Bandungan Undercover

Cerbung Episode ke 34…

Oleh Sofi Muhammad

Kedekatanku dengan Bisri rupanya memunculkan kecemburuan di mata Mas Hadi. Dalam benaknya mungkin saja berkata: aku yang lebih dulu malah Bisri yang mendapatkannya. Bukan semata-mata dugaanku saja karena siang harinya, aku dapat panggilan untuk menemui Mas Hadi di ruang kerjanya.
“Dikasih apa kamu sama Bisri?” tanyanya.
“Ini urusan pribadiku, Mas.”
“Pribadi, pribadi, apaan itu?” tanyanya nyolot, “nggak ada yang namanya urusan pribadi di sini.”
Matanya benar-benar menyiratkan kemarahan. Itu sungguh-sungguh membuatku sangat tidak nyaman. Tak ada orang lain di ruang kerja Mas Hadi selain hanya kami berdua saja. Selain takut karena amarahnya, aku juga takut kalau dia kalap kemudian memerkosaku.
“Aku mau keluar,” kataku.
Sebelum aku sempat ke mana-mana, dia buru-buru sekali menutup pintu. Lama sangat ia berdiri di samping pintu, menjagainya karena memang tak ada kuncinya. Setahuku, aku tadi melihatnya masih bergelantungan di daun pintu sebelah luar.
“Aku belum selesai, Ras,” kilahnya.
“Tapi, aku sudah selesai!”
“Kamu tidak sopan pada bosmu!” katanya dengan nada yang ia tinggikan.
“Ini tak ada hubungannya dengan pekerjaan lagi!”
Kupandangi lantai keramik yang tampak bersih di bawah kakiku. Sedetik pun, aku tak mau bertatapan langsung dengan mata lelaki yang ada di hadapanku ini. Aku sudah tak ingin bertengkar, malas, juga tak hobi.
“Dasar, wanita murahan!”
Aku diam saja.
Mungkin karena bosan atau memang sudah tak mood lagi padaku hingga akhirnya dia pun membiarkanku pergi. Saat dia pergi itu, sangat buru-buru sekali kubuka pintu. Di luar, kulihat Santi tengah menungguiku dengan cemas.
“Diapain kamu, pakai ditutup segala?” tanyanya kemudian.
“Tau, deh.”
Usai kejadian itu, aku benar-benar hendak melakukan apa yang telah disarankan Bisri; keluar dari pekerjaan ini. Namun, bingung juga mau kerja di mana lagi. Aku masih ingat betul bahwa aku ini tak punya KTP.
“San, lelaki itu, semakin dilarang malah semakin membrutal, ya?”
Santi tak menjawab. Hanya tepukan bahunya saja yang kurasakan cukup mampu untuk membuatku sedikit lebih nyaman.
“Ya sudah, tak penting jugalah untuk dibahas, ayo, kerja, kerja,” kataku menenangkan diriku sendiri.
Santi tersenyum, “Eh, gimana kencanmu sama Bisri, lancar?”
“Nggak tahu deh.”
“Kok nggak tahu.”
“Kencan pertamaku, San,” jawabku mengingatkan, “aku tak tahulah mana yang dianggap lancar dan tidak.”
“Ooo…”

***
Sesuai dengan ketetapan, Santi harus mau kujodohkan dengan Rio. Aku tak bilang apa-apa juga sih sama Rio. Biar Santi dulu yang tahu kemudian dia yang memutuskan sendiri. Saat Santi bertandang ke rumah, sengaja ku-SMS Rio untuk datang.
Setibanya dia, kupersilakan masuk lalu kutinggallah mereka berdua di depan TV. Selanjutnya, aku pura-pura mau beli sesuatu tapi satu setengah jam kemudian, aku baru berencana untuk kembali.
Besar memang harapanku pada dua sejoli itu. Menurutku, Rio masih layaklah jika ditangani oleh orang yang tepat. Santi juga begitu. Aku hanya ingin menjadi pengawas sekaligus penasehat setia agar mereka benar-benar bisa bersama.
Oleh karena Santi sangat cantik, menurutku, sudah pastilah Rio itu tergiur. Sebagai awalan, buka dasar dari pertemuan mereka, pastilah si Rio itu tak ilfill duluan. Sedangkan Rio sendiri, seperti yang pernah diinginkan Santi, dia itu termasuk orang yang berada di wilayahku.
Oalah, sudah kaya kontak jodoh saja aku ini. Diri sendiri saja belum dapat tapi malah mencarikan orang lain. Kaya Yuanita Kristiani kalau begitu. Di acara Take Me Out yang agen pencari jodoh itu, dia sendiri malah masih single.
“Bakso satu, Bang.”
“Sendirian saja, Ras,” kata penjual bakso yang sudah terbiasa mangkal di ujung jalan.
“Iya, Bang. Eh, kosongan saja, ya!”
“Siap.”
Aku duduk manis di salah satu kursi panjang yang tersedia di warung bakso kecil milik Bang Kumis. Sebenarnya, namanya bukan itu tapi dia lebih terkenal dengan sebutan itu. Kumisnya memang tebal, mirip sekali dengan para juragan besar dari Betawi.
Bang Kumis itu asalnya memang dari Betawi. Tinggal di Bandungan setahuku baru dua tahun terakhir ini. Sejak pertama kali datang, sudah lumayan laris baksonya. Selain enak, tentu murah masih menjadi incaran.
Bukan orang bermobil tentu saja. Kebanyakan pelanggannya adalah anak SMA dan para petani bunga. Di sepanjang kawasan Bandungan memang ada banyak petani bunga. Mawarlah yang paling banyak.
Mungkin karena saking sejuknya tempat tinggalku ini hingga mudah sekali tanaman dikembangbiakkan. Selain bunga, buah-buahan juga banyak di sini. Kala musim kelengkeng atau rambutan, atau durian, pastilah akan mudah sekali ditemukan pedagang buah dadakan yang menggelar dagangannya di depan rumah mereka masing-masing.
Yang paling ramai tentulah saat musim kelengkeng. Hampir setiap rumah memiliki minimal satu pohon kelengkeng. Tapi, ya banyak juga yang sengaja menanami lahan kosong mereka dengan beberapa pohon klengkeng juga sih.
Saat musimnya itu, banyak sekali kreneng yang digantung di bakal buah untuk mempermudah pemanenan. Bunga dan buah, sudah cukuplah untuk menjadi penopang hidup sebagian besar warga Bandungan.
Selain mereka berdua, ada juga banyak jenis sayuran yang mudah untuk ditumbuhkan di wilayah sejuk ini. Diataranya adalah kol, wortel, sawi, yang mana akan banyak dijumpai di pasar buah dan sayur yang cukup luas di Pasar Bandungan.
Di tambah lagi dengan adanya wisata Candi Gedong Songo yang berada di puncak Bandungan sana. Tak hanya turis domestik tapi juga banyak dari mancanegara. Selain mengunjungi obyek wisata alam itu, tentu saja mampir jugalah ke pasar tradisionalnya.
Indah banget deh pokoknya daerahku ini. Selain indah juga sejuk tentu. Jauh bedalah dengan kawasan Semarang Bawah yang panas banget. Kesempatan itu jugalah yang diambil oleh para pebisnis semacam Mas Hadi untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Dingin-dingin, asik pasti jika karaokean.
Bandungan-ku, tidak siang, tidak malam, tidak adalah jam-jam sepi bagi Bandungan.


Baca juga: 

Post a Comment