Iklan

Tanah Air di Ujung Senja

WAWASANews.com
Jumat, 26 Juli 2013 | 06.47 WIB Last Updated 2013-07-25T23:47:27Z
Cerpen
Oleh Boculgarpit

Dinar, bersama Pelangi di sore hari. Hanya lima menit sambil menunggu lagu hati usai diputar. Mengapa, raga lemah ketika mendendang sua bintang di ujung cakrawala, kekasihku. Lama menanti terang bersama tersayang, kakakku. Hanya ribuan cerita tentang cahaya di langit. Sunyi. Tak ada suara. Ada genggaman hangat dari mentari yang hampir tamat sementara. Lelah, hariku. Mencari kilau senja atau sekadar satu warna tiada tertemu. Ke mana dikau? Oh, suramnya. Membuat tangisku menggebu sampai ufuk!
“Sudahlah sayang. Ayo pulang!” Kakak Dinar memeluk hangat pundakku. Kutahu itu dia.
“Baik, di mana pelangi kesayanganku?” Tanyaku sampai lirih tak lagi bersembunyi.
“Dia sudah pulang karena mengantuk.”
“Begitu? Sayang sekali, kakak. Aku akan memberinya hadiah!”
“Nanti saja besok. Dia akan ada tujuh warna.”
“Bukankah dia tidak menungguku? Lalu..” Lupa apa yang harus aku suarakan. Lensaku tak berlaku hari itu. Semua tampak hitam tak ada paduan. Aku pamit bukitku!

***
Bunda, antar aku pergi ke sekolah! Di dada kananku ingin kupasang bintang. Aku ingin bertemu dengan yang namanya “Tanah Air” seperti yang kudengar kecil, dari siaran radio yang hampir hilang. Buku lima buah atau biji terserah. Ku masukkan ke tas mahalku Rp. 15.000 dari pasar Tanjung dekat kantor kecamatan. Hadiah ranking satu dari guru kesayanganku, Pak Hasan Yudyanto.
“Pelangi, ayo berangkat! Kak Dinar sudah menunggu lama.” Bunda memanggilku. Sepertinya aku harus segera beranjak. Hari ini pelajaran Ilmu Sosial, kemudian ketika dewasa aku ingin menjadi yang di sana. Pelindung tanah air.
“Baik bunda. Jemput aku di kamar.” Bunda meraih tanganku. Menunjukkan arah ke mana yang kutuju. Tempat istimewa menuju bintang!
“Terima kasih.”

***
Sampai di rumah keduaku yang luar biasa. Banyak taman bunga katanya. Kakak Dinar juga bilang sesuatu yang sama. Pasti teramat indah. Aku jadi ingin melihatnya, Tuhanku. Huhh, memang aku hitam di antara kerumunan putih abu-abu. Boleh aku tersenyum?
 “Hey, matahari!” Suaranya seperti Cicha.
 “Aku Pelangi. Mana boleh kamu mengganti nama orang seperti itu.” Sedikit marah. Dia memang sulit mengingat. Apalagi itu aku.
“Maaf, aku salah. Kamu Pelangi? Apa itu artinya?”
“Bunda dan kak Dinar bilang, “Tujuh Warna” cantik kan?”
“Aku tidak tahu.” Bosan mengobrol dengan Cicha. Dia sama sepertiku, hitam di antara putih abu-abu. KRINGG! Bel menggema jauh menuju bintang. Aku rapikan gerakku, untuk mencari tanah air, pada guruku. Mungkin lama sunyi tak berjumpa dengan tanah air beta.
“Ibu, kapan aku bisa bertemu dengan tanah air?”Tanyaku tak sabar. Ibu jawab aku!
“Ingin bertemu tanah air? Di mana ya?”
“Dia pasti sangat cantik! Seperti tujuh warna yang pernah dibilang kak Dinar.”
Ada tawa sampai telinga. Aku ingin ikut, tapi sulit karena apa yang harus kutertawakan. Lama Diam! Mencari sebak dada, rasa tak sabar mencari keberadaan tanah air.
Ibu guru bilang, dia ada di ujung senja di Bukit Singgahsana. Carilah ilmu sedalam samudera, baru kudapat bertemu dengan tanah air. Benarkah begitu? Aku mencari. Waktu yang kian hitam di mataku, seakan ada kilau matahari seperti yang kak Dinar bilang.
“Kak, antar aku bertemu dengan tanah air. Dia akan memberi bintang untukku! Aku ingin menjadi pelindungnya!” Aku yakin, aku bisa. Mencari petualangan ragam, walau gelap menyelubung hariku. Lama sudah aku diam terus mendengarkan riuh suara kecil, tak ada batas. Bosan.
“Di mana? Kakak dan bunda tidak tahu. Kamu tahu?” Kak Dinar membuatku muram. Dia menjauhi pertanyaanku. Kesal!
“Dia ada di ujung senja. Tak mungkin mencariku, aku yang harus mencarinya. Dia sangat membutuhkanku.” Ucapku pasti. Kakak diam.
“Baik, ayo kita cari bersama-sama.” Kami beranjak memulai petualangan asyik penuh tanya. Mengenggam jemari tanah air yang hangat. Di mana dia? Hey, wait me dear!

***
Bukit telah ku naiki sepenuh hati. Kudengar kicau pipit menari, tetap hitam di mataku. Lelah. Aku harus mencari. Ini tak jelas arah! Kak Dinar hanya mengikuti petunjukku. Bagai melalui fairy tale. Harta karun atau ilmu menungguku.
“Semua yang kau lihat, begitu berwarna ramai? Ini hitam kak!” Tanyaku, ini sulit kutempuh jika sendiri. Aku si buta yang tersesat mencari bintangku, di ujung senja Singgasana. BUKKK! Ada yang terjatuh. Dari atas langit. Oh, kehilangan sayap merahnya. Ku bantu.
 “Apa kamu tidak apa-apa? Tanyaku cemas.
 “Terima kasih. Aku kupu-kupu kecil dari bunga mawar di bukit Singgasana.’ Kau tahu, aku TERKEJUT! Ia bilang Singgasana. Ahhh, tanah air beta, dia sudah dekat. Dinar dan Pelangi mencari tanah air, yang jelasnya aku sendiri. Mungkin ia adalah seorang raja. Aku akan mengabdi.
“Singgahsana? Itu rumahmu?” Tanyaku.
“Benar, di sana aku lahir.”
“Aku ingin bertemu rajamu. Aku ingin menjadi pilar!”
“Benarkah? Baik, karena kau sudah menolongku aku mau mengantarmu.” Aku senang!
“Terima kasih.”

***
Tanah airku, tunggu aku! Anakmu akan hadir menjadi prajuritmu! Wait me. Meski napas tinggal tersisa 50% lagi, aku masih bisa bertahan. Ini sebuah cerita peri tentang bintang atau benteng kokoh pilar tanah air. Aku pilarnya.
“Apa tanah airmu sangat baik.?” Tanyaku pada si kupu-kupu yang bernama Fly.
“Apa? Emm, mungkin saja. Tapi, benar. Masa depannya ada di tangan kami.”
 “Berarti ada di tanganku juga Fly!”
 “Benarkah? Kau suka tanah airku?” Fly, jangan berkata demikian.
 “Aku ingin bertemu dia.” Tak sabar tahu. Kak Dinar membelai rambutku lembut. Mungkin saja ia tersenyum. Bahagia.
 “Kak, aku bahagia. Nanti beritahu aku seperti apa wajahnya.”
 “Tentu saja.”

***
Kupikir begitu dekat, ternyata sangat lama. Tidak juga sampai di ujung senja. Tunggulah! Kakiku meraba kerikil-kerikil tajam. Menghirup udara tak segar kali ini. Kak Dinar bilang, ada asap 1 apa itu? Tak pernah kudengar. Baunya menyergak napasku!
“Fly, apa ini? Panas dan bau.”
“Coba kau berdiri di atas batu ini. Kutunjukkan sesuatu tentang tanah air, ku ceritakan.”
Bagaimana? Aku ingin mendengarnya.
Tanah air yang kau cari, tidak lain hanya segudang  polusi dan tumpukkan uang menimbun dunia. Banyak korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi hal yang sangat dibanggakan.
“Aku sampai bosan mendengar ketidakadilan di tanah air. Licik, picik, pengecut, maling, ada semua. Batu pun pilu. Air menangis. Ibu pergi kecewa, dan para tetua dahulu menyesal telah memperjuangkan kemerdekaan pada tanggal yang sakral itu.
“Lama tak ada yang mau jadi diri sendiri. Semua plagiat! Semua ikut dunia lain. Generasi muda menjadi pengikut setia yang lain. Jika kau kenal istilah bangsa lain, maka itulah tanah airmu! Apa kau kecewa?” Fly panjang lebar. Aku terpaku. Entahlah, terlalu rumit. Kak Dinar memegang jemariku. Serasa ingin memberiku pilihan. Ingin menjadi pelindung tanah air atau pulang acuh tak peduli. Ini harus ada jawabnya.
“Aku tetap akan mencintai tanah airku lebih dari yang kalian ketahui. Aku akan menjadi pilar negeriku! Kalau bukan aku, siapa lagi?” Tegasku. Kak Dinar memelukku. Semua pikir tentang tanah air, biarlah. Aku generasi baru pembangun bangsaku. Tak boleh ada yang merampas.  Ibu, kembali. Aku akan berbakti sampai aku mati! Tunggu aku tuk jadi pemimpinmu!

SELESAI
27 Juli 2012

----------------------------------------
Boculgarpit, nama alias Siti Hapsari,
mahasiswi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tanah Air di Ujung Senja

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF