![]() |
| Terjemah Adabul Alim wal Mutaallim. |
WAWASANews.com - Terjemah Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim merupakan buku yang mengajak pembaca melihat bahwa ilmu tidak cukup hanya dengan banyak membaca, menghafal, atau menguasai berbagai pengetahuan. Ada adab yang harus menyertai proses mencari dan mengajarkan ilmu.
Terjemah kitab ini ditulis oleh Imam Nawawi, diterbitkan oleh DIVA Press, Yogyakarta, dan memiliki ketebalan 236 halaman. Dari susunan pembahasannya, buku ini menempatkan persoalan ilmu, guru, murid, dan hubungan keduanya sebagai perkara yang sangat penting. Bahkan pembahasan tentang fadhilah ilmu diletakkan di bagian awal, seolah mengingatkan pembaca bahwa kemuliaan ilmu harus berjalan beriringan dengan kemuliaan akhlak orang yang memilikinya.
Baca: Tasawuf Antara Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah
Salah satu bagian menarik adalah pembahasan Fadhilah Ilmu, yang kemudian menguraikan hubungan antara berilmu dan beribadah, pentingnya menyandangkan keagungan kepada ilmu, menjadikan ridha Allah sebagai tujuan berilmu, serta kewajiban memuliakan para ulama.
Buku ini seperti mengingatkan bahwa ilmu bukan sekadar sesuatu yang membuat seseorang “lebih tahu” daripada orang lain. Ilmu semestinya membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, semakin rendah hati, semakin menghormati orang berilmu, dan semakin sadar akan tanggung jawab dari pengetahuan yang dimilikinya.
Baca: Sejarah Dzikrul Ghofilin dan Fadhilah Bacaan-Bacaannya
Buku ini juga membahas macam-macam ilmu, dengan pembagian antara ilmu syar'i dan ilmu ghairu syar'i, disertai cabang pembahasan mengenai masalah mengajarkan ilmu dan memberikan fatwa. Setelah itu, perhatian diarahkan kepada etika guru (al-mu'allim).
Menariknya, pembahasan tentang guru tidak diposisikan sebagai perkara sampingan. Seorang guru bukan hanya dituntut memiliki pengetahuan, tetapi juga harus memiliki kepribadian dan sikap yang pantas menjadi teladan bagi murid-muridnya. Silakan download terjemahnya, via link di bawah ini:
Tidak kalah penting, buku ini menyediakan pembahasan khusus mengenai etika murid (al-muta'allim) dan etika bersama antara guru dan murid. Guru memiliki tanggung jawab moral dalam mengajar, sementara murid juga memiliki kewajiban menjaga adab ketika mencari ilmu. Di bagian akhir membahas etika dalam berfatwa, termasuk adab pihak pemberi fatwa (al-mufti) dan pihak yang meminta fatwa (al-mustafti).
Terjemah Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim bukan sekadar buku tentang teori pendidikan Islam, melainkan bacaan yang mengingatkan kita bahwa ilmu tanpa adab dapat kehilangan ruhnya. Buku ini sangat relevan bagi santri, pelajar, mahasiswa, guru, ustaz, pengasuh pesantren, maupun siapa saja yang sedang menempuh jalan ilmu. (wn-ab)






