Kencan Dengan Bisri

Cerbung Episode ke 33…

Oleh Sofi Muhammad

Semakin hari, semakin banyak saja godaan untuk secepatnya melupakan Arya. Tapi, memang aneh aku ini karena seolah kuhianati dirinya padahal kami tak pernah membuat perjanjian apa pun.
Hutang budi dibayar budi sajalah kalau begitu. Mungkin, jika kami memang dipertemukan lagi ketika aku tak lagi sendiri, biarlah kubantu dia ganti, apalah sebisaku. Untuk saat ini, hanya itulah yang bisa kuputuskan.
Terlalu lama sendiri, rasanya tidak enak juga. Saat melihat pasangan bermesraan, dadaku mau meledak rasanya. Ketika mereka saling tersenyum kemalu-maluan, aku benci sekali karena aku masih juga hanya sendiri.
Makanya, kuturuti saja apa yang dikatakan Santi.
“Tapi, dengan satu syarat,” tambahku.
“Apa?”
“Kamu juga harus mau aku kenalin sama tetanggaku.”
“Tetanggamu? Cakep nggak?”
“Lumayan. Dia sudah skripsi-an. Mungkin, tahun depan, kalau nggak molor lagi, katanya, dia lulus.”
“Wah, boleh tuh. Namanya?”
“Bisri.”
Ini bukan keputusan yang mudah buatku. Sebelumnya, aku tak pernah semudah ini mencoba percaya pada lelaki. Bahkan Rio yang nyata-nyata tetanggaku saja, sampai saat ini, aku masihlah malas jika harus mencoba serius padanya.
Berhubung Bisri kelihatannya cukup baik sebagai seorang lelaki makanya aku mau. Siapa tahu kami memang ditakdirkan untuk bersama. Sedangkan Arya, dia mungkin hanya mampu menjadi kepingan masa silamku saja.
“Kenapa tak kau ambil sendiri si Rio itu?”
“Males ah, dia playboy, kok,” jawabku, “cocok banget sama kamu, kan?!”
“Ih, apa-apaan sih?”
Saat malam usai bekerja, aku benar-benar mau menerima ajakan Bisri. Toh belum sangat malam juga. Belum ada jam tujuh malam, dia sudah menungguku di luar, di parkiran. Sedang Mas Hadi yang melirikku tajam, aku tak hendak pedulikan.
“Pakai motorku saja,” pinta Bisri, “masa mau jalan sendiri-sendiri.”
Kuturuti saja permintaannya. Toh aku sudah lama ingin merasakan nikmatnya diboncengin cowok pakai motor. Tapi, aku masih grogi jika harus mendekapnya dengan sangat mesra sekali.
“Pegangan, Ras,” katanya, “biar nggak jatuh.”
Aduh, sudah kayak Deddy Corbuzier saja itu orang bisa membaca pikiranku. Biar tak terlalu mencolok, kupegang saja pinggangnya dan tidak terlalu erat. Kalau sampai dia berani-berani cari-cari kesempatan, mengerem mendadak, awas saja dia!
Tapi, sepanjang perjalanan, dia tak pernah bertingkah murahan semacam itu. Kalau pas lewat SMS dia sangat berani menasehatiku, di sini, dia lebih banyak diamnya. Ah, kencan, nggak nyangka jika aku rupanya sedang berkencan.
“Dimakan dulu, Ras.”
Di depanku sudah terhidang sepotong paha ayam yang kelihatannya sangat menggiurkan. Ditambah lagi, memang belum sepat makan tadi. Belum pulang kerja saja, dia sudah nongol. Apa dia benar-benar serius denganku.
Memang aneh aku ini. Mau makan saja pakai malu segala. Biasanya, aku tak pernah grogi makan sembarangan di depan lelaki. Tapi Bisri, dia benar-benar membuatku malu untuk bertingkah biasa saja.
Iyalah, namanya juga baru-baru ini kenalnya. Aku yakin sekali bahwa lama-lama, kami akan terbiasa. Tak hanya aku tapi kurasa dia juga merasakan hal yang sama. Buktinya, kami sama-sama jadi pendiam nian.
“Kamu beneran nggak punya pacar, Ras?” tanyanya dengan lemah lembut sekali.
Kujawab saja dengan gelengan kepala.
“Terakhir pacaran kapan?” tanyanya lagi.
“Nggak pernah pacaran.”
“Ah, nggak percaya aku.”
“Terserah kalau nggak percaya,” jawabku ketus, “nggak ada gunanya juga percaya sama aku.”
Akh, aku mulai lagi deh. Wajahku sudah kusut saja rasanya. Tapi, aku memang benar-benar mengetes keseriusannya. Kalau benar-benar mau denganku, apa adanya, tentu tak boleh mudah menyerah.
“Bercanda, Ras,” ujarnya sambil memamerkan senyuman yang ternyata, manis juga kalau dilihat dari dekat, apa lagi cuma berdua seperti ini di satu meja makan.
Setelah itu, kami mulai banyak bercakap-cakap. Tak hanya seputar status tapi juga asal-usul. Malu sekali aku kalau ditanya asal-usul. Tapi, memang kukatakan apa adanya diriku karena Santi mungkin saja juga sudah pernah bilang sebelumnya.
Dari situ, kutahulah bahwa Bisri itu anak seorang camat di daerah Gunungpati. Otomatis, otakku langsung bergerak saja pada KTP. Paling tidak, bisalah membuat KTP dengan tanpa syarat jika pemintanya Pak Camat sendiri.
Kelihatan buruk sekali niatku ini. Seolah-olah, kudekati Bisri karena memang ada maunya. Memangnya, aku beneran mau serius dengan lelaki yang berselisih lima senti ini.
Memang tidak terlalu penting sih, fisik, bisalah dinomor duakan. Asal nyambung dan baik saja, itu sudah cukuplah. Tapi ya hanya itu, aku tak boleh pakai highhill sama sekali saat berkencan semacam ini.
Padahal, di rak sepatu, sudah ada tiga pasang, termasuk dua pasang yang baru saja kubeli dengan Santi usai gajianku yang pertama. Masa iya mau kusingkirkan selalu saat aku berkencan dengan Bisri.
“Mau nambah, Ras?”
“Ah, cukup. Sudah kenyang.”
“Nambah nggak papa. Biar gendut, ha-ha.”
“Ih, nggak deh.”


Baca juga: 

Post a Comment