ini ternyata masih malu-malu dan takut untuk hanya sekadar bertanya. Baru setelah satu orang mengacungkan jari, membludak banyak yang mengikuti.

Kerja Mengabadi
Menulis, kata Badri, adalah kerja yang mengabadi. Dibandingkan dengan guru, walau sama-sama memiliki tugas transformasi pengetahuan kepada generasi yang lebih muda, namun, perbedaan itu terletak pada jangkauan waktu penyerapan pengetahuan yang tidak kenal waktu. Bila guru hanya mampu mengajar kepada 100 generasi murid, maka, seorang penulis, hingga ribuan tahun pun, pikirannya akan mampu diserap oleh generasi yang akan datang.
Mengoreksi: pemateri mengevaluasi tugas peserta
(Foto: WAWASANews.com/Autad)
“Guru itu hanya menyampaikan satu materi yang dikuasai sesuai bidangnya selama dia masih sanggup mengajar. Kalau mengajar hingga 40 tahun, dia hakikatnya hanya setahun mengajar, namun diulang hingga 40 kali kepada generasi yang berbeda,” terangnya.
Apa yang disampaikan penulis buku “Kritik Tanpa Solusi” tersebut adalah menjawab keistimewaan menulis selain keuntungan dalam tiga hal: pengetahuan, popularitas dan money (uang). Trinitas keuntungan menulis itu, mengikuti bahasa Badri, harus dimulai dengan menangkap sebuah masalah.
“Apa yang kita tulis dalam banyak jenis tulisan, baik fiksi, non fiksi, atau faksi, semuanya adalah masalah. Kalau kita belum mendapatkan masalah untuk mulai menulis, carilah masalah! Kalau tidak mendapatkan masalah buat menulis, kumpullah dengan orang-orang yang bermasalah,” terang Badri yang disambut tawa peserta.
Tidak hanya itu, masalah saja tidak cukup. Secara struktur kepenulisan, ada yang lebih menarik diperhatikan dalam pandangan Badri, yakni soal judul. Menurutnya, tulisan yang baik itu adalah tulisan yang sudah jadi. Namun, judul cantik, isi seksi, dan kesimpulan yang padat-berisi, tetap dilirik sebagai bahan pertimbangan redaktur ihwal layak dan tidaknya tulisan tersebut dimuat. “Bila redaktur sudah menyatakan dari awal kalau judul tulisan kita tidak cantik, saya yakin dia tak akan melanjutkan membaca isinya,” katanya.
Dibahas pula dalam kesempatan itu soal esai. Menurut Badri, esai adalah tulisan yang nggatheli (menghempas pikiran). Pengertian tidak lazim ini dicontohkannya dengan sebuah esai yang pernah dimuat WAWASANews.com berjudul “Akuilah Kentutmu!”.  “Dari judulnya saja kita akan penasaran soal bahasan yang diangkat penulis,” jelasnya.
Tulisan yang menantang, kata Badri, selain ditulis dengan penuh kesombongan, juga harus nggatheli. Itulah yang membuat orang jadi sukses dalam menuangkan gagasan dan ide masalah dalam sebuah karya.
“Tulislah sesuka kalian, jangan terbelenggu struktur apalagi pikiran orang lain. Karena menulis bagi saya adalah kerja mengarang, apa pun itu. Mengarang adalah menciptakan sesuatu yang awalnya tidak ada, menjadi ada. Pekerjaan rumah berupa menulis dulu disebut mengarang. Menulis dengan demikian sama dengan mengarang. Saya menyebutnya ndobolisme,” kata pria berambut gondrong sebahu itu. (Autad)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Syarat Jadi Penulis itu Sombong

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF