![]() |
| Terjemah Demi Waktu. |
WAWASANews.com - Buku Demi Waktu karya Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi mengajak kita melihat waktu dari sudut pandang lebih dalam daripada sekadar persoalan manajemen waktu. Judul aslinya, Al-Waqtu fi Hayatil Muslim, berarti Waktu dalam Kehidupan Seorang Muslim.
Bagi Al-Qaradhawi, waktu adalah hakikat dari kehidupan manusia itu sendiri. Karena itu, kehilangan waktu pada dasarnya berarti kehilangan bagian dari kehidupan yang tidak mungkin dikembalikan. Gagasan inilah yang menjadi fondasi utama buku dan membuat pembahasannya. Jika ingin download, silakan klik link di bawah ini:
- Download Terjemah Al-Waqtu fi Hayatil Muslim (Demi Masa), atau
- Download Buku Demi Masa Yusuf Al-Qardhawi
Di buku ini, Al-Qaradhawi menghubungkan persoalan waktu dengan Al-Qur'an, hadits, ibadah, kehidupan para salaf, serta tanggung jawab manusia kepada Allah. Waktu tidak dibahas sebagai teknik produktivitas duniawi semata, tetapi ia adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Al-Qaradhawi mengingatkan bahwa perhatian Islam terhadap waktu sangat besar, bahkan kehidupan seorang Muslim dibentuk oleh berbagai ibadah yang secara tidak langsung mendidiknya untuk menghargai perjalanan waktu: shalat menjadi pengingat harian, Jumat menjadi pengingat mingguan, Ramadhan menjadi pengingat tahunan, dan haji menjadi salah satu pengingat perjalanan umur.
Baca: Terjemah Tafsir Ibnu Katsir (8 Jilid)
Al-Qaradhawi di buku ini tidak sekadar menyuruh pembaca membuat jadwal atau mengurangi aktivitas yang tidak berguna, tetapi mengajak memahami berbagai sikap manusia terhadap perjalanan zaman. Ada orang yang terlalu tenggelam dalam masa lalu, ada yang hanya mengejar masa depan, ada pula yang terjebak menikmati saat ini tanpa memikirkan akibatnya.
Menurut Al-Qaradhawi, sikap yang tepat adalah mampu mengambil pelajaran dari masa lalu, memanfaatkan masa kini, sekaligus mempersiapkan masa depan. Ia juga mengajak pembaca menyadari karakter waktu: cepat berlalu, tidak dapat dikembalikan, dan menjadi wadah bagi seluruh amal manusia.
Baca: Terjemah Fathul Bari Syarah Bukhari (36 Jilid)
Mengapa? Karena ilmu, ibadah, perjuangan, pekerjaan, dan berbagai aktivitas kehidupan pada akhirnya berlangsung di dalam ruang yang bernama waktu. Jadi, persoalan terbesar bukan semata-mata berapa panjang umur seseorang, melainkan apa yang dihasilkan dari umur tersebut. Semangat inilah yang menjadikan buku ini tetap menarik dibaca.
Buku ini membangun kesadaran bahwa waktu adalah modal kehidupan yang tidak pernah berhenti berkurang. Membacnya bukan sekadar mempelajari teori tentang manajemen waktu, melainkan sebuah kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan hidup, lalu bertanya kepada diri sendiri: untuk apa waktu yang selama ini telah diberikan Allah kepada kita?
Yuk download! SINI. (wn-ab)






