![]() |
| Terjemah Al-Ibanah wal Ifadhah (Kupas Tuntas Haid). |
WAWASANews.com - Terjemah Al-Ibanah Wal Ifadhah (الإبانة والإفاضة في أحكام الحيض والنفاس والاستحاضة), yang berarti Penjelasan dan Uraian tentang Hukum Haid, Nifas, dan Istihadhah, merupakan karya Sayyid Al-Habib Dr. Abdurrahman bin Abdullah As-Saggaf.
Dalam edisi terjemahan ini, judulnya ditampilkan sebagai Al-Ibanah Wal Ifadhah: Kupas Tuntas Hukum Haid, Nifas & Istihadah dan diterjemahkan oleh H. Fakhry Emil Habib, Lc., Dipl. PDF yang dibahas terdiri atas 96 halaman. Silakan download via link tersedia di bawah ini:
Secara umum, buku ini membahas hukum-hukum yang berkaitan dengan darah perempuan, terutama haid, nifas, dan istihadhah. Pembahasannya dimulai dari pengantar umum mengenai darah yang keluar dari kemaluan perempuan, kemudian bergerak pada persoalan usia, tanda, durasi, warna, sifat darah, masa suci, hingga berbagai keadaan yang membuat seorang perempuan perlu menentukan status darah yang dialaminya menurut mazhab Imam Syafi'i.
Buku ini terdiri atas delapan kajian utama. Kajian Pertama Seputar Darah yang Keluar dari Kemaluan (Faraj), dengan subbahasan Haid, Hikmah di Balik Haid, Nifas, Istihadhah, dan Cairan Kewanitaan. Kajian Kedua: Usia Terjadinya Haid, Durasi, Warna serta Sifat-sifatnya, yang membahas Usia Wanita yang Mungkin Mengalami Haid, Tanda-tanda Baligh, Durasi Haid, Sifat-sifat Darah Haid, Darah yang Keluar dari Kemaluan Wanita Hamil, serta Darah Haid yang Terputus-putus.
Baca: Terjemah Raudhatuth Thalibin Karya Imam Nawawi (3 Jilid)
Kajian Ketiga: Suci dari Haid dan Nifas, dengan pembahasan Kapankah Seorang Wanita Dapat Dikatakan Haid?, Kapankah Seorang Wanita Dapat Dikatakan Suci?, Hukum Flek yang Masih Keluar Setelah Mandi Junub, Tanda-tanda Suci dari Haid, Suci antara Dua Haid, Suci antara Haid dan Nifas, serta Suci antara Nifas dan Haid.
Kajian Keempat membahas Pengertian, Durasi serta Hal-hal yang Berkaitan dengan Nifas, meliputi Pengertian Nifas, Syarat Nifas, Lewat di Masjid Jika Takut Mengotori Masjid, Menyentuh Bagian antara Pusar dan Lutut (Bagi Suami), Bersuci dengan Niat Ibadah, serta Bolehkah Berhubungan Badan setelah Haid Jika Belum Mandi Junub? Kajian Keenam membahas Wanita Istihadhah dan Kewajibannya, meliputi Hukum Wanita yang Istihadhah, Kewajiban Wanita Istihadhah Jika Hendak Salat, serta Tanya-Jawab tentang Istihadhah.
Baca: Terjemah Majmu'ul Qayyim min Kalami Ibnul Qayyim (2 Jilid)
Kajian Ketujuh berjudul Istihadhah yang Menyertai Haid. Bagian ini memuat pembahasan Jenis-jenis Wanita yang Istihadhah, kemudian rincian keadaan Mubtada'ah Mumayyizah, Mubtada'ah Ghair Mumayyizah, Mu'tadah Mumayyizah, Mu'tadah Ghair Mumayyizah, Mutahayyirah Mutlaqah, Mutahayyirah Dzakirah li al-Waqt Nasyiah li al-'Adad, serta Mutahayyirah Nasyiah li al-Waqt al-Haidah Dzakirah fi al-'Adad.
Kajian Kedelapan membahas Istihadhah pada Masa Nifas, dengan rincian Mubtada'ah Mumayyizah, Mubtada'ah Ghair Mumayyizah, Mu'tadah Mumayyizah, Mu'tadah Ghair Mumayyizah, Mutahayyirah Mutlaqah, Mutahayyirah Dzakirah fi al-Waqt Nasyiah li al-'Adad, serta Mutahayyirah Dzakirah fi al-Qadr Nasyiah fi al-Waqt.
Baca: Terjemah Shahih Ibnu Khuzaimah (4 Jilid)
Membaca Terjemah Al-Ibanah Wal Ifadhah dapat membantu pembaca memahami persoalan fiqih perempuan secara lebih terstruktur, terutama perkara haid, nifas, dan istihadhah yang berkaitan erat dengan sah atau tidaknya sejumlah ibadah. Buku ini cocok bagi muslimah, santriwati, ustadzah, pengajar fiqih atau pasangan suami istri. Yuk download sekarang! (wn-ab)






