Kejahatan Manusia Laki-Laki?

Cerbung Episode ke 38…

Oleh Sofi Muhammad

Penghuni kos di UNNES ramah-ramah. Benar kata Bu Sur, mereka risih banget kalau ditarik uang kos oleh cewek. Begitu aku sampai di sana, pada malu-malu begitu bagi yang sedang bokek, terus pinjam ke temannya.
Mungkin karena aku penarik duit yang baru juga kali ya, jadinya mereka istilahnya belum berani ngutang. Tapi, kalau aku sudah terbiasa narik mungkin pada biasa juga. Bayar nanti-nanti seperti yang sering dikatan pada Bu Sur.
Dalam sehari, hanya satu lokasi saja jatahku. Untuk lokasi yang lain ada jadwalnya sendiri-sendiri. Ada yang awal bulan, tengah, juga akhir bulan. Tergantung dengan perjanjian yang telah ditempel di tembok kos dekat pintu utama.
Kalau sehabis narik di tempat yang cukup jauh dari rumah Bu Sur, seperti di IKIP, IAIN, UNNES, dan UDINUS, Bu Sur biasanya tidak memberiku pekerjaan tambahan lagi untuk bersih-bersih rumahnya.
Tapi, jika sehabis dari UNDIP, selain nantinya bersih-bersih rumah, pasti juga disuruh mampir ke mana-mana. Ubi madu kesukaannya itu, tak pernah lupa dipesankan. Padahal, repot sekali aku membawanya tapi dia cuek dan terus saja menyuruhku.
Oalah, sudah gemuk gitu, masih juga rakus soal makanan. Pantesan saja suaminya nggak betah. Bahkan, orangtuanya pun tak betah lalu lebih memilih untuk dikubur daripada hidup rebutan makanan sama anak semata wayangnya.
“Sakit jantung bapakku,” kata Bu Sur, “sedang ibuku gula darah.”
“Kalau saudaranya, Bu?”
“Saudara, saudara gimana,” katanya agak jengkel, “anak tunggal ini. Makanya si Warno itu mau menikahiku. Ternyata cuma ngincer hartaku. Rasain dia sekarang, emangnya enak.”
“Memangnya, tidak ada pembagian harta gono-gini?”
“Ya nggaklah,” jawabnya mantap sekali sambil membusungkan dadanya penuh keyakinan, “ini semuanya kan milikku. Mau nggugat cerai ke pengadilan saja dia tak punya duit kok.”
“O.”
“O? Cuma O?”
“Lha terus?”
“Pikir pakai otak. Jadi wanita itu harus tegas. Jangan sampai mau diakali lelaki!”
Aku hanya diam saja mendengarkan kejengkelannya. Meski bukan aku yang salah, tapi Bu Sur benar-benar seperti memarahiku. Bahkan sampai dituding-tudingnya mukaku ini. Kalau dilihat orang lewat pasti dikiranya aku sedang dimarahinya.
Padahal, lagi-lagi, ia memarahi suaminya yang kawin lagi itu. Mungkin cemburu, mungkin juga sangat benci karena dulunya sangat cinta.
Aku kini sedikit ikut terkontaminasi oleh keganasan kata-kata Bu Sur yang menghujaniku bertubi-tubi. Bak roket yang meluncur cepat sekali hingga mampu menerobos jantung pertahanan akal sehatku.
Dipengaruhinya benar-benar hingga terkadang, pikiranku membenarkan: benci dengan suami, mantan suaminya.
Aku sendiri jika diperlakukan demikian pasti juga tak akan terima.
“Lelaki itu egois, selalu menuntut istrinya jadi sempurna. Maunya yang cantik, seksi, padahal dia sendiri apa. Lha wong dia juga kurus krempeng, hitam, dekil,” Bu Sur masih saja belum puas. “Cuih, amit-amit deh, Ras. Jangan sampai mau kamu dikibuli sama laki-laki. Capek badan, capek ati!”

***
Kupandangi langit-langit kamar kos. Putih, hanya cat putih yang sama sekali tak bisa membuat tenang. Beberapa kali, kubolak-balikkan badan ini memeluk guling kemudian melemparkannya ke pojokan hingga membentur gelas usai kupakai mengaduk kopi nan pekat dan gelap.
TV yang nangkring di depanku rasanya ingin sekali kubenturkan, kubanting di lantai hingga berhamburan, hancur berkeping-keping. Biar tak ada yang tersisa sekalian. Baik gelas, TV, teko, figura, atau apa pun yang mampu nyaring kala dibanting, ingin sekali tangaku ini membantingnya.
Saking sesaknya dadaku, hingga air mata pun tak sanggup keluar lagi. Rambut yang sudah empat hari tak kukeramasi jadi tak terasa gatalnya. Otakku sedang terfokus pada satu hal saja; marah!
Benci sekali rasanya hidup seperti ini. Baru saja sedikit-sedikit ingin kulupakan perkataan Bu Sur tentang kejahatan lelaki tapi rupanya dia itu seratus persen benar. Di mana-mana, benar juga kata Mbak Dian, kata Santi juga. ternyata memang benar-benar tak ada pengecualian di dunia ini. Semua lelaki itu jahat, kejam!
Semakin nyata bahwa makhluk yang paling jahat di dunia ini adalah lelaki!
Seumur-umur, setengah mati aku mencoba menepis anggapan itu. