Iklan

Biografi Yusuf Al-Qardhawi: Dari Desa Shafat Thurab hingga Menjadi Ulama' Berpengaruh

WAWASANews.com
Sabtu, 19 September 2026 | 20.15 WIB Last Updated 2026-09-19T13:19:41Z
Paket Ebook 32 GB

biografi intelektual syaikh yusuf al-qardhawi
Biografi singkat Syaikh Yusuf Al-Qardhawi.

WAWASANews.com - Yusuf Al-Qardhawi lahir di desa Shafat Thurab, Mesir bagian Barat, pada 9 September 1926 dan wafat pada 26 September 2022 (96 tahun). Ia tumbuh dari keluarga yang taat beragama. Masa kecilnya tidak sepenuhnya berjalan mudah. Ketika baru berusia dua tahun, ayahnya meninggal dunia sehingga ia kemudian diasuh oleh pamannya. Namun, keadaan tersebut tidak menghalangi perjalanan pendidikannya. 

Justru sejak usia muda, Yusuf Al-Qardhawi menunjukkan kesungguhan dalam belajar dan menghafal Al-Qur'an. Dalam usia sekitar 10 tahun, ia telah berhasil menghafalkan Al-Qur'an 30 juz. Kemampuan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan intelektualnya di kemudian hari.

Pada usia tujuh tahun, Yusuf Al-Qardhawi diserahkan untuk belajar di sekolah dasar Al-Ilzamiyah yang berada di bawah Departemen Pendidikan Mesir. Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut, ia melanjutkan pendidikan tingkat SMP dan SMU di sekolah lanjutan al-Azhar di Thantha. Lingkungan pendidikan Al-Azhar memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadiannya. 

Baca: Paket Terjemah Ushuludddin, Aqidah dan Amaliyah

Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ushuluddin Al-Azhar dan berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat terbaik pada tahun 1952-1953. Setelah itu, ia masih melanjutkan pendidikan kejuruannya dalam bidang Bahasa Arab selama dua tahun. Dan pada tahun 1957 ia meneruskan studi di sebuah lembaga riset dan penelitian masalah-masalah Arab selama tiga tahun hingga memperoleh diploma dalam bidang sastra dan bahasa. Setelah perjalanan pendidikan tersebut, ia kemudian mendaftarkan diri pada tingkat pascasarjana di Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir hadits, Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Tokoh yang Mempengaruhi Yusuf Al-Qardhawi

Perjalanan intelektual Yusuf Al-Qardhawi juga tidak dapat dilepaskan dari tokoh-tokoh yang dikaguminya. Salah satu yang paling kuat adalah Hasan Al-Banna, pendiri dan pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir. Sejak muda, Yusuf Al-Qardhawi sering mendengarkan ceramah Hasan Al-Banna dan mengikuti gerakannya. Pengaruh tersebut tampak dalam perhatian besar Yusuf Al-Qardhawi terhadap pendidikan, pembinaan manusia, kehidupan umat, serta pentingnya menghubungkan pemahaman agama dengan realitas kehidupan. 

Selain Hasan al-Banna, ia juga mengagumi Muhammad Al-Ghazali, seorang ulama' yang ia hormati karena pemikiran-pemikirannya. Ada pula Syaikh Bakhi Al-Khauli, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang dikaguminya karena fatwa dan pemikirannya. Sementara itu, sosok Mahmud Syaltut mendapat penghormatan karena peranannya dalam dunia pendidikan Islam sebagai Rektor Al-Azhar.

Baca: Paket Terjemah Gaib, Hari Akhir dan Futurisme

Pengaruh intelektual Yusuf Al-Qardhawi juga datang dari tokoh-tokoh lain dengan latar belakang pemikiran yang beragam. Ia mengagumi Abdul Halim Mahmud, dosen yang mengajarnya di Fakultas Ushuluddin dalam bidang filsafat. Ia juga menghormati Ibnu Taimiyah karena kontribusinya dalam pemikiran Islam. Sayyid Muhammad Rasyid Ridha menjadi tokoh lain yang dihargainya, terutama karena keluasan wawasan dan keinginannya untuk kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah. 

Sementara Abu Al-Hasan Al-Nadawi, seorang tokoh modern yang dikenal dengan pemikiran integratifnya, juga menjadi salah satu sosok yang memengaruhi pemikiran Yusuf Al-Qardhawi. Dari deretan tokoh tersebut terlihat bahwa perjalanan intelektual Yusuf Al-Qardhawi tidak dibangun dari satu sumber pemikiran saja. Ia menyerap berbagai gagasan dari ulama' dan pemikir yang menurutnya memiliki kontribusi penting bagi perkembangan pemikiran Islam.

Kontribusi Intelektual Yusuf Al-Qardhawi

Salah satu hal yang menarik dari sosok Yusuf Al-Qardhawi adalah produktivitasnya dalam mengembangkan pemikiran keislaman. Ia tidak hanya berbicara mengenai satu bidang tertentu, tetapi menghasilkan pemikiran dalam berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan umat. Di antara corak pemikirannya adalah persoalan ijtihad, fatwa, zakat, pemahaman hadits, hingga persoalan sosial dan kehidupan perempuan. 

Baca: Paket Terjemah Kutubus Tis'ah (9 Kitab Hadits Utama 57 Jilid)

Ijtihad, misalnya, itu dipandang sebagai sesuatu yang memiliki legitimasi dalam Islam dan perlu diterapkan dalam konteks kehidupan yang global dan dinamis. Dalam menentukan hukum Islam, ia menggunakan hadits dan qiyas sebagai bagian dari metode pengambilan hukum.

Dalam persoalan fatwa, keluasan perhatian Yusuf Al-Qardhawi terlihat dari beragam persoalan yang dikaji. Salah satu contoh yang ditampilkan adalah pandangannya mengenai hak politik perempuan. Dalam fatwanya, Yusuf Al-Qardhawi memperbolehkan perempuan untuk memilih dalam pemilihan umum maupun mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan bentuk partisipasi politik lainnya. 

Contoh lain adalah fatwa mengenai zakat investasi. Ia membagi zakat investasi ke dalam dua kategori, yaitu harta benda tidak bergerak dan harta benda bergerak. Untuk harta benda tidak bergerak, zakatnya disamakan dengan zakat pertanian, yaitu 5 persen atau 10 persen dari penghasilannya. Sedangkan untuk harta benda bergerak, zakatnya disamakan dengan harta perdagangan, yaitu setelah mencapai nisab 85 gram emas dengan pungutan 2,5 persen.

Baca: Terjemah Fathul Bari Syarah Bukhari (36 Jilid)

Perhatian yang sama juga terlihat dalam pembahasannya mengenai zakat pertanian dan hasil bumi. Yusuf Al-Qardhawi memandang zakat pertanian sebagai kewajiban dengan nisab 5 persen atau 10 persen dari hasil bersih yang diperoleh. Di balik pembahasan tersebut tampak salah satu karakter penting pemikirannya, yaitu usaha untuk membawa persoalan fikih ke dalam konteks kehidupan yang terus berkembang. Baginya, persoalan agama tidak hanya berhenti pada pengulangan jawaban dari masa lalu, tetapi membutuhkan kemampuan untuk memahami persoalan baru dengan perangkat keilmuan yang memadai.

Metode Memahami Hadits Menurut Yusuf Al-Qardhawi

Hal tersebut semakin jelas dalam metode Yusuf Al-Qardhawi ketika memahami hadits. Salah satu prinsip yang ditampilkan adalah memahami hadits sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an. Al-Qur'an ditempatkan sebagai sumber hukum Islam yang pertama sebelum hadits. Karena itu, apabila terdapat hadits yang secara lahiriah dianggap bertentangan dengan Al-Qur'an, persoalannya perlu diteliti kembali. Kemungkinan yang dipertimbangkan adalah hadits tersebut tidak shahih atau pemahaman manusia terhadap hadits tersebut yang belum tepat. 

Metode lainnya adalah upayanya menggabungkan hadits-hadits yang tampak bertentangan. Adanya hadits yang tampak bertentangan dengan hadits lainnya tidak serta-merta berarti salah satu hadits tersebut harus ditinggalkan. Begitu menurut Al-Qardhawi. Persoalannya perlu dicari jalan keluarnya melalui penggabungan atau kompromi sehingga berbagai riwayat dapat ditempatkan sesuai konteksnya. 

Baca: Terjemah Tamamul Minnah Shahih Fiqih Sunnah (3 Jilid)

Yang tidak kalah penting dari Al-Qardhawi ialah metode memahami hadits dengan memperhatikan latar belakang, situasi, kondisi, dan tujuan dari hadits tersebut. Yusuf Al-Qardhawi melihat bahwa sebagian hadits sulit dipahami apabila dilepaskan dari konteks kemunculannya. Karena itu, seorang pembaca perlu mengetahui keadaan yang melatarbelakangi suatu hadits, situasi ketika hadits disampaikan, serta tujuan yang hendak dicapai. Pendekatan ini berangkat dari kesadaran bahwa dalam perjalanan sejarah, sebuah teks dapat mengalami pergeseran cara pemahaman ketika dipindahkan dari konteks asalnya ke konteks kehidupan yang berbeda.

Dari keseluruhan perjalanan tersebut, terlihat bahwa Yusuf Al-Qardhawi merupakan sosok yang dibentuk oleh perpaduan antara pendidikan Al-Azhar, hafalan dan penguasaan Al-Qur'an sejak usia muda, pengalaman belajar dalam berbagai bidang, serta perjumpaan intelektual dengan banyak ulama dan pemikir. 

Hasan Al-Banna memberikan pengaruh dalam pembentukan semangat perjuangan dan pendidikan umat. Muhammad Al-Ghazali memperkaya wawasan pemikirannya. Tokoh-tokoh seperti Bakhi al-Khauli, Mahmud Syaltut, Abdul Halim Mahmud, Ibnu Taimiyah, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, dan Abu Al-Hasan al-Nadawi juga menjadi bagian dari lanskap intelektual yang ia kagumi. 

Kesemuanya ikut membentuk cara pandangnya terhadap Islam sebagai agama yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus berhubungan erat dengan persoalan kehidupan. Pengaruh para tokoh bisa Anda lacak sendiri melalui karya-karya Syaikh Yusuf Al-Qardhawi yang bisa Anda baca resensinya dengan klik judul-judul berikut ini: 

  1. Terjemah - Min Hudal Islam Fatawa Muasshirah Al-Qardhawi (3 Jilid)
  2. Terjemah - Al-Fatwa Bainal Indibath wat Tasayyub
  3. Terjemah - Al-Halal wal Haram fil Islam
  4. Terjemah - Al-Iman wal Hayat
  5. Terjemah - Al-Khasha'ishul Ammah Lil Islam
  6. Terjemah - Al-Waqtu fi Hayatil Muslim
  7. Terjemah - Ar-Rasul wal Ilmu
  8. Terjemah - As-Shahwah Islamiyah Bainal Juhud wat Tatharruf
  9. Terjemah - As-Shabru fil Qur'an
  10. Terjemah - As-Siyasah As-Syar'iyyah
  11. Terjemah - Aulawiyatul Harakah Islamiyah
  12. Terjemah - Fiqhul Islami Bainal Ashalah wat Tajdid
  13. Terjemah - Fiqih Shiyam
  14. Terjemah - Fiqih Zakat
  15. Terjemah - Fiqih Aqalliyat
  16. Terjemah - Ghairul Muslimin fil Mujtama' Al-Islami
  17. Terjemah - Jilun Nashr Al-Mansyud
  18. Terjemah - Kaifa Nata'amalu Maat Turots wat Tamadzhub
  19. Terjemah - Kaifa Nata'amalu Ma'as Sunnah
  20. Terjemah - Min Fiqhid Daulah fil Islam
  21. Terjemah - Tarbiyah Islamiyah wa Madrasah Hasan Al-Banna

Anda bisa memiliki semuanya dengan klik link: Download Kumpulan Terjemah Karya Dr. Yusuf Al-Qardhawi, atau pilih link lain di bawah ini:

  1. Buku Fiqih (11 Judul) Syaikh Yusuf Al-Qardhawi
  2. Buku Harakah (10 Judul) Syaikh Yusuf Al-Qardhawi


Anak Desa yang Memikat

Yusuf Al-Qardhawi, seorang anak desa yang berhasil menempuh pendidikan tinggi di Al-Azhar. Di balik perjalanannya tersebut terdapat proses panjang pembentukan seorang pemikir yang sejak kecil telah dekat dengan Al-Qur'an, kemudian tumbuh dalam lingkungan pendidikan Islam, memperluas wawasan melalui bahasa dan sastra Arab, riset, tafsir dan hadits, serta terus berinteraksi dengan pemikiran para ulama. 

Dari sana lahir perhatian yang luas terhadap fikih, fatwa, hadits, zakat, ijtihad, pendidikan, dan berbagai persoalan kehidupan umat. Ia berusaha menjadikan ilmu yang dipelajarinya tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi perangkat untuk memahami persoalan umat secara lebih luas dan kontekstual.

Baca: Terjemah Takwil Mukhtalaf Hadits Ibnu Qutaibah

Karena itu, ketika membaca karya-karya Yusuf Al-Qardhawi, pembaca sebenarnya sedang berhadapan dengan hasil dari perjalanan intelektual yang panjang. Gagasan tentang ijtihad, fatwa, zakat, hak politik perempuan, maupun metode memahami hadits tidak lahir secara tiba-tiba. Semuanya berkaitan dengan latar pendidikan, guru-guru dan tokoh yang dikaguminya, serta perhatian besarnya terhadap hubungan antara teks agama dan realitas kehidupan. 

Inilah yang membuat kisah Yusuf Al-Qardhawi menarik untuk dipelajari: bukan semata-mata untuk mengetahui kapan ia lahir, di mana ia belajar, atau siapa saja tokoh yang memengaruhinya, tetapi untuk memahami bagaimana sebuah perjalanan hidup dapat membentuk cara seseorang membaca agama, mengembangkan pemikiran, dan merespons persoalan umat. (wn-ab)

Kitab Kuning Makna Pesantren dan Pegon
Paket 498 Buku dan Jurnal
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Biografi Yusuf Al-Qardhawi: Dari Desa Shafat Thurab hingga Menjadi Ulama' Berpengaruh

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF