Iklan

Puisi-Puisi Adhy Pramudya

WAWASANews.com
Sabtu, 13 Juli 2013 | 23.22 WIB Last Updated 2013-07-13T16:22:14Z
Puisi

Fragmen di Jalan Raya

sore itu jalan seperti barisan semut
penuh lalu-lalang pengendara
tubuhku gigil dan gemetar
pohon rambutan menatapku saru

sebab ia tau aku beku
saat termangu
tak dapat membaca jarum jam berdetak
semua mati tanpa kecuali

tapi mengapa kadal itu meradang?
menerjang pusar aspal jalan
padahal bibir roda hampir menciummu

gigilku saja hampir memucuk api

hampir pecah nadi dalam nadirku
sampai paling hulu
dan semua mengudara perlahan
tersebab sampai kau di tepian

Purwokerto, 2013

Pecah Dalam Darah


tapak tilas company
menghampiri perbukitan
perlintasan area hitamku
paling belenggu

_kawanan company kian memburu
lalu hinggap pada benteng nadirku
dan menawan getir paling hulu_

gua dalam ubun membeku
segumpal darah pecah
meruah pada detak-detak
paling menyergap

butiran pelor kian menjuru
pada kutub batin terhening
dan borgol melingkari uburku
tertangkap dalam mortir gelap

Purwokerto, 2013

Riwayat Hujan Senja

kabut menghitamkan awan kelabu
sementara aku hilang
tertiup kesiur angin hujan
dan terbawa gelombang selokan

hujan itu lalu mengendap
dalam gelombang guntur
mengairi tanah kemarauku
yang rindu kebasahan

Purwokerto, 2013

Desir Gasir

ladang sawah di bibir senja
petani mengeja galengan sawah
puyuh pun kembali ke tanah
burung emprit merapatkan barisan
menuju rimbun pohon waru

larung meretakan sinarnya
awan senja menjelma kelam
berganti rekah bulan
semakin sempurna

kawasan ladang sukmaku
kian memaku
mendengar lirih suara samar
yang tak asing kuterka

ku harokati setiap notasimu
hingga membayi di ibu nadir
dan kugelar pertapa sunyi
menghantar desir menjelma gasir

Purwokerto, 2013

Kali Gung

sebuah pertapa kecil
terhembus bius kali tenang
muaranya membidig
cekungan bendungan hilir

sater air mengendap
dan menarik pelepah pisang yang mengapung
saat berenang hendak menyebrang
tepian sungai serayu

angin pun berbisik lirih
memompa denyut nadi
pelepah pisang yang setengah mati;
mencapai tepian ‘Kali Gung’

Purwokerto, 2013

Joglo Jawa

papanmu tegak
dan menopang seisi nadi
yang bersandar dalam nafasku
penegak tulang rusukku

memberikan atap yang keramat
pada usuk yang berderet
dalam anyaman nadirkuper
yang tersentuh dari adi kodrati

pintumu memberikan arah
di setiap langkah kuberjalan
menyusuri gedheg dadaku
yang merambat sampai pada pagar jiwaku

dalam pagar jiwaku kau merayapi
hingga keropos dan berbribik
menghambur-hamburkan butiran kecil
yang merobohkan seisi bangunan

Purwokerto, 2013

Belerang Tua

denyut nafas nafas kecebong menguning
serupa cahaya
yang terpantul
dasar lumut dari dasar permukaan

tenang kecobong dalam pangkuan
dekapan kasih bau bacin
dalam ruang kebisuan air belerang
yang bermuara hingga ke lorong-lorong

kedalaman sumber tak tertembus
meskipun gantar berkilometer
akupun mencoba tuk meneguk dan
menyelami hingga ke lorong-lorong

Purwokerto, 2013


Adhy Pramudya, lahir di desa terpencil, di tepi sungai Serayu (Banyumas), pada 12 Oktober 1993. Kuliah di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhamadiyah Purwokerto. Bergiat di Komunitas Sastra Pojok Stasiun, dan Komunitas Penyair Institut.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi-Puisi Adhy Pramudya

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF