Iklan

Adab Menulis Nama Sahabat dan Ulama' Sesuai Pendapat KH. Hasyim Asy'ari

WAWASANews.com
Jumat, 30 Oktober 2026 | 11.41 WIB Last Updated 2026-10-30T04:41:52Z
Paket Ebook 32 GB

Adab Menulis Nama Sahabat dan Ulama' Sesuai Pendapat KH. Hasyim Asy'ari
Adab Menulis Nama Sahabat dan Ulama' Sesuai Pendapat KH. Hasyim Asy'ari.

Oleh Makruf Han

WAWASANews.com - Salah satu adab penting yang diajarkan oleh para ulama adalah memuliakan orang-orang yang telah berjasa menjaga dan menyebarkan ajaran agama ini. Bentuk penghormatan tersebut tidak hanya diwujudkan lewat lisan, tetapi juga melalui tulisan. KH Hasyim Asy'ari ra dalam kitab Adab Al-'Alim wa Al-Muta'allim menjelaskan:

وَإِذَا مَرَّ بِذِكْرِ الصَّحَابِيِّ كَتَبَ: رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ صَحَابِيًّا ابْنَ صَحَابِيٍّ كَتَبَ: رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا. وَكُلَّمَا مَرَّ بِذِكْرِ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الْأَخْيَارِ وَالْعُلَمَاءِ الْأَبْرَارِ فَعَلَ ذَلِكَ، أَوْ كَتَبَ: رَحِمَهُ اللَّهُ. وَلَا سِيَّمَا الْأَئِمَّةُ الْأَعْلَامُ وَهُدَاةُ الْإِسْلَامِ. وَيَكْتُبُ كُلَّ هَذَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَكْتُوبًا فِي الْأَصْلِ الَّذِي يَنْقُلُ مِنْهُ، فَإِنَّ هَذَا لَيْسَ رِوَايَةً، وَإِنَّمَا هُوَ دُعَاءٌ. وَيَنْبَغِي لِلْقَارِئِ أَنْ يَقْرَأَ كُلَّ مَا ذُكِرَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَذْكُورًا فِي الْأَصْلِ الَّذِي يَقْرَأُ مِنْهُ، وَلَا سِيَّمَا مَنْ تَكَرَّرَ ذَلِكَ، فَإِنَّ فِي هَذَا خَيْرًا عَظِيمًا وَفَضْلًا جَسِيمً

Terjemah:

"Apabila menyebut nama seorang sahabat, hendaknya ia menuliskan ra. Jika yang disebut adalah seorang sahabat yang merupakan putra sahabat, maka ditulis ra. Setiap kali menyebut salah seorang salaf yang saleh atau ulama yang mulia, hendaknya ia melakukan hal yang sama atau menulis ra, terlebih lagi terhadap para imam besar dan para pembimbing umat Islam. Semua itu tetap dianjurkan untuk ditulis meskipun tidak terdapat dalam naskah asli yang sedang dinukil, karena hal tersebut bukan termasuk periwayatan, melainkan doa. Demikian pula, orang yang membacanya dianjurkan untuk mengucapkannya, walaupun tidak tertulis dalam naskah yang sedang dibaca, terutama jika nama tersebut berulang-ulang. Sebab, di dalamnya terdapat kebaikan yang sangat besar dan keutamaan yang agung." (Adab Al-'Alim wa Al-Muta'allim, hlm. 101)

Dari penjelasan di atas, kita dapat memahami bahwa menyematkan gelar doa seperti ra ketika menyebut nama para sahabat maupun ulama bukanlah tindakan mengubah isi riwayat atau menambah-nambahi kitab. Ungkapan tersebut murni berbentuk doa serta wujud penghormatan yang setinggi-tingginya kepada para pejuang agama.

Baca: Menerima Pemberian Setelah Menolong, Hadiah atau Suap?

Oleh karena itu, para ulama terdahulu sangat menjaga adab ini. Bahkan seseorang yang sedang membaca sebuah naskah pun sangat dianjurkan untuk tetap mengucapkan doa tersebut secara lisan meskipun lafadznya tidak tertera di dalam naskah yang dibaca. Semakin sering doa itu diucapkan dan dituliskan, semakin melimpah pula pahala serta keberkahan yang didapat.

Sebagai penuntut ilmu, sudah sepantasnya kita membiasakan diri untuk selalu menyertakan dan mengucapkan doa bagi para sahabat, tabi'in, serta para ulama. Selain sebagai wujud adab kepada para pewaris ilmu Nabi Saw, kebiasaan mulia ini juga menjadi sarana yang mendatangkan kebaikan dan keberkahan dalam kehidupan kita. (wn-ab)

Kitab Kuning Makna Pesantren dan Pegon
Ebook Terjemah 40 GB
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Adab Menulis Nama Sahabat dan Ulama' Sesuai Pendapat KH. Hasyim Asy'ari

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF