Iklan

Puisi-Puisi Salama Elmie

WAWASANews.com
Jumat, 12 April 2013 | 10.28 WIB Last Updated 2013-04-12T03:28:32Z
Puisi



Senyum Terakhir di Bibirmu, Ibu
        Untuk Nyi Elok

Malam menyelinap
Setelah cahaya mulai menghilang dari matamu
Mengubur dalam-dalam airmata
Darah jadi beku, nafas pun terhenti
Seusai matamu merapatkan rindu
Lalu sunyi

Ya semua jadi bisu
Lantaran senyummu
Benar-benar menatap mata
Yang penuh rindu, dan tetesan embun
Yang jatuh darimataku, ibu

2012

Hujan

I
Pagi jadi sunyi
Lantara mendung mengupas cahaya matahari
Sebelum cemburu menjadi diamku
Pada Tuhan aku mengadu

II
Siangpun menyeret suasana yang sama
Menjadi langit kelabu tetesan hujan
Pertama dimata
Saat aku mulai merangkul
Seluruh batu dan tanah keruh
Aku masih membirukan jalan
Menuang pada sunyi

III
Malam kembali menyapa
Mengundang lirih airmata
Sementara aku baru saja
Bersetubuh dengan dzikir

Jogja, 2013


Jalan Pulang

Pada akhir subuh
Tiba-tiba kuyakini dalam hidup
Ada mimpi yang berkedip padaku
Menutup jalan pulang
Lalu, kujelajahi tanah-tanah baru
Yang menyulam mataku
Tak ada batu-batu
Seperti dirumahku yang penuh rindu
Dan kuyakini
Dipelabuhan waktu nanti
Jalan pulang masih menyimpan rindu
Di dada

Gendeng, 2013

Jejak Sebuah Negeri

Tak bisa kutiru jejakmu
Yang melahirkan duka
Seperi hening yang bicara pada hati
Dan jadi kata tak suci
Di sana dirimu tak lelah
Membius banyak orang di jalan
Sampai menyeruak amis
Bahwa negeri penuh kabut dan asap
Yang ditumpahkan lewat sepi dalam diam

2013

Bocah Penghuni Jalan

Cahaya yang terus menyala dimatamu
Tak ada jalan tuntas
Merangkak ke pelabuhan
Sampai sesuap nasipun tak dirasakan
Di antara tumpukan sampah
Yang menyapa menuang rindu dan mimpi
Di setiap lorong yang kerap dijalani
Selalu menemani langkah angin
Dan hujan yang menjadi tetes keringat
Sebab malam jadi siang
Siang jadi malam

Jogja, Komunitas Rudal, 2013

Sekilas tentang Aku

Setelah hujan melintas dimatamu
Di tanah yang dipenuhi kerikil
Kau tanam aku
Batangku mulai tumbuh
Dan pupuk telah kau semaikan
Di setiap akarku
Keringat yang menetes
Setiap kali kau berdiri
Matahari menghangatkan tubuhku
Kau masih saja bercumbu denganku
Tubuhku lelah menguning
Waktunya untuk dipanen
Lalu pelan-pelan kau mangupas
Kemudian merebahkan tubuhku
Diantara cahaya matahari
Sampai aku mengering

2013


Salama Elmie, penyair kelahiran Kolpo, Sumenep, kini tinggal di Yogyakarta dan belajar menulis sastra di Komunitas Rudal Yogyakarta, antologi puisi bersamanya bisa di lihat di Sinopsis Pertemuan. Pernah menjadi juara satu lomba tulis puisi se-Kabupaten Sumenep (2012).
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi-Puisi Salama Elmie

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF