Iklan

Anak dan Realitas yang Melebihi Fiksi

WAWASANews.com
Rabu, 23 Oktober 2013 | 20.04 WIB Last Updated 2013-10-23T13:04:01Z
Esai
Oleh Mulyanah

Kisah hidup Malala Yousafzai sangat filmis. Pada tanggal 9 Oktober 2012, Yousafzai ditembak di kepala dan leher dalam upaya pembunuhan oleh kelompok bersenjata Taliban ketika kembali pulang di bus sekolah. Ia sempat dirawat di Pakistan sebelum akhirnya diterbangkan ke Inggris untuk dirawat di rumah sakit di Birmingham. Ia selamat.
”Malala harus dibungkam karena dia 'menjalankan kampanye untuk memfitnah upaya Taliban untuk mendirikan sistem Islam di Swat dan tulisan-tulisannya yang provokatif,” kata seorang Komandan Taliban, Adnan Rasheed, dalam secarik surat. "Bukan pendidikan, tetapi propaganda Anda adalah masalah, begitu juga apa yang Anda lakukan sekarang," tulisnya lagi.
Pada awal tahun 2009, pada umur sekitar 11 dan 12, Yousafzai menulis di blognya di bawah nama samaran untuk BBC secara mendetail tentang betapa seramnya hidup di bawah pemerintahan Taliban, usaha mereka untuk menguasai lembah, serta pandangannya sendiri tentang upaya mempromosikan pendidikan untuk anak perempuan.
Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 16, 12 Juli 2013 lalu, Malala berpidato di depan Forum Majelis Kaum Muda di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat. Saat ini ia juga memimpin lembaga sosial, Malala Fund. Happy ending?
Realitas yang mirip-mirip fiksi lainnya datang dari negeri sendiri. Kisah tragisnya bermula tiga tahun lalu (2010). Dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) pada seorang majikan bernama Yeap Seok Pen (60). Sang majikan kerap memarahi dan memukuli Wilfrida Soik yang saat itu baru berusia 17 tahun. Tak tahan perlakuan sang majikan, Wilfrida melakukan pembelaan diri. Hari itu, 7 Desember 2010, jelas takkan pernah hilang dari ingatannya. Dia melawan dan mendorong majikannya hingga terjatuh dan akhirnya meninggal dunia.
Tiga tahun Wilfrida mendekam di Penjara Pangkalan Chepa, Kota Nharu, Kelantan. Proses persidangan pemberkasan kasusnya di Mahkamah Majistret Pasir Mas, Kelantan, berjalan sangat lambat dan mengalami penundaan beberapa kali karena laporan visum et repertum korban dari pihak rumah sakit tidak kunjung selesai. Awal 2012, kasus Wilfrida akhirnya dilimpahkan ke Mahkamah Tinggi Kota Bharu sebagai mahkamah tingkat pertama yang berwenang memeriksa pokok perkara.
Wilfrida diberangkatkan ke Malaysia pada 23 November 2010 melalui jalur Jakarta-Batam-Johor Baru. Pihak yang memberangkatkan (AP Master & calonya) memalsukan umur Wilfrida tiga tahun lebih tua. Dalam paspor, tanggal lahir Wilfrida 8 Juni 1989, padahal menurut surat baptis Gereja Katolik Paroki Roh Kudus di Belu, NTT, Wilfrida dilahirkan 12 Oktober 1993.
Wilfrida tengah menanti vonis pengadilan yang mungkin mengakhiri hidupnya. Ia terancam hukuman mati atas dakwaan pembunuhan dan melanggar Pasal 302 Penal Code (Kanun Keseksaan) Malaysia. Happy ending? Semoga.
Dul dan kekasihnya, Arin, bersama dua temannya, pergi makan malam di Social House, kafe bernuansa Barat, di Grand Indonesia, Jakarta Pusat (Sabtu, 7/9), sampai sekitar pukul 23.00 WIB. Waktu semakin larut, dan Arin meminta Dul mengantarkannya ke kawasan Pondok Indah Mall, untuk menunggu taksi. Terlalu lama mengantre taksi (hingga pukul 00.00 WIB), akhirnya Dul berkukuh mengantarkan Arin pulang di salah satu rumahnya di Cibubur, Jakarta Timur.
Malam itu adalah malam tergelap bagi hidup anak pesohor Ahmad Dhani tersebut. Sehabis mengantar pacarnya pulang, mobil Mitsubishi Lancer B 80 SAL yang disopiri Dul, ”terbang” ke arah sebaliknya setelah melaju kencang di KM 8 Tol Jagorawi. Mobil Dul menabrak secara frontal dua mobil lainnya. Akibat musibah tersebut, 7 orang tewas dan 8 orang lainnya menderita luka-luka.
Dul sendiri harus melewati perawatan intensif sampai dua minggu lebih. Dia terancam hukuman enam tahun. Masih belum cukup umur (12 tahun), dilimpahi fasilitas mewah, namun background keluarganya jauh dari kata ideal. Orang tuanya yang pasangan selebritis itu cerai. Mereka jadi bahan gosip. Kecelakaan Dul seperti kutukan. Drama!
Malala, Wilfrida, Dul, tak sendirian menghadapi dunia nyata layaknya bermain peran dalam film/sinetron tragedi. Ada Tasripin, bocah 13 tahun dari Banyumas, Jawa Tengah. Tanpa orang tua, bocah ini terpaksa meninggalkan sekolah demi menghidupi tiga adiknya. Beruntung, pemberitaan gencar media membantunya keluar dari kemungkinan nasib lebih buruk.
Perbudakan buruh di Kabupaten Tangerang yang menggemparkan itu melibatkan anak-anak remaja. Mereka disekap selama enam bulan, mirip suasana penjajahan di masa lalu. Anak-anak yang pada umurannya bebas bersikap alay (anak lebay) ini, bekerja seperti robot sehari semalam, di bawah ancaman majikan dan oknum aparat keamanan. Mereka digaji janji Rp 600 ribu perbulan. Puluhan anak remaja ini memang dibebaskan, seperti terbebas dari mimpi buruk. Tapi kisah mereka tanpa ending, karena penyelesaian kasusnya menguap ke udara.
Di tayangan televisi saban sore hari, ada banyak anak berjibaku dengan kehidupan. Situasinya sama, kemiskinan yang dikombinasi keadaan yang semakin menyulitkan, seperti kecacatan, penyakit, hingga ayah yang pergi tanpa pamit. Mereka sedikit tidak beruntung karena urung mendapatkan perhatian publik. Kisah mereka tak lebih dari rutinitas acara televisi. Penonton hanya berharap kemalangan macam apa lagi yang bisa disaksikan. Terlalu banyak kesedihan membuat sebuah kesedihan berlalu seperti angin menderu.
Sementara itu, pemerintah terlihat semakin peduli terhadap nasib anak-anak negeri. Mereka menyiapkan dana dan kebijakan yang bagus demi mengentaskan anak dari nasib malang. Pejabat-pejabat pun siap turun tangan langsung. Mereka akan segera membantu begitu ada pemberitaan kasus menyedihkan yang menimpa seorang anak. Tapi, perihal ini, kali ini, adalah benar-benar fiksi.

Mulyanah, ibu rumah tangga, tinggal di Weleri, Kendal
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Anak dan Realitas yang Melebihi Fiksi

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF