Iklan

Puisi-Puisi Lutfi Maulana

WAWASANews.com
Rabu, 23 Oktober 2013 | 19.38 WIB Last Updated 2013-10-23T12:38:10Z
Puisi

Wayang

malam ini langit tak lengas, hendak menitip kabut
pakem tabuh gending genggam kendali
memulai sakramen pertunjukan duniawi

dalang dalam riwayat mengepal gagang cempurit
lekas luruh nancap di gedebog
lakon mengembang gemulai dalam tabuh
menari tubuh lincah
hingga menyihir tajam musim

sinden melantun dalam syair karawitan
mengembun dalam urat
hendak menyemai daun doa yang tersirat
kesementaraan lakon diri
mengingat manusiamu dalam kendali Hyang

Purwokerto, 2013

Api Riwayat
- Abdul Wachid B.S.

kunang-kunang merindu perjamuan bulan
di tengah malam
yang jelaga hati meluruh
menjelma embun pagi
hingga membias bening raut wajah paling purna

pada daun riwayat telipat kata-kata
di atara garis nadir ujud mawar
yang hendak menempa besi jadi pisau
lantaran kulit nasib kian batu
hingga janin mimpi memercik kumparan api
dalam peraduan sunyi

Maret, 2013

Lagu Airmata
-Curug Bengkawah

Setiap ricik butir embun yang meluruh
menggincu bening arus yang tegak diwajah tebing.
rimbun batu meringkuk dingin
dalam cumbuan lumut tepi jeram.
meretas tatap igau yang kunang kunang

silir angin menirus riwayat beku
kala kelipatan daun tanggal diujung ranting musim.
lantas manusia terbenam lenyap.
hingga bunga di taman kesunyian
menyemai syair pedih dari jeritan sukma,
yang luput hanyut
lantaran terpelanting dalam buai
segelas tuak duniawi

Randudongkal, 2013

Melukis Wajah

Setapak ayunan langkah menderap
seperti cicak yang dikejar sunyi
tersesat di persimpangan malam
pada remang bulan ujung timur.

gigil kabut mencambuk tubuh
ingin ku ketuk rumah para pertapa
yang menyemai harum mantra pekasih,
diam-diam menyelinap
di muara hati yang gagap

saat itu angin mendesir kering kalbu
lantas ku petik sebilah ranting, meraut ujungnya
dan lekas menggaris sketsa wajahmu
pada sebidang tembok dingin yang retak disudut sukma
: dengan semangkuk darah

lalu ku akan abadikan pagi seujud kendi
yang mengucurkan riwayat rindu paling pisau
menjadi puisi,
dan ku lipat pada ruas-ruas buku jemari
hingga usia percintaan kita kusam diujung tanggal

Pemalang, 26 Juli 2013

Pertapa Malam

dalam kesempurnaan wajah malam
desir angin merayap diantara teduh purnama
mengirim gigil api yang menyengat ganda tubuh.

tak ada yang tajam mengeja keremangannya

bibir dalam beku, mengulum petuahnya masing-masing
hanya desah lirih kata-kata purbani
hingga sungai pun merekah dari pelupuk mata
dalam percumbuan
lantaran luka rajam menyayat pelataran sukma

Januari 2013

Kupu Malam

Deru waktu mengurungmu dalam lubang kesunyian
selalu bibir itu melempar senyum madu yang batu,
sayapmu melambai memanggil kupu jalang

kemudian kupu-kupu terbang dan hinggap di bunga-bunga
sekali alis berkedip melayanglah ia dalam surga dunia
api nestapa pasti lesap oleh dekapan raga

lekang belati mengiris lubuk hati
senantiasa tak acuh kau tiup hina dengan cinta
dalam sunyi menyala api,
nestapa kau jadikan debu-debu cinta

Pemalang, 2012

Lutfi Maulana, tinggal di sebuah dusun terpencil kota Pemalang. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bergiat di Komunitas Diskusi Sastra Pojok Stasiun dan Komunitas Penyair Institute.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi-Puisi Lutfi Maulana

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF