Iklan

Strategi Manajemen Dakwah di dalam Boarding School

Klikfakta.com
Senin, 11 Juni 2018 | 10.41 WIB Last Updated 2020-12-07T04:45:13Z


Oleh: Umarul Faruq*

Perkembangan ilmu dan teknologi membawa perubahan bagi kelangsungan hidup manusia. Akhlak menjadi pondasi utama dalam pembentukan pribadi manusia. Hal pertama yang harus di lakukan dalam pembentukan pribadi yang berahlak yaitu pembiasaan dan amanejem waktu yang baik. Pembentukan karakter adalah gerakan nasional dalam menciptakan suatu pendidikan sekolah untuk mengembangkan peserta didik dalam memiliki tanggung jawab, etika, moral, dan kepedulian dengan mengajarkan dan menerapkan karakter-karakter yang baik melalui penekanan pada nilai-nilai yang universal (umum).[1]

Pembentukan karakter merupakan suatu tujuan yang dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak yang baik serta melibatkan perasaan dan  tindakan. Di samping itu, pembentukan karakter memang harus mulai dibangun dari lingkungan rumah, dan dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah. Namun bagi sebagian keluarga, proses pembentukan karakter yang sistematis sangat sulit dilakukan, terutama sebagian orang tua yang mempunyai rutinitas padat dan tidak bisa maksimal untuk memberikan suatu pendidikan karakter kepada anaknya.

Menurut Undang- Undang No. 2/1989, Pasal 4 dijelaskan bahwa: “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangasa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta mempunyai budi pekerti baik, selain itu, memiliki pengetahuan, keterampilan kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang baik dan mandiri seta rasa tanggung jawab kemasyrakatan dan kebangsaan”.[2]

Proses pembinaan karakter seseorang dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui sistem boarding school. Boarding school adalah sistem sekolah berasrama, dimana peserta didik, guru dan juga pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah tersebut dalam kurun waktu yang telah di tentukan. Biasanya satu semester di selingi dengan berlibur satu bulan sampai menamatkan sekolahnya.[3] Boarding school mempunyai peranan penting untuk membentuk karakter kemandirian peserta didik, seperti sistem pembelajaran boarding school yang di terapkan di MA Negeri Demak, karena selain mendapatkan ilmu di sekolah, peserta didik juga mendapatkan pengetahuan-pengetahuan lain yang di berikan oleh guru di asrama. Dimulai dari pembinaan yang sederhana seperti dalam hal merapikan tempat tidur dan mencuci pakaian sendiri. Selain itu peserta didik juga dilatih untuk melakukan ibadah bersama-sama seperti sholat 5 waktu berjamaah, mengaji dan hafalan Al-Qur’an.

PEMBAHASAN

A.     Manajemen

Manajemen berasal dari kata “to manage” yang berarti mengatur. Manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai secara maksimal. Manajemen merupakan ilmu dan seni dalam mengatur, mengendalikan, dan memanfaatkan sumber daya yang ada didalam organisasi dengan memanfaatkan planning, organizing, actuanting, motivating, dan controlling agar organisasi dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Menurut Goerge R. Terry dalam Amirullah, Manajemen merupakan suatu rangkaian proses yang terdiri atas suatu tindakan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian yang telah dirumuskan melalui sumber daya manusia serta sumber-sumber yang lain. Menurut Marno dalam Jurnal Manajemen Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan menyebutkan bahwa manajemen adalah kemampuan dan ketrampilan untuk memperoleh suatu hasil pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orangn lain. Dalam arti luas, manajemen merupakan perilaku anggota dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.[4]

Dalam bahasa Arab, manajemen diartikan sebagai idaarah yang berarti mengatur. Al Qur’an menyebutkan makna manajemen dengan menggunakan kalimat yudabbiru yang berarti mengarahkan, melaksanakan, menjalankan, mengendalikan, mengatur, mengurus dengan baik, dan mengkoordinasikan. Sebagaimana firman Allah SWT. “Dia mengatur (yudabbiru) urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Sajadah: 05). Dari arti ayat tersebut bahwa Allah adalah pengatur alam semesta ini (manager). Keteraturan alam raya merupakan bukti kebesaran Allah SWT dalam mengelola alam raya ini. Namun, karena manusia diciptakan Allah SWT telah dijadikan khalifah di bumi maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya ini.[5]

Dalam pendekatan ilmu manajemen, manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan dan maksud yang nyata. Manajemen merupakan suatu kegiatan, pelaksanaannya adalah managing (pengelolaan) sedangkan pelaksananya disebut manajer atau pengelola. Manajemen bersangkutan dengan pencapaian tujuan. Hal ini mencakup penentuan tujuan, menentukan cara bagaimana tujuan itu harus dicapai, mengerti bagaimana memberikan motivasi kepada para anggota untuk mencapai tujuan, dan menentukan daya guna segala usaha yang dilakukan dalam mencapainya.

Dari pendekatan manajemen dengan apa yang dibuat oleh seorang manajer sebaiknya dilakukan aktivitas yang dibentuk oleh beberapa proses fungsi pokok sehingga dapat membentuk suatu proses manajemen yang unik. Fungsi- fungsi manajemen tersebut terdiri dari:

Pertama, planning (proses) adalah suatu cara yang sistematis untuk melakukan sesuatu. Terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang saling berkaitan dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Kedua, organizing (perencanaan). Perencanaan menunjukkan bahwa para manajer memikirkan tujuan dan kegiatannya sebelum melaksanakannya. Kegiatan mereka biasanya berdasar pada suatu cara, rencana atau logika, bukan asal tebak saja. Ketiga, staffing. Ini berarti para manajer itu mengkoordinir sumber daya manusia dan sumber daya lain yang dimiliki organisasi. Sejauh mana efektifnya suatu organisasi tergantung pada kemampuan mengerahkan sumber daya yang ada dalam mencapai tujuannya. Tentu saja dengan makin terpadu dan makin terarahnya pekerjaan akan menghasilkan efektifitas organisasi. Keempat, motivating (dukungan). Memberikan dukungan, mengarahkan atau menyalurkan perilaku manusia kearah tujuan yang ingin dicapai. Kelima, controlling (pengawasan). Para manajer berusaha meyakinkan bahwa organisasi bergerak dalam arah atau jalur tujuan. Apabila salah satu bagian dalam organisasi menuju arah yang salah, para manajer berusaha untuk mencari sebabnya dan kemudian mengarahkan kembali kejalur tujuan yang benar.[6]

B.    Dakwah

Kata dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu da’a yad’u uang berarti seruan, ajakan, dan panggilan. Dakwah mengajak kepada kebaikan sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqarah (2:186), artinya: “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, (maka jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang ber’doa apabila ia berdo’a kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKU agar mereka selalu dalam keadaan kebenaran.”[7]

Menurut Syukir dalam Jurnal Ilmu Dakwah, pada dasarnya dakwah islam adalah proses penyelenggaraan suatu usaha yang dilakukan dengan sadar dan sengaja, baik secara mengajak orang beriman dan menaati Allah SWT, atau memeluk agama islam dan juga menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar untuk mencapai tujuan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat. Dakwah menurut Saifudin Anshari adalah segala aktivitas yang mengubah situasi menjadi lebih baik menurut ajaran islam, juga merupakan usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan, manusia, dan seluruh umat.[8]

Terdapat tiga macam dalam penyampaian dakwah, yaitu:

Pertama, dakwah bi al-lisan, yaitu penyampaian dakwah yang lebih menunjukkan pada ceramaah agama secara lisan. Kedua, dakwah bi al-kitabah, yaitu penyampaian dakwah melalui tulisan seperti di buku, tulisan di surat kabar, majalah, koran, dan lain-lain. Ketiga, dakwah bi al-hal, yaitu dakwah yang mengarah kepada upaya mempengaruhi dan mengajak seseorang atau kelompok dengan keteladanan dan amal perbuatan.[9]

C.     Boarding School (Sekolah Berasrama)

a.     Pengertian Boarding School

Boarding school merupakan kata dalam bahasa Inggris yang terdiri dari dua kata yaitu boarding dan school, boarding yang artinya berarti menumpang dan school yang artinya adalah sekolah, kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi sekolah berasrama. Dimana peserta didik, guru dan juga pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada di dalam lingkungan sekolah dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

Boarding school dapat juga disebut sebagai sekolah yang menyediakan asrama untuk tempat tinggal dan juga tempat untuk mendidik peserta didiknya selama kurun waktu yang telah ditentukan. Suatu sekolah yang memiliki manageman sekolah berasrama biasanya mewajibkan peserta didiknya untuk tinggal dan dididik di asrama sesuai kurun waktu tertentu.[10]

b.     Tujuan Boarding School

Menurut Muhammad Faturrohman dan Sulistiyorini (2012: 20), boarding school mempunyai beberapa tujuan, yaitu:

1.     Untuk mencetak generasi muda yang islami, tidak hanya memberikan pelajaran umum, tetapi dilengkapi dengan pembelajaran agama yang memadai

2.     Untuk membentuk kedisiplinan, di dalam boarding school terdapat peraturan tertulis yang mengatur para peserta didik dari bangun tidur hingga tidur kembali.

3.     Untuk membentuk generasi yang be-rakahlakul karimah, seorang peserta didik yang tidak hanya cerdas dalam intelektual saja, tetapi juga mempunyai akhlak yang mulia.[11]

 

c.     Pola Pendidikan Boarding School

Menurut Irfan Setiawan (2013:6), secara umum boarding school menerapkan pola pendidikan bagi peserta didik, diantaranya sebagai berikut:

1.     Penjadwalan

Boarding school memiliki penjadwalan yang ketat untuk diikuti peserta didik. Miaslnya, peserta didik memiliki waktu tetap untuk tidur, bangun, makan, belajar di kelas dan kegiatan ekstrakurikuler yang direncanakan setiap hari. Sebagian besar boarding school mengharuskan peserta didik untuk harus mengikuti jadwal dan menjaga kedisipilinan dalam jadwal.

2.     Disiplin dalam tugas

Peserta didik harus memenuhi standar tertentu dalam pendidikan. Misalnya, di pesantren peserta didik harus menghafal beberapa juzz dalam Al-Qur’an atau peserta didik harus mengikuti suatu kegiatan pengasuhan tertentu untuk memenuhi syarat kenaikan kelas/tingkat.

3.     Aturan untuk perilaku yang tepat

Pada umumnya, boarding school memilki aturan perilaku yang tepat bagi peserta didik. Misalnya, peserta didik diwajibkan untuk mengikuti jadwal pendidikan, menjaga kamar agar tetap bersih dan rapi, menjaga kebersihan diri, hindari perkelahian, gunakan bahasa yang sesuai dan sopan tanpa memaki, menjaga tangan dari barang-barang milik pesrta didik lainnya, serta menjaga hubungan baik antar senior dan junior.

4.     Sanksi untuk yang berkelakuan buruk

Bila terdapat peserta didik yang melanggar peraturan, institusi pendidikan memberikan sanksi kepada peserta didik. Tindakann sanksi akan bervariasi, tergantung seberapa besar tingkat pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh peserta didik.[12]

d.     Problem Boarding School

Sutrisno mengungkapkan bahwa sampai saat ini sekolah-sekolah berasrama dalam pengamatannya masih banyak yang mempunyai berbagai persoalan yang belum dapat diatasi. Faktor-faktornya adalah sebagai berikut:

1.     Ideologi sekolah boarding school yang tidak jelas. Apakah religius, nasionalis, atau nasionalis-religius.

2.     Dikotomi guru sekolah vs guru asrama (pengasuh)

3.     Kurikulum pengasuhan yang tidak baku

4.     Sekolah dan asrama terletak dalam satu lokasi

e.     Pendekatan Menyeluruh Sebagai Solusi

Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi probelamtika yang dihadapi boarding school, yaitu:

1.     Perlu di desain boarding school yang menarik, nyaman, dan menyenangkan, sehingga peserta didik akan merasa senang dan nyaman ketika berada di boarding school

2.     Perlu adanya pendekatan yang menyeluruh, terutama dalam memahami peserta didik, karena setiap peserta didik mempunyai karakter yang berbeda-beda.

3.     Konsep boarding school tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas akademik dan fasilitas menginap tetapi juga menyediakan guru yang bisa berperan menggantikan orang tua ketika berad di boarding school untuk membentuk watak dan karakter.

4.     Perlu adanya sosok guru yang mempunyai keteladanan, ketulusan, dan kesigapan 1 x 24 jam, serta memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik.

5.     Manajemen sekolah dan model pengelolaanya harus lebih efektif, dan menerapkan manajemen berbasis sekolah secara konsisten.[13]

 

 

D.     Karakter

a.     Pengertian Karakter

Akar dari semua tindakan kejahatan dan keburukan terletak pada hilangnya karakter. Karakter yang kuat akan memberikan kemampuan kepada manusia untuk hidup bersama dalam kedamaian dan membentuk dunia yang dipenuhi dengan kebaikan dan kebijakan, yang bebas dari tindakan-tindakan yang tidak bermoral.

Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat. Individu yang mempunyai karakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan mampu bertanggung jawab dengan keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagai sebuah nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri dan orang lain yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan yang berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat, dan estetika. Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.[14]

E Mulyasa menyatakan bahwa, “karakarter adalah sifat alami seseorang dalam merespons situasi yang diwujudkan dalam perilakunya. Karakter juga dapat diartikan sebagai ciri-ciri pribadi yang melekat dan dapat temukan pada  perilaku individu yang bersifat unik, dalam arti secara khusus, ciri-ciri ini dapat membedakan antara satu invidu dengan individu yang lain”.[15]

Karakter berasal dari suatu nilai yang diwujudkan dalam bentuk perilaku anak. Jadi suatu karakter melekat dengan nilai dari perilaku yang diwujudkan oleh anak tersebut, tidak ada perilaku anak yang tidak bebas dari nilai. Dalam kehidupan manusia, sejak dahulu sampai saat ini, begitu banyak nilai yang ada di dunia. Kita dapat mengidentifikasi beberapa nilai yang penting bagi kehidupan anak, baik saat ini maupun di masa yang akan datang, baik untuk dirinya maupun untuk kebaikan lingkungan.[16]

Jadi menurut pengertian di atas, karakter adalah sebuah sifat dan ciri-ciri nyata yang dimiliki seseorang, yang berasal dari pembentukan yang didapatnya, melalui pengaruh lingkungan di sekitarnya, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Di era saat ini dakwah dapat dilakukan berbagai macam cara, baik secara langsung lewat mimbar ke mimbar, sekolahan, maupun lembaga lainnya, dan ada juga yang berdakwah melalui media sosial. Dakwah juga dapat dilakukan dengan hal-hal yang sederhana seperti memberikan contoh kegiatan maupun peraturan-peraturan yang ada di dalam boarding school. Untuk membentuk karakter kepribadian seorang siswa. Pembentukan karakter merupakan suatu tujuan yang dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak yang baik serta melibatkan perasaan dan  tindakan. Di samping itu, pembentukan karakter memang harus mulai dibangun dari lingkungan rumah, dan dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah.

Proses pembinaan karakter seseorang dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui sistem boarding school. Boarding school adalah sistem sekolah berasrama, dimana peserta didik, guru dan juga pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah tersebut dalam kurun waktu yang telah di tentukan.

Seperti sistem pembelajaran boarding school yang di terapkan di MA Negeri Demak, karena selain mendapatkan ilmu di sekolah, peserta didik juga mendapatkan pengetahuan-pengetahuan lain yang di berikan oleh guru di asrama. Dimulai dari pembinaan yang sederhana seperti dalam hal merapikan tempat tidur dan mencuci pakaian sendiri. Selain itu peserta didik juga dilatih untuk melakukan ibadah bersama-sama seperti sholat 5 waktu berjamaah, mengaji dan hafalan Al-Qur’an.

  

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi Manajemen Dakwah IAIN Kudus


[1] Muhammad Yaumi, Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar, dan Implementasi, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), 9-10.

[2] Muhammad Yaumi, Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar, dan Implementasi, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), 5.

[3] Andri Septilinda Susiyanti dan Subiyantoro, Manajemen Boarding School dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta, (Jurnal Pendidikan Madrasah, Vol. 2, No.2, November 2017), 331.

[4] Husaini, Happy Fitria, Manajemen Kepemimpinan Pada Lembaga Pendidikan Islam, JMKSP, Vol 4, No 1, 2019, Hlm. 45.

[5] Ahmad Khori, Manajemen Pesantren sebagai Khazanah Tonggak Keberhasilan Pendidikan Islam,  Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol 2, No 1, 2017. Hlm. 131-132.

[6] George R. Terry, L.W. Rue, Dasar-Dasar Manajemen. (Jakarta: Bumi Aksara, 2019), Hlm.1-8.

[7] Zulkarnaini, Dakwah Islam Di Era Modern, Jurnal Risalah, Vol. 26, No. 3, 2015, Hlm. 154.

[8] Hasan Bastomi, Dakwah Bil Hikmah Sebagai Pola Pengembangan Sosial Keagamaan Masyarakat, Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 36, No. 2, 2016, Hlm. 340-341.

[9] Zulkarnaini, Dakwah Islam Di Era Modern, Jurnal Risalah, Vol. 26, No. 3, 2015, Hlm. 155.

[10] Hendriyenti, Pelaksanaan Program Boarding School dalam Pembinaan Moral Siswa di SMA Taruna Indonesia Pelembang, (Jurnal Ta’dib, Vol. 19, No. 02), 208.

[11] Andri Septilinda Susiyanti dan Subiyantoro, Manajemen Boarding School dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta, (Jurnal Pendidikan Madrasah, Vol. 2, No.2, November 2017), 331.

[12] Irfan Setiawan, Pembinaan dan Pengembangan Peserta Didik pada Institusi Pendidikan Berasrama, (Yogyakarta: Smart Writing, 2013), 8-9.

[13] Hendriyenti, Pelaksanaan Program Boarding School dalam Pembinaan Moral Siswa di SMA Taruna Indonesia Pelembang, (Jurnal Ta’dib, Vol. 19, No. 02), 210-211.

[14] Muchlas Samani, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2017), 41-42.

[15] Amirullah Syarbini, Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), 29.

[16] Dharma Kesuma,  Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), 11.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Strategi Manajemen Dakwah di dalam Boarding School

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF