Bekerja Sebagai Pembantu Rumah Tangga

Cerbung Edisi 35…

Oleh Sofi Muhammad

Mas Hadi memanggilku lagi untuk menghadapnya di kantor. Pikiranku sudah mulai was-was. Perhitunganku adalah bahwa jika kemarin ia gagal, maka lain kali pastilah harus lebih matang lagi persiapannya.
Tidak!
Kalau sampai dia macam-macam, aku tak akan segan-segan untuk memberontak. Entah apalah asal aku bisa lari dari cengkeramannya.
Di hatiku ini sudah kupersiapkan pengunduran diri. Biar sajalah tak dapat gaji besar asal hatiku ini merasa tenang. Benar juga apa yang dikatakan Bisri bahwa aku memang sebaiknya cepat-cepat angkat kaki.
Semakin lama, aku semakin muak saja dengan Mas Hadi. Lagaknya yang sok bos itulah yang sangat aku benci. Memang benar dia itu bos, bosok!
“Aku mengundurkan diri,” kataku begitu sampai di depan meja Mas Hadi.
Mendengar perkataanku yang tak terduga itu, matanya jadi melebar. Mungkin dia merasa kalah lantaran aku lebih dahulu mengundurkan diri padahal ia belum sempat memecatku.
Sebelum dia sempat berkata apa-apa, aku pun cepat-cepat keluar saja dari kantornya. Tak maulah kutunggu sampai ia coba-coba untuk memberiku kenang-kenangan terakhir.
Usai dari sana, langsung saja kutemui resepsionis dan kukembalikan seragam yang pernah diberikan padaku.Cepat sekali.
Kataku pada Santi, “aku akan mencari pekerjaan yang murahan saja, San.”
Dia hanya tersenyum dan melepas kepergianku. Akh, padahal, aku ingin sekali kalau Santi mengikutiku. Ikut-ikutan mengembalikan seragam pink-nya juga. Tapi, nyatanya dia malah masih nyaman-nyaman saja.
Saat kustarter motor, aku berjanji bahwa itu adalah untuk terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di tempat itu. Sesudah itu, kuberitahu Bisri lewat SMS dan langsung kuarahkan motorku pulang.
Di rumah, aku dikagetkan oleh tingkah laku Mbak Dian yang semakin tidak wajar. Usai minggat tak ada kabar selama tiga minggu, kini ia kembali dengan seorang lelaki yang dikenalkannya padaku dengan nama Mas Pras, orang yang dibilang sebagai calon suaminya itu.
Saat tidak pulang, rupanya Mbak Dian tinggal di rumah Mas Pras-nya. Setiap hari, katanya, dia selalu diperlakukan tidak baik oleh anak-anaknya Pras itu. Disuruh membuatkan sarapan, mengepel, nyapu.
Iyalah, itu sebetulnya merupakan tugas ibu rumah tangga secara wajar. Tapi, bagi Mbak Dian, itu penghinaan. Oleh karena itulah, pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tinggal di rumah Mbak Dian saja.
Entah jadi menikah atau hanya main-main lagi, semuanya tak ingin pusing-pusing aku pikirkan!

***
Yang pasti, aku merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran lelaki itu. Saat aku menyapu lantai pada pagi hari, juga memasak di dapur karena aku pun sudah tidak bekerja lagi, kulihat secara samar bahwa lelaki yang bernama Pras itu mencuri-curi pandang ke arahku.
Begitu Mbak Dian datang, menemaninya ngobrol di depan TV yang memang dekat sekali dengan dapur, dia bersikap biasa lagi. Aneh juga kenapa dia itu tak tahu malu sekali.
Pelan-pelan, batinku ini jadi agak curiga. Kalau beneran sangat kaya tentu saja ada lebih dari satu rumahnya. Kenapa pula harus memilih untuk numpang di sini? Iya tahu, ini juga bukan rumahku. Tapi, aku benci sekali pada setiap lelaki yang jelalatan matanya semacam dia itu.
Saat dia berangkat kerja, aku merasa senang sekali. Mbak Dian kini pun jadi tak ke mana-mana lagi usai ia berencana untuk punya suami. Setiap pagi, juga malam, kulihat tak pernah berhenti mereka saling berbisik di dalam kamar yang segera disusul dengan aroma keletihan usai melakukan sesuatu.
Akh, aku jadi tak tahan!
Semakin tak tahan jika Mbak Dian kebetulan sedang keluar untuk sekadar beli bakso atau jalan-jalan sambil mengisi bensin di SPBU terdekat. Pada jam-jam rawan seperti itu, lelaki itu semakin tajam saja memelototi pantatku kala aku lagi nyapu di halaman dengan sapu lidi.
Memang semakin butuh pekerjaan di luar rasanya. Tapi apa?
Seminggu di rumah, rasanya semakin terasa di neraka apalagi sejak ada bangkotan itu. Yaelah, kenapa aku jadi parno tiap ada lelaki tua.
Iseng-iseng, aku benar-benar mencari pekerjaan lagi. Apa sajalah asal aku tak seharian di rumah. Selain itu, aku juga berniat untuk tinggal di kos saja. Bisa satu kos dengan Santi, pasti akan jauh lebih menyenangkan sekali.
Iya, benar itu!
Selanjutnya, kuhubungi Santi sesegera mungkin untuk menanyakan tempat yang kosong. Begitu dia bilang ada, aku langsung bat-bet berpamitan pada Mbak Dian.
“Kenapa pergi?” tanyanya heran.
“Aku mau mencoba hidup mandiri, Mbak.”
Akh, sebenarnya, tak mau juga aku bersusah-susah begini. Hanya saja, tiap kali melihat bebandot tua yang kuanggap bermata keranjang itu, trauma masa-masa lalu itu muncul lagi, sekaligus memunculkan kembali kenanganku dengan Arya, lelaki yang tak pernah kuketahui keberasaannya itu.

***
“Jadi PRT aku, San.”
Kebetulan, ada rumah gedong di pinggir jalan yang memasang lowongan itu di pintu gerbangnya. Tidak jauh dari kos baruku. Berjalan kaki saja kala aku iseng-iseng menyusuri pedestrian hingga kutemui tomprang itu.
Menyuci, menyapu, besih-bersih taman, alah, itu sudah tugasku sehari-hari saat berada di rumah Mbak Dian. Saat ditanya pengalaman kerja, kukatakan saja kalau aku pernah menjadi pembantu di rumah Mbak Dian.
Alasan keluarnya aku dari sana, kukatakan bahwa si pemilik rumah kini sudah jadi ibu rumah tangga jadinya tidak terlalu membutuhkan tenaga saya. 
Meskipun agak konyol tapi nyatanya cukup bisa diterima. Melihat kerapian pekerjaanku, si ibu pemilik rumah kelihatannya juga suka. Wah, memang tidak sia-sialah latihan rutin yang kupraktikkan saban hari di rumah Mbak Dian sana.
Tapi, ketika membayangkan gajinya yang cuma tujuh ratus lima puluh ribu, aku agak malas sebenarnya. Tapi, apa boleh buat.
Selain itu, tak enaknya jadi PRT adalah bahwa aku ini harus selalu siap menjadi ramah sekali. Andai pemilik rumah menyuruh, aku pun harus melalukannya dengan tersenyum. Tak bisa bekerja sambil cemberut sesuka hati.
Halah, memang dasar tipikal pengangguran, kerja apa pun selalu saja dilihat yang tidak enaknya. Tapi, tetaplah kubetah-betahkan. Paling tidak, kutunggu saja sampai gaji pertamaku turun. Penasaran saja, sih. Kira-kira, nikmatan mana antara gaji yang banyak dengan yang sedikit, begitu.

Post a Comment