![]() |
| Jenis-jenis novel yang ada. |
WAWASANews.com - Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra prosa yang paling luas ruang geraknya. Dibandingkan cerpen, novel memungkinkan pengarang membangun cerita yang panjang, menghadirkan banyak tokoh, mengembangkan konflik secara bertahap, serta menggambarkan perubahan karakter dan kehidupan secara lebih mendalam. Karena ruangnya luas, novel kemudian berkembang menjadi berbagai macam jenis atau genre, tergantung pada tema, konflik, latar, cara penceritaan, maupun sasaran pembacanya.
Namun, ada satu hal yang perlu dipahami sejak awal: jenis novel tidak selalu berdiri sendiri. Sebuah novel bisa sekaligus menjadi novel sejarah, romantis, religius, dan psikologis. Novel lain bisa merupakan gabungan misteri dan thriller, atau fantasi sekaligus petualangan. Karena itu, penggolongan novel sebenarnya tidak seperti memasukkan buku ke dalam satu kotak yang tertutup rapat. Satu karya dapat mempunyai beberapa genre sekaligus.
1. Novel Romantis atau Romance
Novel romantis adalah novel yang menjadikan hubungan cinta dan persoalan asmara sebagai salah satu pusat utama cerita. Konfliknya dapat berupa pertemuan dua orang, cinta yang tidak direstui, perbedaan status sosial, cinta segitiga, perpisahan, pengkhianatan, hingga perjuangan mempertahankan hubungan. Akhir ceritanya pun tidak harus selalu bahagia; bisa berakhir bahagia, tragis, atau menggantung.
Karena cinta merupakan pengalaman universal manusia, genre ini termasuk salah satu genre novel yang sangat populer. Bahkan novel yang sebenarnya mempunyai tema utama lain, misalnya sejarah atau religi, sering diberi unsur romantis untuk memperkuat konflik dan membuat hubungan antartokohnya lebih hidup.
2. Novel Sejarah atau Historical Fiction
Novel sejarah adalah novel yang menggunakan periode, peristiwa, tokoh, masyarakat, atau latar sejarah tertentu sebagai bagian penting dari cerita. Pengarang dapat mengambil peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi kemudian memasukkan tokoh-tokoh fiktif ke dalamnya, atau menggunakan tokoh sejarah nyata tetapi mengembangkan percakapan dan adegan berdasarkan imajinasi.
Karena itu, novel sejarah tidak selalu sama dengan buku sejarah. Buku sejarah bertujuan menyampaikan fakta sejarah, sedangkan novel sejarah bertujuan membangun cerita sastra dengan memanfaatkan latar sejarah. Pengarang memiliki ruang untuk melakukan dramatisasi, selama tidak keliru menyamakan seluruh bagian novel dengan fakta sejarah.
3. Novel Misteri
Novel misteri dibangun di sekitar teka-teki, rahasia, kejahatan, kehilangan, atau peristiwa yang belum diketahui jawabannya. Pembaca diajak mengikuti petunjuk yang diberikan sedikit demi sedikit hingga misteri tersebut terpecahkan. Rasa penasaran merupakan salah satu kekuatan utama genre ini. Dalam novel misteri, pembaca sering dibuat bertanya: siapa pelakunya, apa motifnya, bagaimana peristiwa itu terjadi, atau apa sebenarnya yang disembunyikan oleh seorang tokoh.
4. Novel Detektif
Novel detektif sebenarnya dapat dianggap sebagai cabang atau bentuk khusus dari novel misteri. Pusat ceritanya adalah penyelidikan terhadap suatu kejahatan atau kasus, biasanya dilakukan oleh detektif, polisi, penyelidik swasta, atau seseorang yang mempunyai kemampuan memecahkan perkara. Daya tariknya terletak pada proses menemukan fakta. Pembaca bukan hanya menunggu jawaban, tetapi ikut mencoba memecahkan kasus berdasarkan bukti, saksi, motif, dan petunjuk yang diberikan pengarang.
5. Novel Thriller
Jika misteri terutama membuat pembaca penasaran, thriller lebih menekankan ketegangan, bahaya, ancaman, dan kecepatan konflik. Tokoh biasanya menghadapi situasi yang mendesak: dikejar pembunuh, harus menyelamatkan seseorang, mencegah bencana, membongkar konspirasi, atau melarikan diri dari bahaya. Karena itu, thriller sering membuat pembaca merasa bahwa sesuatu yang buruk bisa terjadi kapan saja. Unsur misteri dapat ada di dalamnya, tetapi thriller tidak selalu membutuhkan teka-teki sebagai pusat cerita.
6. Novel Horor
Novel horor bertujuan membangun rasa takut, ngeri, cemas, atau teror pada pembacanya. Sumber ketakutan bisa berupa hantu, makhluk gaib, kutukan, tempat angker, fenomena supranatural, penyakit, manusia yang mengerikan, atau bahkan ketakutan psikologis. Horor tidak harus selalu berbicara tentang hantu. Sebuah novel tanpa makhluk gaib pun dapat menjadi horor jika berhasil membangun suasana mengerikan dan rasa terancam yang kuat.
7. Novel Fantasi
Novel fantasi membawa pembaca ke dalam dunia yang tidak sepenuhnya mengikuti hukum realitas sehari-hari. Di dalamnya dapat terdapat sihir, kerajaan khayalan, makhluk ajaib, benda berkekuatan khusus, dunia paralel, atau kekuatan supranatural. Fantasi memiliki cakupan yang sangat luas. Ada fantasi yang benar-benar menciptakan dunia baru, tetapi ada pula yang menempatkan unsur magis di tengah dunia yang menyerupai dunia kita.
8. Novel Fiksi Ilmiah atau Science Fiction
Fiksi ilmiah menggunakan sains, teknologi, masa depan, perjalanan antariksa, kecerdasan buatan, rekayasa genetika, robot, dunia alternatif, atau kemungkinan perkembangan ilmu pengetahuan sebagai bagian penting cerita. Yang membedakannya dari fantasi adalah kecenderungannya menggunakan gagasan ilmiah atau teknologi sebagai dasar spekulasi. Sebuah novel science fiction dapat bertanya: Bagaimana jika manusia berhasil hidup di planet lain? Bagaimana jika kecerdasan buatan menjadi lebih cerdas daripada manusia? Genre ini kemudian menggunakan pertanyaan tersebut untuk membangun cerita.
9. Novel Petualangan
Novel petualangan berpusat pada perjalanan, penjelajahan, pencarian, atau pengalaman berbahaya yang dialami tokoh. Tokohnya dapat melakukan perjalanan ke tempat asing, mencari harta karun, menjelajahi wilayah yang belum dikenal, menyelamatkan seseorang, atau menghadapi berbagai rintangan. Dalam novel petualangan, perjalanan tokoh sering kali bukan hanya perjalanan geografis. Perjalanan tersebut dapat sekaligus menjadi perjalanan menuju kedewasaan atau perubahan kepribadian.
10. Novel Komedi atau Humor
Novel komedi menjadikan kelucuan, humor, situasi absurd, dialog jenaka, atau tingkah laku tokoh sebagai kekuatan utama cerita. Tujuannya terutama memberikan hiburan dan membuat pembaca tertawa. Komedi juga dapat digabungkan dengan genre lain. Ada komedi romantis (romantic comedy), komedi keluarga, komedi sosial, bahkan komedi politik.
11. Novel Psikologis
Novel psikologis lebih banyak mengeksplorasi pikiran, perasaan, kejiwaan, trauma, konflik batin, motivasi, dan perubahan mental tokoh. Dalam novel seperti ini, peristiwa lahiriah kadang justru tidak sebanyak novel petualangan. Yang menarik adalah apa yang terjadi di dalam kepala tokoh. Mengapa seseorang mengambil keputusan tertentu? Mengapa ia takut? Mengapa ia membenci seseorang? Bagaimana trauma masa lalu memengaruhi perilakunya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi pusat cerita. Literatur tentang jenis novel juga mengenali novel psikologis sebagai bentuk yang berfokus pada pergolakan kejiwaan tokoh.
