![]() |
| Biografi singkat Syaikhul Islam Izzuddin bin Abdus Salam. |
WAWASANews.com - Nama lengkapnya adalah Al-‘Allamah As-Syaikh Al-Imam Al-Faqih Al-Mujtahid Hujjatul Islam, Syaikhul Islam Izzuddin Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdus Salam bin Abi Al-Qasim bin Hasan Al-Sulami Al-Dimasyqi Al-Syafi’i. Syaikh Izzuddin bin Abdus Salam dikenal dengan gelar Sulthanul Ulama, yang berarti Sultan atau pemimpin para ulama.
Ia lahir di Damaskus, Suriah, pada 577 atau 578 Hijriah, bertepatan dengan sekitar 1181–1182 Masehi dan wafat di Kairo, Mesir, pada 660 Hijriah atau 1262 Masehi. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam madzhab Syafi’i yang dikenal luas karena keluasan ilmu fiqih, ushul fiqih, hadits, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.
Beliau belajar kepada beberapa ulama, di antaranya Syaikh Fakhruddin bin Asakir dalam bidang fiqih dan Saifuddin Al-Amidi dalam bidang ushul fiqih. Lalu ada Syaikh Ahmad Al-Mawazini, Barakat bin Ibrahim Al-Khusyi, Al-Qasim bin Asakir, Umar bin Thabriz, Hanbal bin Abdullah, dan beberapa guru yang lain. Ia kemudian mengajar, berkhutbah, serta membimbing banyak murid.
Baca: Biografi Yusuf Al-Qardhawi: Dari Desa Shafat Thurab hingga Menjadi Ulama' Berpengaruh
Sebagian muridnya kemudian dikenal sebagai ulama yang cukup masyhur, seperti Al-Dimyathi, Ibn Daqiq Al-Id, Syihabuddin Ibn Farh, Al-Yunaini, Ibn Bahram Al-Halabi, dan lain-lain. Setelah berpindah dari Damaskus ke Mesir, ia dipercaya menjalankan tugas keagamaan dan kehakiman.
Salah satu sumbangan intelektual terpentingnya adalah kitab Qawa'id Al-Ahkam fi Mashalih Al-Anam, yang membahas kaidah-kaidah hukum Islam dengan perhatian besar pada kemaslahatan manusia. Pemikirannya juga kerap dibahas dalam kajian maqashid syariah, yakni pembahasan mengenai tujuan dan hikmah yang hendak diwujudkan oleh ketentuan-ketentuan syariat. Karena itu, warisan keilmuannya tetap dipelajari dalam kajian fiqih, ushul fiqih, dan pemikiran hukum Islam hingga sekarang.
Baca: Biografi Singkat Syaikh Imran N. Hosain (Ulama' Trinidad-Tobago Ahli Eskatologi Islam)
Beliau memiliki riwayat panjang dalam tradisi ilmu dan ijtihad. Ia dikenal istiqamah dalam memperjuangkan kebenaran dan jihad. Dikenal luas pada zamannya sebagai salah satu ulama besar madzhab Syafi'i. Ia dikenal teguh memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Selain itu, dikenal pula sebagai alim yang wara’ dan pemberani.
Al-Asnawi mengatakan, Syaikh Izzuddin bin Abdus Salam adalah syaikh Islam yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Ia menganggap rendah kekuasaan dunia dan para penguasa dunia. Ia juga bersikap tegas kepada para raja dan bangsawan pada zamannya. Sepanjang hidupnya, beliau telah menulis beberapa karya tulis. Diantaranya di bawah ini (bisa Anda unduh jika ada linknya tersedia):
- Ahkam al-Jihad wa Fadhlih
- Al-Alghaz fi al-Nahw
- Al-Anwa‘
- Al-Farq baina al-Islam wa al-Iman
- Al-Fatawa al-Majmu'ah
- Al-Fatawa al-Maushuliyah
- Al-Fatawa al-Mishriyah
- Al-Fawa’id fi Ikhtishar al-Maqashid
- Al-Isyarah ila al-Ijaz fi Ba‘dhi Anwa‘ al-Majaz
- Al-Jam'u baina al-Hawi wa al-Nihayah
- Al-Qawa’id al-Sughra
- Al-Radd ‘ala al-Mubtadi’ wa al-Hasyawiyah
- Al-Targhib fi Shalat al-Ragha’ib
- Amali al-‘Izz
- Bayanu Ahwal al-Nas Yawm al-Qiyamah
- Bidayah al-Sul fi Tafdhil al-Rasul
- Fawa’id al-Balwa wa al-Mihan
- Majlis fi Dzamm al-Hasyisyah
- Manasik al-Hajj
- Maqashid al-Ri‘ayah
- Maqashid al-Shalah
- Maqashid al-Shiyam
- Milhah al-I‘tiqad
- Mukhtashar Majaz al-Qur’an
- Mukhtashar Shahih Muslim
- Nubdzah Mufidah fi Adab al-Shuhbah
- Qashidah min 33 Bait min Bahr al-Wafir fi Madh al-Ka‘bah
- Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam
- Risalah fi ‘Ilm al-Tawhid
- Risalah fi al-Quthb wa al-Ghawts wa al-Abdal wa Ghayruhum
- Syajaratul Ma'arif wal Ahwal
- Syarh Asma’ Allah al-Husna
- Syarh Hadits la Dharara wa la Dhirara
- Syarh Muntaha al-Su’al wa al-Amal fi ‘Ilm al-Jadal wa al-Ushul
- Tafsir Al-Qur’an — ringkasan atas al-Nukat wa al-‘Uyun karya al-Mawardi
- Targhib Ahl al-Islam fi Sukna al-Syam
- Washiyah al-‘Izz Qabla Mawtihi
Disebutkan bahwa beliau meninggal sebagai seorang zahid pada 660 Hijriah. Sebagian riwayat lain menyebutkan tahun 659 Hijriah di Kota Al-Mahrusah. Jenazahnya dimakamkan di lembah Gunung Al-Muqaththam. Di tempat itu terdapat pemakaman yang penjaganya tidak mengizinkan siapapun dikuburkan di sana kecuali dengan kuburan yang sederhana, tanpa dinding, tanpa hiasan, dan tanpa bentuk kemegahan lainnya.
Dengan begitu, sang zahid ini tetap menjadi zahid hingga akhir hayatnya dan di kehidupan berikutnya. Semoga beliau mendapatkan surga Firdaus, kenikmatan yang paling nikmat, dan taman surga yang paling luas. (wn-ab)






