Santi Ogah Jadi Sekretaris

Cerbung Episode ke 31…

Oleh Sofi Muhammad

Mulutku basah oleh guyuran lemon tea yang terhidang di atas meja. Di luar, udara panas nian. Sudah pakai lotion tebal pun nyatanya tak begitu mampu melindungi kulitku dari sengatan ganas ultraviolet.
Sepotong demi sepotong, kunikmati pula ceriping pisang yang sedari tadi ngawe-ngawe minta dimakan. Tak perlu malulah jika memang lapar benar. Dari pada mubadzir juga, toh sudah repot-repot dihidangkan.
“Susah nyari kosanku, Ras?” tanya Santi sambil menaruh dua jenis camilan lagi di atas meja belajarnya, yang kini telah beralih menjadi meja tamu.
“Lumayan,” jawabku sambil meminum lagi lemon tea yang dihidangkan untukku.
“Haus ya?”
“He, he, iya nih,” jawabku benar-benar tak tahu malu, “panas banget di luar.”
“Namanya juga Semarang bawah, Ras.”
Kosan Santi berada di tengah-tengah antara tempat kerja dan kampusnya. Sengaja memang dia pilih yang ditengah-tengah. Katanya, biar sama-sama mudah jangkauannya. Di salah satu universitas yang paling dekat dengan kawasan Bandungan-lah ia kuliah.
Ketika aku mengunjunginya, Santi sedang agak sibuk browsing. Lagi nyari tugas katanya.
“Susah ya?” tanyaku.
“Nggak. tinggal co-past aja, kok.”
Co-past?”
Copy-paste.”
“Oh.”
Aku benar-benar malu. Kelihatan benget seberapa bodohnya diriku ini. Biar begitu-begitu, Santi nyatanya sangat jauh lebih berpengalaman daripada aku. Dilihat dari banyak segi pun, aku jelas masih kalah jauh.
Yang dibilangnya power point pun aku benar-benar baru benar-benar melihat proses pembuatannya. Pernah sih dulu melihat guru SMA-ku yang menayangkannya di kelas, tapi tentu tak pernah kulihat saat ia membuatnya.
Ketika melihat boneka lucu yang bergerak-gerak, kadang tersenyum, atau marah, aku jadi tertarik. Bukan tertarik untuk mendengarkan penjelasannya, melainkan untuk memandangi perubahan ekspresi boneka kartun di dalam power pointnya.
Di Blackberry-ku yang dulu, banyak sih kudapati animasi yang semacam itu. Tapi, tetap saja beda rasanya ketika itu dimasukkan dalam sebuah presentasi. Apalagi, di depan kelas presentasinya, di mana ada begitu banyak mata ngantuk yang sudah hampir pada molor semua.
Oalah, jadi kengen sekolah lagi. Enak saja kelihatannya. Meski terkadang menyebalkan jika harus membuat tugas, mengerjakan PR, tapi lumayan menyenangkan saat kumpul-kumpul, menggosiplah.
Meski menurut beberapa kalangan menggosip itu membuang waktu tapi tidak bagiku. Dengannya, aku baru benar-benar merasa menjadi manusia sutuhnya. Ekspresi jiwa itu nyatanya bisa sempurna keluar melauinya.
“Kamu kalau ngetik cepet, nggak Ras?”
“Ngetik, kalau SMS cepet.”
“Ya elah, kalau itu sih aku juga.”
“Wah, pegel benget nih tanganku,” keluh Santi, “kalau lulus, aku malas jadi sekretaris.”
“La kamu jurusannya apa memangnya?”
“Ekonomi.”
Salah jurusan kayaknya tu orang. Maunya kerja enak malah begitu, kan jadinya.
“Tak kira, jadi sekretaris itu enak, Ras, cuma gitu doing. Yang penting cantik, seksi, urusan kerjaan, tidak pentinglah. Eh, ternyata…”
Baru kusadari pula bahwa ternyata tak ada pekerjaan yang benar-benar enak di dunia ini. Jika jadi jutawan itu enak, tentu tak bakal ada beritanya para jutawan Jepang yang mati bunuh diri. Iya, kan?
Wah, gara-gara bergaul dengan anak kuliahan, jadi lumayan pintar juga aku ini. Iyalah, siapa juga yang mau memuji diri ini kalau bukan diriku sendiri. Menunggu kamu memujiku, sampai kekeringan kaya jemuran, barang kali.
“Lain kali, gantian main kerumahku, ya.”
“Okelah, kalau nggak sibuk.”
“Semester berapa kamu?”
“Delapan. Dan mulai skripsi tapi masih ada mata kuliah yang hancur juga.”
“La terus? Gimana?”
“Diulanglah!”
“Ya, aku kan nggak pernah kuliah, San.”
Rasanya, jadi kepingin kuliah. Tapi, ya kalau ikut kejar paket, minimal pasti ditanyain KTP. Huah, KTP sialan! Lagi-lagi, gara-gara kamu, aku jadi susah bergerak! Apa-apaan sih negara ini. Mau mencoba hidup baik-baik saja susahnya minta ampun.
Apa perlu kudekati anaknya Pak Menteri biar aku dibuatkan KTP palsu, ya, bagaimanalah biar jadi tidak palsu. Tapi sayang, anak Pak Menteri saja cewek. Satu-satunya kesempatan ya dengan mendekati Pak Menterinya sendiri.
Gila! Menyebalkan sekali.
“Kalau nyari suami itu yang kaya, Ras,” sambung Santi.
“Aku nggak terlalu pingin jadi konglomerat.”
“Jadi, kamu lebih suka tidur di kolong jembatan, demi cinta, begitu?”
“Ya, nggak segitunya juga.”
“Saranku, lupakan deh Arya. Apaan itu, orang nggak jelas begitu kok.”
Mungkin, aku memang dianggap wanita bodoh oleh Santi itu. Jika kupikir-pikir, memang benar juga perkataannya. Tapi, tentu tidaklah bisa semudah itu andai dia jadi aku, andai dia memiliki kenangan yang teramat konyol itu!
“Selesai!”
“Sip, deh.”
“Yuk, berangkat!”
Hari ini, kami sama-sama menerima gajian. Bedanya, itu gajian Santi yang kesekian kalinya sedang bagiku adalah yang pertama. Sebagaimana kesepakatan yang telah kami setujui, hari ini Santi mengajakku memanjakan diri.
Huah, sudah lama sekali aku tak ke mall. Kira-kira, mau beli baju yang bagaimana, bagusnya. Keseringan bergaul dengan para LE yang memakai rok mini, aku jadi lumayan tergiur. Saat melihat kelopak mata Santi yang semu kemerah-merahan, aku juga pingin banget bisa sekali-kali tampil secantik dia.
“Pake motormu saja, Ras. Punyaku baru tak cucikan tadi, he, he…”
“Huh, dasar!”


Baca juga: 

Post a Comment