12. Novel Sosial
Novel sosial menjadikan kehidupan masyarakat dan persoalan sosial sebagai perhatian utama. Isinya dapat membicarakan kemiskinan, kesenjangan sosial, adat istiadat, konflik kelas, kehidupan desa dan kota, diskriminasi, perubahan sosial, atau ketidakadilan. Dalam jenis ini, masyarakat bukan sekadar latar belakang. Kehidupan sosial justru menjadi bagian penting dari konflik cerita.
13. Novel Politik
Novel politik menggunakan kekuasaan, pemerintahan, ideologi, konflik politik, revolusi, perang, korupsi, atau perebutan kekuasaan sebagai bagian utama cerita. Novel politik tidak harus berupa uraian politik yang berat. Konflik politik dapat ditampilkan melalui kehidupan seorang keluarga, wartawan, aktivis, pejabat, tentara, atau masyarakat biasa yang terkena dampak perubahan politik.
14. Novel Religius atau Islami
Novel religius menjadikan agama, spiritualitas, moralitas, pencarian Tuhan, kehidupan beragama, atau persoalan keimanan sebagai bagian penting dari cerita. Dalam konteks Islam, sering disebut novel Islami apabila nilai, konflik, tokoh, atau sudut pandangnya kuat berkaitan dengan ajaran Islam. Menariknya, novel Islami tidak harus selalu berbentuk cerita dakwah secara langsung. Sebuah novel tentang keluarga, cinta, sejarah, atau perjalanan seseorang bisa menjadi novel Islami apabila nilai keislaman menjadi bagian fundamental dari cerita.
15. Novel Inspiratif
Novel inspiratif adalah novel yang dirancang untuk menghadirkan kisah perjuangan, keteladanan, harapan, perubahan diri, dan nilai kehidupan yang dapat membangkitkan semangat pembaca. Pesan moral biasanya cukup kuat dalam jenis novel ini. Tokohnya biasanya mengalami kesulitan besar, kemudian berjuang menghadapi keadaan tersebut. Karena itu, novel inspiratif sering berakhir dengan perubahan atau pencapaian tertentu.
16. Novel Keluarga atau Family Saga
Novel keluarga berfokus pada kehidupan sebuah keluarga dan hubungan antaranggota keluarga, sedangkan family saga biasanya menceritakan perjalanan sebuah keluarga dalam rentang waktu yang panjang, bahkan lintas generasi. Di dalamnya dapat terdapat persoalan warisan, pernikahan, konflik orang tua dan anak, perubahan ekonomi, rahasia keluarga, perpindahan tempat, hingga perubahan masyarakat. Karena rentang waktunya panjang, satu keluarga dapat menjadi semacam cermin perubahan zaman.
17. Novel Coming-of-Age
Novel coming-of-age berfokus pada proses seorang tokoh, biasanya remaja atau orang muda, menuju kedewasaan. Konfliknya dapat berkaitan dengan keluarga, persahabatan, cinta pertama, pendidikan, pencarian identitas, kegagalan, dan tanggung jawab. Yang paling penting bukan sekadar usia tokohnya, melainkan perubahan dirinya. Tokoh yang pada awal cerita masih naif atau belum memahami kehidupan biasanya mengalami serangkaian peristiwa yang membuatnya menjadi lebih dewasa.
18. Novel Distopia
Novel distopia menggambarkan masyarakat atau masa depan yang buruk, represif, tidak manusiawi, atau penuh kontrol. Pemerintah atau sistem sosial dalam cerita biasanya mengendalikan kehidupan manusia secara berlebihan. Genre ini sering digunakan untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial-politik masa kini. Dengan menciptakan dunia yang ekstrem, pengarang sebenarnya sedang bertanya: Ke mana masyarakat kita akan menuju jika kecenderungan tertentu dibiarkan terus berkembang?
19. Novel Utopia
Jika distopia menggambarkan masyarakat yang buruk atau menindas, utopia menggambarkan masyarakat ideal yang dibayangkan sebagai tempat dengan kehidupan yang sangat baik, damai, adil, atau tertata. Akan tetapi, novel utopia sering tidak sesederhana cerita tentang “dunia sempurna”. Banyak karya justru menggunakan masyarakat ideal sebagai alat untuk mempertanyakan apakah kesempurnaan sosial benar-benar mungkin diwujudkan.
20. Novel Alegoris
Novel alegoris adalah novel yang menggunakan cerita, tokoh, benda, tempat, atau perjalanan sebagai lambang untuk menyampaikan gagasan lain yang lebih dalam. Jadi, sebuah cerita mempunyai makna literal sekaligus makna simbolis. Misalnya seorang tokoh berjalan melewati gurun menuju sebuah kota. Secara literal, ia memang melakukan perjalanan. Tetapi secara alegoris, gurun bisa melambangkan kehidupan, perjalanan bisa melambangkan pencarian jati diri, dan kota tujuan bisa melambangkan keselamatan atau tujuan hidup. Karena itu, ketika membaca novel alegoris, pembaca tidak cukup bertanya, “Apa yang terjadi?”, tetapi juga “Apa yang dilambangkan oleh kejadian tersebut?”
21. Novel Biografis atau Novel Biografi
Novel biografis mengambil kehidupan tokoh nyata sebagai bahan utama, tetapi menyajikannya dengan teknik dan gaya novel. Di sini perlu kehati-hatian: novel biografis tidak otomatis sama dengan biografi ilmiah. Pengarang dapat menggunakan dialog, penggambaran suasana, atau adegan dramatik yang tidak seluruhnya terdokumentasi secara historis. Contoh yang relevan dengan buku yang tadi Anda tunjukkan adalah Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan karya Tasaro GK. Buku tersebut merupakan novel biografi, sehingga kehidupan Nabi Muhammad Saw diolah ke dalam bentuk penceritaan novel, bukan disajikan sebagai kitab sirah akademik biasa.
22. Novel Epistolari
Novel epistolari adalah novel yang ceritanya disampaikan melalui surat, catatan harian, email, pesan, dokumen, atau bentuk komunikasi tertulis lainnya. Alih-alih narator menjelaskan seluruh kejadian secara langsung, pembaca mengetahui peristiwa melalui surat atau catatan yang dibuat oleh tokoh. Teknik ini membuat pembaca merasa seolah-olah sedang menemukan dokumen pribadi dari para tokohnya.
23. Novel Eksperimental
Novel eksperimental adalah novel yang sengaja mencoba keluar dari pola penceritaan konvensional. Pengarang dapat bermain dengan urutan waktu, sudut pandang, bentuk bahasa, struktur bab, tipografi, atau cara pembaca memperoleh informasi. Tidak semua novel eksperimental mudah dibaca. Justru eksperimen terhadap bentuk merupakan bagian dari pengalaman membaca. Tujuannya sering bukan hanya menceritakan apa yang terjadi, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana sebuah cerita dapat diceritakan.
Lalu, apakah ada satu novel yang hanya mempunyai satu jenis? Tidak harus. Inilah hal penting yang sering membuat pembaca bingung. Sebuah novel bisa saja disebut: Novel sejarah + romantis + psikologis + religius. Atau Novel fantasi + petualangan + thriller. Bahkan Novel sejarah + alegoris + filosofis.
Semua label tersebut dapat benar apabila masing-masing memang mempunyai dasar dalam struktur cerita. Karena itu, istilah “genre novel” lebih tepat dipahami sebagai cara kita membaca dan mengelompokkan sebuah karya, bukan sebagai kotak mutlak yang tidak boleh tumpang tindih. Sumber-sumber pengantar sastra pun mengelompokkan novel berdasarkan beberapa dasar yang berbeda—misalnya realitas cerita, genre, isi, tokoh, maupun target pembaca.
Selain berdasarkan tema, novel juga dapat dikelompokkan berdasarkan sasaran pembaca. Misalnya teenlit untuk pembaca remaja, chicklit yang umumnya berfokus pada kehidupan perempuan muda, songlit yang berangkat dari lagu, dan novel dewasa yang menghadirkan persoalan kehidupan dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Sebuah istilah seperti teenlit sebenarnya tidak selalu menunjukkan tema cerita. Ia lebih banyak menunjukkan segmen pembaca dan karakter pasar. Sebuah teenlit misalnya masih bisa sekaligus bergenre romance, drama, atau coming-of-age. (wn-ab)






