Iklan

Hari Santri, Ratusan Nahdliyin Padati Tanjunganyar, Bahas Buku Sejarah Wafat Rasulullah hingga Parenting

WAWASANews.com
Senin, 26 Oktober 2026 | 03.43 WIB Last Updated 2026-10-25T20:43:59Z
Paket Ebook 32 GB

Bedah buku sejarah wafat dan tertundanya pemakaman rasulullah saw
Talk Show Hari Santri Nasional MWC NU Kecamatan Gajah, Demak, malam Senin (25/10/2026).

WAWASANews.com - Lapangan Balai Desa Tanjunganyar, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak dipadati lebih dari 300 warga dan kader Nahdlatul Ulama (NU), Ahad (25/10/2026) malam. Kehadiran massa yang melimpah, dan kebanyakan ibu-ibu ini, merupakan bagian dari gelaran Talk Show Hari Santri Nasional yang diusung oleh Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor PAC GP Ansor Kecamatan Gajah.

Mengusung tema besar "Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas", acara ini menghadirkan perpaduan refleksi sejarah, kebangsaan, serta solusi atas persoalan riil pengasuhan anak di era digital. Acara berlangsung semarak dan penuh antusiasme mulai pukul 20.00 hingga 22.30 WIB. Turut hadir dalam kesempatan tersebut barisan kader lintas badan otonom (Banom) NU, mulai dari pengurus Ranting NU Tanjunganyar, PAC Muslimat NU, PAC Fatayat NU, hingga kader muda dari IPNU dan IPPNU Kecamatan Gajah.

Suasana diskusi berlangsung hangat saat ketiga narasumber membedah sudut pandang masing-masing sesuai kepakaran mereka. M. Abdullah Badri, dalam sesi pembedahan bukunya yang berjudul Sejarah Wafat dan Tertundanya Pemakaman Rasulullah Saw, ia mengajak para santri dan jemaah untuk menyelami hikmah mendalam di balik dinamika sejarah kepemimpinan Islam pasca-wafatnya Nabi Muhammad saw. 

Pembedahan buku ini menyajikan catatan kritis sekaligus reflektif tentang bagaimana persatuan umat harus tetap dijaga di tengah situasi krusial. "Tertundanya pemakaman Rasulullah itu bukan karena para sahabat berebut tahta, itu salah. Tapi, karena ratusan ribu sahabat Nabi antri menyalatkan jenazah. Jika keliru memahami sejarah, Anda bisa terjebak radikalisme pemikiran sebagaimana Khilafatul Muslimin (KM) yang saya ungkap di buku saya itu," paparnya saat mengurai isi karyanya di hadapan ratusan peserta. 

Baca: Order Buku Sejarah Wafat dan Tertundanya Pemakaman Rasulullah Saw

Di sesi lain, Hasan Hamid, jurnalis Suara Merdeka, juga mengungkap kontribusi konkret para ulama dalam mengawal kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, rekam jejak perjuangan santri bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan pondasi penting bagi generasi muda NU hari ini untuk mengisi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. "Santri tidak boleh melupakan akar sejarahnya. Peran ulama NU dalam mendirikan dan mempertahankan Republik ini adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai pesantren selalu selaras dengan semangat kebangsaan," katanya di sela-sela pemaparan materi.

Sementara itu, KH. Subkhan, Ketua MWC NU Kecamatan Gajah, menyoroti isu terkait pola asuh anak di tengah gempuran teknologi. Kiai Subkhan membeberkan hasil survei sederhana terhadap 100 anak yang sering kedapatan mengantuk dan kurang fokus saat mengaji atau bersekolah di pagi hari. 

"Saat ditanya kenapa pagi-pagi sudah mengantuk dan lesu, jawaban dari mayoritas anak-anak kita ini sungguh memprihatinkan. Bukannya karena semalaman bangun untuk shalat tahajud atau mendoakan orang tuanya, melainkan karena semalaman asyik main HP," ulasnya dengan nada prihatin.

Baca: Mengenal Isi Buku Jejak dan Kisah Datuk Jokosari Ngabul, Tahunan, Jepara

Kiai Subkhan menegaskan bahwa benteng utama keberhasilan generasi Indonesia Emas ada pada perhatian orang tua di rumah. Beliau meminta para wali santri dan warga NU untuk lebih tegas membatasi penggunaan gawai (gadget) pada anak, terutama menjelang jam tidur malam.

"Jangan sampai teknologi yang seharusnya membuat anak kita cerdas justru mematikan masa depannya hanya karena kita melonggarkan pengawasan di rumah. Mendidik anak agar bijak berteknologi adalah bentuk perjuangan santri masa kini," tegas Ketua MWC NU Kecamatan Gajah tersebut.

Acara yang diprakarsai MDS Rijalul Ansor ini ditutup dengan makan bersama, sekaligus menjadi momentum konsolidasi organisasi yang erat antar-kader NU se-Kecamatan Gajah. Panitia berharap ajang seperti ini terus berlanjut sebagai wadah edukasi kritis sekaligus penyambung silaturahmi antar-generasi nahdliyin. (wn-ab)

Kitab Kuning Makna Pesantren dan Pegon
Paket 498 Buku dan Jurnal
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hari Santri, Ratusan Nahdliyin Padati Tanjunganyar, Bahas Buku Sejarah Wafat Rasulullah hingga Parenting

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF