![]() |
| Terjemah Al-Mustakhlish Said Hawwa. |
WAWASANews.com - Terjemah Kitab Al-Mustakhlish fi Tazkiyatil Anfus (Menyucikan Jiwa) karya Sa'id Hawwa merupakan karya yang sangat menarik bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana seorang Muslim seharusnya melakukan perjalanan menuju pembersihan jiwa dan pembentukan pribadi yang dekat dengan Allah.
Dengan ketebalan mencapai 658 halaman PDF dan diterbitkan oleh Robbani Press, buku ini bukan sekadar kumpulan nasihat tentang akhlak atau ibadah, melainkan sebuah pembahasan yang luas mengenai proses tazkiyatun nafs. Sa'id Hawwa dikenal banyak memberikan perhatian pada persoalan pendidikan ruhani, sehingga buku ini dapat menjadi bacaan serius bagi pembaca yang merasa bahwa persoalan terbesar manusia bukan hanya kurangnya pengetahuan, tetapi juga jiwa yang belum berhasil dididik dan dibersihkan.
Baca: Terjemah Kitab Khulashoh Madad Nabawy (Dzikir Harian Ba'alawi)
Dalam kerangka pemikiran Sa'id Hawwa, penyucian jiwa tidak cukup dilakukan dengan membaca nasihat atau mengetahui teori tentang akhlak. Jiwa membutuhkan latihan, pembiasaan, mujahadah, dzikir, ibadah, dan evaluasi diri secara terus-menerus. Manusia memiliki kecenderungan kepada hawa nafsu, cinta dunia, kesombongan, kemarahan, iri hati, dan berbagai penyakit batin lainnya. Silakan download via link di bawah ini:
Ada proses panjang untuk mengenali penyakit hati, memahami sumbernya, kemudian berusaha mengobatinya dengan berbagai amal dan latihan ruhani. Di sinilah buku ini terasa relevan: ia mengajak pembaca tidak hanya bertanya “apa yang harus saya lakukan?”, tetapi juga “apa yang sebenarnya terjadi di dalam jiwa saya?”
Seorang yang ingin memperbaiki dirinya harus memperhatikan lahir dan batin sekaligus. Shalat misalnya, tidak cukup hanya dikerjakan sebagai kewajiban formal, tetapi harus memiliki pengaruh terhadap hati dan perilaku. Demikian pula dzikir bukan sekadar gerakan lisan, melainkan sarana untuk menjaga kesadaran bahwa Allah senantiasa hadir dalam kehidupan.
Baca: Terjemah Kitab Uqala'ul Majanin (Kebijaksanaan Orang-Orang Gila)
Hal lain yang membuat buku ini layak dibaca adalah keberaniannya membawa pembaca masuk ke wilayah muhasabah. Kita sering lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada mengakui penyakit yang ada dalam diri sendiri. Padahal, perjalanan menuju Allah dimulai dengan keberanian untuk mengenali diri: apa yang membuat kita marah, mengapa kita senang dipuji, mengapa hati mudah iri, mengapa amal terkadang ingin diketahui orang lain, dan mengapa kecintaan kepada dunia sering mengalahkan persiapan menuju akhirat.
Sa'id Hawwa mengajak pembaca melihat bahwa penyucian jiwa bukan berarti menganggap diri sudah suci, melainkan terus-menerus menyadari kekurangan dan berusaha memperbaikinya. Karena itu, buku ini dapat menjadi cermin panjang bagi siapa saja yang ingin serius melakukan pembenahan diri.
Walakhir, Terjemah Kitab Al-Mustakhlish fi Tazkiyatil Anfus adalah buku yang sangat layak didownload dan dibaca sampai selesai, terutama bagi santri, penggiat tasawuf, pendidik, aktivis dakwah, maupun siapa saja yang sedang mencari jalan untuk memperbaiki kualitas kehidupan spiritualnya. (wn-ab)






