Aku Tak Percaya Kepada Laki-Laki

Cerbung Episode ke 32…

Oleh Sofi Muhammad

 Menurut kesepakatanku pribadi, usai mendapatkan gaji pertama, aku berniat untuk berhenti. Nyatanya, tidaklah semudah itu. Rasanya, sayang benget jika tiba-tiba berhenti begitu saja.
Andai berhenti pun memangnya mau kerja apa lagi. Sedangkan menjadi seorang pengangguran itu jelas-jelas tidak enak. Waktu serasa cepat sekali berputar. Bangun pagi, bersih-bersih, masak, tiba-tiba saja sudah jadi siang. Habis itu, nonton TV sebentar, jadinya sore. Masak lagi, sudah malam.
Tak mungkin juga aku kembali pada kehidupan yang statis itu. Jadi budak dapur, budak TV, juga kamar mandi.
Maka dari itulah kuputuskan untuk lanjut saja. Sebelum kutemukan pekerjaan yang lebih baik, dan lebih mudah dari ini, maka biarlah begini dulu. Aku juga harus selalu ingat bahwa aku ini tak punya KTP.
Menggantungkan hidup pada Mbak Dian terus, mana bisa juga aku seperti itu. Lagi pula, aku akan mati, mati jiwaku jika hanya selalu bertemu dengan benda-benda elektronik itu; kompor, kulkas, kipas, oven, TV.
Sekarang ini, aku sedang senang-senangnya menikmati hidupku yang serasa selayaknya manusia. Setidaknya, aku merasakan kembali nikmatnya ngomongin orang, jalan berdampingan dengan manusia, Santi.
Memang bisa saja aku jalan-jalan dengan Mbak Dian, tapi tentu tak bisa sering-sering. Saat ia di rumah pun, melihat wajahnya yang selalu capek, aku jadi tak tega saat mau mengajaknya pergi ke mana-mana.
Kebetulan sedang punya duit, duitku sendiri, maka aku pun bisa sesuka hati membelanjakannya. Saat ada penjual koran yang menawariku kala aku sedang berhenti di lampu merah, ya kubeli saja. Toh cuma seribu.
Sampai di rumah, karena sudah terlanjur kubeli, ya kubacalah. Setelah membolak-balik beberapa halaman, gambar seorang lelaki yang sedang menggenggam raket menarik pandanganku.
Taufik Hidayat namanya. Nama itu, beberapa kali memang sempat terdengar oleh telingaku. Di TV, aku juga terkadang menyaksikannya main. Sempat ngefans juga karena selain jago main bulutangkis, dia juga ganteng. Tapi, agak kaget sekali saat aku membaca beritanya di koran ini. Di sana disebutkan bahwa ia diduga menghamili seorang wanita, yang tentu saja bukan istrinya.
Usai membaca koran itu, ternyata di TV juga ditayangkan beritanya. Untung sekali bahwa aku ini sempat nonton infotainment meski sambil bersiap-siap untuk berangkat kerja. Di TV, wajah wanita itu juga tidak kelihatan karena dia pakai cadar.
Tapi, anak lelaki yang berada di sebelahnya pas dia di acara konferensi pers, mirip juga dengan Taufik. Bisa iya, bisa juga tidak. Jika tidak, ya mungkin si wanita itu hanya sedang ingin mencari perhatian. Barangkali, dia adalah salah satu fansnya yang melakukan itu demi agar bisa bertemu dengan sang idola.
Namun jika benar, ya wajar saja menurutku. Taufik Hidayat, biar dia hebat sekalipun, dia juga seorang manusia, seorang lelaki. Hanya keteloderan si perempuan saja. Sudah tahu para lelaki ya seperti itu. Mau-maunya dikibuli.
Ternyata, benar sekali apa yang dikatakan Mbak Dian selama ini. Semua lelaki itu pada dasarnya sama. Tinggal pintar-pintarnya sang perempuan untuk memunculkan duri-durinya di balik kecantikannya karena jika perutnya terlanjur membuncit, kan dia sendiri yang paling kelihatan salahnya.
Jangankan Taufik yang memang masih labil pemikirannya. Sekelas Pak Gubernur saja nyatanya pernah juga ngajakin Mbak Dian berkencan gelap. Kalau begitu, sama berarti, kan.
Akh, semakin sebal saja pada lelaki. Nggak di sini, nggak di sana, sama saja. Kalau sampai Arya, jika kami memang dipertemukan lagi, juga begitu adanya, entah apa yang akan kulakukan selanjutnya.

***
“Kau hanya belum menemukan lelaki yang tepat saja,” kata Bisri, teman sekampus Santi yang tiba-tiba saja SMS aku, “tidak semua laki-laki seperti yang kau sebutkan tadi, Ras.”
Sebelumnya, kami memang sempat ngobrol sejenak seputar lelaki dan wanita. Saat kubilang bahwa aku benci laki-laki karena keegoisannya, komentarnya ya seperti itu.
“Semua lelaki itu sama,” jawabku.
“Sama apanya?”
“Sama jahatnya!”
Aku memang sedang sebal dengan laki-laki. Tak tahulah. Barangkali memang harus ditakdirkan jadi jomblo seumur hidup jika aku terus-terusan benci seperti ini. Tapi, memang tidak semudah itu membuka hati. Di saat ada segudang lelaki busuk yang melingkari kehidupanku, aku jadi pesimis terhadap semua lelaki, bahkan termasuk juga Arya untuk saat ini.
Oleh karena aku sedang sebal pada lelaki, maka kumarahi saja Santi yang tega-teganya memberikan nomor HP-ku pada si Bisri itu. Meskipun kata Santi dia itu lumayan baik tapi aku tetap tak mau percaya begitu saja.
Iya, baik awal-awal. Akhir-akhir, baru deh ketahuan belangnya. Zaman sekarang, para wanita yang buncit perutnya sebelum ia menikah, kebanyakan, bukan lantaran karena ia diperkosa oleh orang yang tidak dikenal, melainkan dihamili oleh pacarnya sendiri. Itulah yang kutahu dan kupercayai!
Bagaimana mungkin tidak manis-manis di awal sampai-sampai si wanita mau menyerahkan keperawanannya dengan begitu ikhlasnya. Seolah-olah, dia sudah tak butuh apa-apa lagi ketika sudah memiliki pacarnya itu. Baru tahulah jika ternyata, para lelaki hanya bersenda gurau dan main-main belaka.
“Males aku kalau diganggu sama Bisri terus,” keluhku pada Santi.
“Dicoba sajalah, Ras,” jawabnya via telepon.
“Aku mau ganti nomer saja kalau begitu.”
“Eh, ya jangan,” cegah Santi, “okelah, beri dia kesempatan satu bulan, please, Ras!”
Entah dibayar berapa itu Santi hingga mau-maunya dia diperalat temannya. Ya, mungkin aku malah dijadikan alat agar si Bisri itu tidak mengejar-ngejar dia lagi, begitu. Uh, tega sekali dia.
“Kenapa tak kau ambil sendiri jika memang dia itu baik,” tanyaku jujur sekali. Aku tahu bahwa niat Santi itu baik. Mungkin, dia mau melihatku tidak jomblo lagi. Tapi, tetap saja aku tak suka jika dijodoh-jodohkan dengan lelaki asing, anak kuliahan pula.
“Aku nggak sanggup hidup dengan orang baik-baik, Ras,” jawab Santi, kedengarannya tulus sekali, “kupikir, kamulah yang lebih layak untuk mendapatkan orang yang sebaik dia,” jelasnya. “Kalian pasti akan saling nyambung karena sama-sama baik.”
“Kalau menurutnya?”
“Dia bilang, sama. Ternyata, kamu itu tipenya banget.”
“Alasannya?”
“Karena kamu bisa menjaga diri.”
“Dari mana dia tahu kalau aku bisa jaga diri?”
“Karena kamu masih perawan, Ras, ha..ha...”
“Jadi, kamu kasih tahu dia kalau aku ini masih perawan?”
“He, he…iya.”


Baca juga: 

0 Response to "Aku Tak Percaya Kepada Laki-Laki"

Post a Comment