30 June, 2018

Kisah Konflik PNS Guru di Pedalaman Kebun Sawit

BACA DAN SHARE JIKA BERMANFAAT!

Oleh Febri Irawan

WAWASANews.com - Dalam Novel “Aku Masenja” karya Rumasi P ini, terdapat beberapa konflik yang terjadi, novel ini akan dikupas melalui pendekatan didaktis yang mana akan menelisik permasalahan permasalan dan pesan-pesan yang terdapat didalamnya.

Kisah berawal saat seorang wanita muda yang baru saja wisuda dan dia berniat untuk mendaftar tes CPNS. Wanita itu sangat anti terhadap Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), ini baru cerita awal. Cerita sebenarnya baru dimulai ketika masenja diterima sebagai CPNS dan ditempatkan di tempat yang cukup terpencil di bengkulu utara.

Di tempat itu dia mengalami banyak permasalahan yang belum pernah dia alami sebelumnya, bahkan kakak lelakinya pernah mengatakan bahwa hidup Masenja tanpa rintangan dan selalu mulus. Hal yang demikian itu membuat Masenja harus bekerja ekstra menangani berbagai masalahnya.

Dibengkulu Utara dia menyewa sebuah tempat tinggal milik seorang warga lokal yang memiliki kebun sawit, jaraknya cukup jauh dari tempat ia mengajar memang, namun rumah itulah yang menurutnya cukup aman, sebab setelah rumah itu hingga kesekolah jalanan sangat sepi dan sangat rawan untuk wanita muda yang belum menikah seperti dia.

Baru beberapa minggu masenja mengajar disekolah tersebut dia sudah dihadapkan dengan masalah: anak muridnya yang disinyalir mencuri dikelas lain yakni kelas 9. Masenja diberi amanat untuk menjadi wali disalah satu kelas 8,

Anak yang mencuri itu bernama bunga Kumala Sari, yang dituduh oleh seorang murid lelaki dari kelas 9 mencuri baju dan uang 15.000. Masenja pun menanjahkan kebenaran itu pada Bunga. Ia mengaku melakukan hal itu karena ia dan keluarganya sangat miskin.

Ia mencuri baju sebab, baju yang ia miliki sudah sobek dan kekecilan, dan sebagai seorang perempuan ia malu. Uang yang ia curi sebesar 15.000 itu dipergunakannya untuk membeli beras. Mendengar alasan itu, Masenja sangat bingung tentang apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi dia harus diberi hukuman, di sisi lain ia tidak tega mengetahui kebenarannya.

Wali kelas murid korban kelas 9 tersebut terus mendesak Masenja untuk menghukum, wali kelas 9 itu memang terkenal sangat disiplin dan keras. Masenja masih dalam kebingungan dan berjanji dalam beberapa hari akan menyelesaikan masalah ini, guru itu pun menyengir pedas dan berkata, “kita lihat saja”.

Setelah beberapa hari menimbang, akhirnya masenja memutuskan untuk memaafkan Bunga, karena dia sangat miskin dan bertekat untuk membina bunga agar tidak mencuri lagi. Keputusan Masenja itu menjadi perdebatan di dalam kantor, sebab banyak guru yang menganggap keputusan Masenja sama saja melegalkan pencurian bagi anak miskin, dan disekolah itu banyak anak dari kalangan keluarga kurang mampu.

Namun Masenja masih dalam keputusannya dan berjanji tidak akan ada lagi kejadian seperti ini. Hampir satu minggu ia menyelesaikanmasalah ini dan harus menghadapi tuntutan si korban dan ayah korban namun, akhirnya masalah itu akhirnya dapat ia selesaikan, namun kejadin itu membuat masenja menjadi cibiran diantara guru lain.

Seminggu setelah kejadian itu, belum reda cibiran guru-guru lain berhenti padanya, ia mendapati murid yang mesum di belakang sekolah dan salah satunya adlah murid kelasnya, kejadian ini menambah rumit dan pusing kepalanya, guru lain pun menanyakan apa yang akan dilakukan Masenja, apakah akan memaafkanya seperti kasus bunga dan membiarkan nama sekolah makin tercemar.

Kali ini masenja sangat geram, dan akan memberi sangsi, karena mesum bukanlah keterpaksaan. Seminggu lebih dia berkutat dengan masalah ini dibarengi omongan guru lain terhadapnya. Setelah kejadian itu selesai, seorang anak lelaki murid kelasnya mendatanginya dan berkata akan berdemo dengan teman-temanya mengenai tuntutan penggantian guru Bahasa Inggris yang tidak pernah mengajar hanya karena alasan rumahnya di kota.

Masalah yang datang ini membuat masenja sangat frustasi dia seolah diterjang ombak yang berganti-ganti, namun untuk masalah kali ini ia tidak menyalahkan tindakan anak-anak, karena menurutnya, hal yang wajar ketika muris menuntut hak mereka, kejadian yang lagi-lagi menjerat nama kelas ia pegang, membuat guru lain seolah sangat memusuhi Masenja, dia dianggap keras kepala dan tidak mendengat ujaran senior.

Guru-guru yang telah lama mengajar merasa tidak dihargai, dan menganggap masenja anak kecil. Senioritas sering dialami oleh masenja, ketika masalah mesum yang menimpa salah satu nak muridnya dibawa ke ruang kepala sekolah masenja yang dicecar habis-habisan oleh guru lain, guru senior itu seolah sedang mencari muka di hadapan kepala sekolah dan berlaku baik. Masenja sangat tertekan, dan akrirnya masalah itu diserahkan pada guru BK, tanpa campur tangan Masenja, masnja pun hanya bia mengiyakannya.

Selain masalah-masalah di sekolah, disekeliling lingkungan Masenja pun terjadi masalah. Koflik kepemilikan tanah yang terjadi di daerah mengajarnya cukup rumit, awalnya didaerah tersebut terdapat sebuah perusahaan yang besar dan memiliki lahan yang sangat luas namun mengalami kebangkrutan dan tanah tersebut terbengkalai selama bertahun-tahun, warga sekitar perusahaan pun meminta izin kepada pemerintah daerah setempat untuk mengolah tanah tersebut.

Setelah izin diberika pemerintah, masyarakatpun mengolah tanah terbengkalai itu menjadi perkebunan sawit, satu warga menggarap sekitar 25 hektar lahan bahkan ada beberapa warga yang menggarap sampai 100 hektar, termasuk bapak pemilik kos yang dihuni Masenja, walaupun pemerintah hanya memberi izin seluas 25 hektar namun banyak masyarakat yang melebihinya.

Setelah beberapa tahun, masyarakat sangat sejahtera dengan hasil panen sawit itu. Namun belakangan, masyarakat mendengar bahwa perusahaan pemilik tanah baru saja menjual tanahnya pada perusahaan lain yang bergerak pada bidang perkebunan sawit.

Masyarakat pun resah dengan kabar itu, sebab msyarakat telah mengolah tanah yang tidak karuan menjadi perkebunan yang kini menghidupi mereka dan itu pun atas izin pemerintah. Perlahan kabar itu benar benar terbukti, ada beberapa orang bermobil datang ke desa itu, berniat untuk membicarakan ganti rugi, terdengar aneh memang ketika pemilik tanah yang meminta tanahnya dikembalikan harus membayar, namun hal ini ibarat dua mata tombak bagi masyarakat, di satu sisi itu memang bukan tahah mereka, disisi lain mereka sudah bersusah payah mengolah tanah menjadi perkebunan yang menghasilkan.

Warga pun tidak terima, terlebih warga yang menggarap tanah diatas 25 hektar, hanya akan diberi ganti rugi sama dengan yang 25 hektar, karena izin dari pemerintah hanya 25 hektar. Masalah ini berakhir pada penangkapan beberapa penduduk yang membakar rumah karyawan perkebunan.

Dari masalah masalah yang diuraikan dalam novel “Aku Masenja”, pembejaran yang dapat dipetik adalah, sebagai seorang manusia kita jangan lah mudah berputus asa, digambarkan saat tokoh masenja dihapkan dengan masalah yang bertubi-tubi.

Selain itu, dalam menghadapi permasalah harus disertai dengan keiklasan. Kita mestinya menyadari betul bahwa cobaan dan masalah yang diberikan kepada kita pasti ada jalan keluarnya sehingga bisa tabah menjalaninya.

Dalam cerita tersebut juga disiratkan bahwa masalah tidak akan selesai jika di lawan dengan emosi, sikap itu hanya akan menambah masalah yang ada, seperti yang tergambar ketika pada penduduk yang membakar rumah karyawan karena tidak puas dengan kesepakatan.

Tuhan menciptakan masalah bersama solusi, menciptakan amarah bersama sabar, dan meciptakan hati yang kuat dan tabah bersama hati yang lemah. Sejatinya semua adalah pilihan kita sebagai manusia, kalah kemudia terpuruk bukanlah takdir, itu adalah pilihan, karena kita bisa memilih bangkit dan berjuang ketika kalah. Novel yang sangat meninspirasi, sangat banyak mengandung pesan tentang kehidupan serta semangat pantang menyerah yang di tunjukan tokoh utamanya yang dapat kita serap sebagai pembelajaran.

Febri Irawan, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UMM

0 komentar: