![]() |
| Cover Terjemah Tafsir Ibnu Katsir |
WAWASANews.com - Lubabut Tafsiir min Ibni Katsir, yang lebih populer di Indonesia dengan judul Tafsir Ibnu Katsir, merupakan salah satu karya tafsir masyhur dan banyak dijadikan rujukan dalam kajian tafsir. Karya Al-Hafizh Isma‘il bin ‘Umar bin Katsir Ad-Dimasyqi (w. 774 H), seorang ulama besar yang dikenal bukan hanya sebagai mufasir, tetapi juga sebagai ahli hadits dan sejarah.
Edisi terjemahan Indonesia diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi‘i, dengan penelitian/tahqiq oleh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. Hadir dalam 8 jilid lengkap. Baca: Download Terjemah Tafsir Fi Zhilalil Qur'an (12 Jilid).
Salah satu keistimewaan paling menonjol dari Tafsir Ibnu Katsir adalah metode tafsir bil-ma'tsur, yaitu menjelaskan Al-Qur'an berdasarkan riwayat dan sumber-sumber yang bersandar pada Al-Qur'an, Sunnah, perkataan para sahabat, serta penjelasan tabi'in.
Ibnu Katsir sangat menekankan prinsip bahwa ayat Al-Qur'an sebaiknya pertama-tama dijelaskan dengan ayat Al-Qur'an lainnya. Jika penjelasan tersebut tidak ditemukan, ia kemudian merujuk kepada hadits Nabi Saw, lalu kepada pendapat para sahabat dan ulama generasi awal. Metode ini menjadi salah satu karakter utama kitabnya. Link downloadnya ada DISINI:
- Download Terjemah Tafsir Ibnu Katsir 01
- Download Terjemah Tafsir Ibnu Katsir 02
- Download Terjemah Tafsir Ibnu Katsir 03
- Download Terjemah Tafsir Ibnu Katsir 04
- Download Terjemah Tafsir Ibnu Katsir 05
- Download Terjemah Tafsir Ibnu Katsir 06
- Download Terjemah Tafsir Ibnu Katsir 07
- Download Terjemah Tafsir Ibnu Katsir 08
Ibnu Katsir sangat perhatian terhadap kualitas riwayat. Latar belakangnya sebagai seorang ahli hadits sangat terasa dalam kitab ini. Dalam berbagai pembahasan, ia tidak hanya mengutip riwayat, tetapi juga memberikan penilaian terhadap hadits atau atsar, membandingkan beberapa pendapat, dan melakukan tarjih terhadap pendapat yang dianggap lebih kuat.
Hal menarik lainnya adalah perhatian Ibnu Katsir terhadap kisah-kisah Israiliyyat. Riwayat semacam ini memang ditemukan dalam tradisi tafsir sebelumnya, terutama ketika menjelaskan kisah para nabi dan umat terdahulu. Ibnu Katsir tidak begitu saja menerima semua riwayat tersebut. Ia memberikan catatan, kritik, atau peringatan terhadap riwayat yang dianggap bermasalah. (wnn-ab)





