![]() |
| Hukum Shalat Sunnah Rabo Wekasan Menurut KH Hasyim Asy'ari dan Ulama Fikih. |
Oleh Makruf Han
WAWASANews.com - Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari menegaskan bahwa shalat Rabo Wekasan tidak memiliki landasan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan dalam syariat Islam. Sehingga melaksanakannya dengan niat khusus shalat Rebo Wekasan adalah haram dan tidak sah.
Dalam himpunan fatwanya, Rais Akbar Nahdlatul Ulama tersebut menyatakan:
اورا ويناع فيتواه اجاء اجاء لن علاكوني صلاة رابو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سؤال كارنا صلاة لورو ايكو ماهو اورا انا اصلى في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كايا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين ، التحرير لن سافندوكور كايا كتاب النهاية المهذب لن احياء علوم الدين، كابيه ماهو أورا انا كاع نوتور صلاة كاع كاسبوت. الى ان قال وليس لأحد أن يستبدل بما صح عن رسول الله انه قال الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل، فإن ذلك مختص بصلاة مشروعة
Terjemah:
"Tidak boleh berfatwa, mengajak dan melakukan shalat Rabu Wekasan dan shalat hadiah yang disebutkan dalam pertanyaan, karena dua shalat tersebut tidak ada dasarnya dalam syari'at. Tendensinya adalah bahwa kitab-kitab yang bisa dibuat pijakan tidak menyebutkannya, seperti kitab Al-Taqrib, Al-Minhaj Al-Qawim, Fath Al-Mu'in, Al-Tahrir dan kitab seatasnya seperti Al-Nihayah, Al-Muhadzab dan Ihya' Ulum Al-Din. Semua kitab-kitab tersebut tidak ada yang menyebutkannya. Bagi siapapun tidak boleh berdalih kebolehan melakukan kedua shalat tersebut dengan hadits shahih bahwa Nabi bersabda, shalat adalah sebaik-baiknya tempat, perbanyaklah atau sedikitkanlah, karena sesungguhnya hadits tersebut hanya mengarah kepada shalat-shalat yang disyari'atkan." (KH. Hasyim Asy'ari sebagaimana dikutip kumpulan Hasil Bahts Al-Masail PWNU Jawa Timur)
Namun, menurut Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Qudus, bila shalat-shalat tersebut diniati secara khusus sebagai shalat Rebo Wekasan, maka hukumnya memang haram dan tidak sah, sebagaimana banyak ditemukan dalam kitab-kitab turats. Akan tetapi, jika niatnya dialihkan menjadi shalat sunnah mutlak, maka hukumnya menjadi boleh dan sah.
Syaikh Abdul Hamid Al-Qudsi Al-Makki menegaskan:
قلت ومثله صلاة صفر فمن أراد الصلاة فى وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له . انتهى
Terjemah:
"Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah shalat Shafar (Rabu Wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunnah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunnah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya". (Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Qudus Al-Makki, Kanz Al-Najah wa Al-Surur, hal. 22). (wn-ab)






