![]() |
| Cover Buku Jejak dan Kisah Syaikh Asy'ari (Datuk Jokosari Ngabul). |
WAWASANews.com - Sejarah penyebaran Islam di wilayah Jepara tidak hanya tersimpan dalam catatan tertulis, tetapi juga hidup melalui makam, petilasan, tradisi tutur, dan ingatan masyarakat setempat. Salah satu sosok yang menempati ruang penting dalam khazanah tersebut ialah Syaikh Asy'ari, tokoh yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Datuk Jokosari Ngabul.
Melalui buku Jejak dan Kisah Syaikh Asy'ari (Datuk Jokosari Ngabul), M. Abdullah Badri berupaya memperkenalkan kembali perjalanan hidup seorang tokoh spiritual yang kisahnya berkaitan erat dengan sejumlah tempat di pesisir utara Jawa. Ini identitas bukunya:
========
- Judul: Jejak dan Kisah Syaikh Asy'ari (Datuk Jokosari Ngabul)
- Penulis: M. Abdullah Badri
- Penerbit: Diroz Nusantara, Jepara
- Cetakan: Kedua, November 2025
- Tebal: x + 133 halaman
- Ukuran: 15 x 21
- Harga: Rp. 65.000
- Pesan: Klik Order Kisah Jejak Datuk Jokosari Ngabul (Lewat WA)
========
Datuk Jokosari bukan sekadar nama yang dilekatkan pada sebuah petilasan di Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Dalam tradisi masyarakat, ia dikenal sebagai seorang sayyid yang berasal dari Aceh dan kemudian menempuh perjalanan menuju Jawa. Keputusan meninggalkan tanah kelahirannya dikisahkan berkaitan dengan penyerahan takhta kepada adiknya. Setelah itu, ia memilih jalan pengembaraan spiritual dan menimba ilmu agama kepada Sunan Kudus. Kisah tersebut menggambarkan perjalanan seorang tokoh yang mengalihkan perhatian dari kedudukan duniawi menuju pengabdian keagamaan.
Selepas menuntut ilmu di Kudus, Syaikh Asy'ari melanjutkan perjalanannya ke sebuah kawasan yang dahulu dikenal sebagai Desa Siseh, yang dalam kisah setempat kemudian dihubungkan dengan wilayah Ngabul. Di tempat inilah ia memulai kehidupan yang jauh dari kemewahan. Berdasarkan cerita yang dihimpun dalam buku tersebut, tempat tinggalnya berupa rumah sederhana yang disebut omah ameh ambruk, yakni rumah yang kondisinya nyaris roboh. Ia menempati tempat itu atas saran Mbah Endang, yang juga dikenal dengan nama Mbah Gembeng.
Baca: Buku Dalil Sejarah TBS: Telaah Kontroversi Historiografi Madrasah di Kudus
Salah satu hal yang paling menonjol dalam kisah Datuk Jokosari ialah statusnya yang tidak pernah menikah sepanjang hidup di Ngabul. Keadaan tersebut diyakini menjadi asal mula penyebutan nama Jokosari, yang dihubungkan dengan sebutan joko atau lelaki yang belum menikah, serta nama Asy'ari. Dari penafsiran masyarakat itulah muncul panggilan Mas Joko Asy'ari yang kemudian dikenal sebagai Datuk Jokosari.
Namun, penamaan tersebut tidak hanya memiliki satu penjelasan. Dalam versi cerita lain, ia disebut Jokosare, sebuah sebutan yang dikaitkan dengan kebiasaannya tertidur secara tiba-tiba. Ia dikisahkan kerap mengantuk ketika berada di sawah, di bawah pepohonan, atau di tempat lain. Perilaku tersebut tidak dipandang sebagai kebiasaan biasa oleh masyarakat yang mewariskan kisahnya, sebab dikaitkan dengan rutinitas ibadah yang dijalankannya setiap malam.
Syaikh Asy'ari diceritakan menghabiskan malam dengan berzikir dan membaca wirid hingga menjelang Subuh. Kebiasaan tersebut menjadi penjelasan atas rasa kantuk yang kadang muncul pada siang hari. Dalam narasi kehidupan para wali, kisah seperti ini memperlihatkan bagaimana masyarakat menghubungkan perilaku sehari-hari seorang tokoh dengan ketekunan spiritualnya. Pembaca dapat melihat bahwa identitas Datuk Jokosari terbentuk bukan hanya melalui perjalanan geografisnya, tetapi juga melalui cerita tentang laku ibadah yang terus dikenang dari generasi ke generasi.
Baca: Mengenal Buku Terjemah dan Syarah Arba'in Buldaniyah Abu Thahir As-Silafi
Di balik kehidupannya yang sederhana, Datuk Jokosari digambarkan sebagai sosok yang memiliki kemampuan dalam bidang keagamaan sekaligus dikenal sebagai pendekar atau jawara. Ia dikisahkan menguasai ilmu syariat dan hakikat, dua dimensi yang dalam tradisi tasawuf dipahami sebagai aspek penting dalam menjalani kehidupan beragama. Syariat berkaitan dengan pelaksanaan ketentuan agama, sedangkan hakikat mengarah pada pendalaman makna batiniah dalam penghambaan kepada Allah.
Meski masyarakat Ngabul mengenangnya melalui petilasan dan berbagai cerita lokal, kisah hidup Datuk Jokosari tidak berakhir di desa tersebut. Menurut riwayat di buku ini, ia kemudian menuju Gresik atas perintah gurunya. Di kota itulah ia dimakamkan. Perjalanan dari Aceh menuju Kudus, berlanjut ke Ngabul, hingga akhirnya ke Gresik membentuk rangkaian kisah yang memperlihatkan luasnya hubungan antartempat dalam tradisi keislaman di Jawa.
Keistimewaan buku karya M. Abdullah Badri ini tidak berhenti pada pembahasan mengenai Syaikh Asy'ari. Penulis turut menghadirkan kisah sejumlah tokoh yang dalam tradisi lokal disebut pernah hidup sezaman atau memiliki keterkaitan dengan lingkungan sejarah yang sama. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut memperluas cakupan pembahasan, sehingga buku ini tidak hanya berfungsi sebagai pengenalan terhadap Datuk Jokosari, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk menelusuri khazanah kewalian di berbagai wilayah Jepara dan sekitarnya.
Baca: Mengenal Buku Kabar Kubur Pak Dhe Karya M. Abdullah Badri
Tokoh-tokoh yang turut dibahas meliputi Kiai Jaka Samudra dari Cumbring, Mbah Amiruddin dari Potroyudan, Kiai Laduni dari Karangkebagusan, Datuk Subuh dari Sidi Gede, Ki Joko Tirto dari Karimunjawa, Kiai Leseh dan Mbah Subandi dari Banyumanis, Kiai Rohmat Hasyim atau Sayyid Ustman dari Mandalika, Kiai Bulus Karsono dari Bulungan, serta Mbah Viraj Sartali dari Mantingan.
Penyebutan berbagai tokoh tersebut memberi nilai tersendiri bagi pembaca yang ingin mengenal sejarah lokal di luar tokoh-tokoh yang namanya telah dikenal secara luas. Setiap nama terhubung dengan wilayah tertentu, sehingga pembahasan buku ini dapat menjadi bahan awal untuk memahami hubungan antara tradisi keagamaan, memori masyarakat, dan identitas suatu tempat. Bagi masyarakat setempat, kisah para tokoh tersebut juga dapat menjadi sarana untuk mengenali kembali warisan budaya yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.
Dari segi manfaat, buku ini relevan bagi pembaca yang memiliki perhatian terhadap sejarah Islam lokal, tradisi kewalian, dan perkembangan kehidupan keagamaan di Jepara. Warga Mantingan, Potroyudan, Banyumanis, Karangkebagusan, Bulungan, Karimunjawa, dan Mandalika memiliki alasan tersendiri untuk membaca karya ini karena sejumlah tokoh yang dibahas berkaitan dengan daerah-daerah tersebut. Buku ini dapat membuka ruang bagi pembaca untuk menelusuri lebih jauh asal-usul cerita yang diwariskan di lingkungan mereka.
Baca: Mengenal Buku Sejarah Wafat dan Tertundanya Pemakaman Rasulullah Saw
Meski demikian, pembaca perlu membedakan antara kisah yang hidup dalam tradisi masyarakat dan fakta sejarah yang telah dibuktikan melalui dokumen atau sumber primer. Riwayat mengenai asal-usul, perjalanan, serta kehidupan para wali lokal merupakan bagian penting dari ingatan kolektif, tetapi sebagian keterangannya tetap memerlukan penelitian lanjutan untuk memastikan kronologi dan keterkaitan antartokoh. Dengan demikian, buku ini dapat dibaca sebagai pengantar untuk mengenal tradisi sejarah lokal sekaligus sebagai titik awal bagi penelitian yang lebih mendalam.
Secara keseluruhan, Jejak dan Kisah Syaikh Asy'ari (Datuk Jokosari Ngabul) menawarkan kesempatan untuk mendekati sejarah Jepara melalui sosok-sosok yang hidup dalam ingatan masyarakat. M. Abdullah Badri tidak hanya mengangkat figur Datuk Jokosari sebagai tokoh utama, tetapi juga memperluas perhatian pembaca terhadap jaringan kisah para wali yang terkait dengan sejumlah daerah. Nilai buku ini terletak pada upayanya menghimpun dan memperkenalkan kembali warisan cerita lokal yang berpotensi terlupakan apabila tidak didokumentasikan.
Membaca buku ini pada akhirnya bukan semata-mata menelusuri perjalanan seorang tokoh dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, pembaca diajak memahami bagaimana masyarakat menjaga ingatan tentang para pendahulu melalui nama tempat, makam, petilasan, dan cerita yang diwariskan lintas generasi. Bagi siapa pun yang ingin mengenal lebih dekat khazanah sejarah keagamaan Jepara, buku ini layak dijadikan salah satu bacaan awal untuk membuka penelusuran yang lebih luas terhadap warisan spiritual dan sejarah lokal di wilayah tersebut. (wn-ab)






