![]() |
| Cover Terjemah Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil Anfus. |
WAWASANews.com - Kitab Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil Anfus (المستخلص في تزكية الأنفس) yang berarti Intisari tentang Penyucian Jiwa merupakan karya Syaikh Sa'id Hawwa, seorang ulama dan pemikir Islam asal Suriah yang dikenal melalui kajiannya tentang pendidikan ruhani, akhlak, dan pembinaan jiwa.
Kitab ini disusun dengan mengambil banyak materi dari Ihya' Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, kemudian menyeleksi, meringkas, menyusun ulang, dan mengembangkan pembahasannya agar lebih terfokus pada persoalan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Menyucikan Jiwa, disertai subjudul Konsep Tazkiyatun Nafs Terpadu.
Edisi terjemahannya diterbitkan oleh Robbani Press, Jakarta, dengan penerjemah Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. Buku yang tersedia dalam format PDF sebanyak 658 halaman ini membahas berbagai metode membersihkan hati dari sifat tercela, membangun akhlak mulia, serta meningkatkan kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah. Silakan download melalui link berikut ini:
Secara umum, kitab ini membahas konsep penyucian jiwa dalam Islam melalui perpaduan antara ilmu, ibadah, dan pembinaan akhlak. Sa'id Hawwa menguraikan bahwa tazkiyatun nafs berkaitan dengan upaya membersihkan hati dari berbagai penyakit batin sekaligus menumbuhkan sifat-sifat terpuji. Sebab, keadaan hati memiliki hubungan erat dengan perilaku manusia, baik dalam menjalankan ibadah maupun berinteraksi dengan sesama. Kitab ini membicarakan berbagai amalan yang dapat menjadi sarana penyucian jiwa, seperti shalat, puasa, dzikir, membaca Al-Qur'an, muhasabah, dan mengingat kematian.
Kitab Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil Anfus tersusun dalam empat bab atau bagian besar yang membahas adab menuntut ilmu, sarana penyucian jiwa, hakikat tazkiyah, serta hasil yang tampak dalam perilaku manusia. Bagian pertama menguraikan adab seorang guru dan murid dalam kegiatan belajar dan mengajar. Pembahasannya berkaitan dengan kedudukan ilmu, tanggung jawab orang berilmu, serta pentingnya menjaga niat dan akhlak dalam mencari pengetahuan.
Baca: Terjemah Adabus Shuhbah wal Mu'asyarah Al-Ghazali
Bagian kedua membahas berbagai sarana yang dapat digunakan seorang muslim untuk membersihkan dan membina jiwanya. Dalam bagian ini, Sa'id Hawwa menguraikan peranan ibadah dan amalan keagamaan sebagai bagian dari proses tazkiyah. Pembahasannya meliputi shalat, zakat, infak, puasa, haji, membaca Al-Qur'an, dzikir, serta berbagai bentuk ibadah lainnya. Selain itu, terdapat uraian mengenai tafakur, muhasabah, dan mengingat kematian sebagai bagian dari kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan kehidupan batin.
Sementara itu, bagian ketiga menguraikan hakikat penyucian jiwa dan berbagai keadaan hati yang berkaitan dengannya. Pembahasannya mencakup upaya membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, seperti riya, ujub, kesombongan, kedengkian, serta kecintaan berlebihan terhadap kehidupan dunia. Selain itu, Sa'id Hawwa membicarakan berbagai sifat terpuji yang perlu dikembangkan, seperti ikhlas, sabar, syukur, tawakal, takut dan berharap kepada Allah, serta cinta kepada-Nya.
Baca: Terjemah Tahafutul Falasifah Karya Imam Al-Ghazali
Adapun bagian keempat membahas hasil penyucian jiwa yang tercermin dalam perilaku dan hubungan sosial manusia. Pembahasannya berkaitan dengan kemampuan menjaga lisan, mengendalikan anggota tubuh, serta menerapkan adab dalam berhubungan dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat. Selain itu, kitab ini memberikan perhatian pada hubungan antara kebersihan hati dan akhlak seseorang ketika menghadapi berbagai keadaan kehidupan.
Membaca buku Menyucikan Jiwa dapat membantu pembaca memahami berbagai metode tazkiyatun nafs yang bersumber dari khazanah pemikiran Islam klasik, khususnya ajaran penyucian jiwa yang banyak dibahas Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin. Uraiannya memberikan bahan pembelajaran mengenai cara mengenali penyakit hati, memperbaiki niat, membiasakan ibadah, serta menumbuhkan akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, download sekarang! (wn-ab)






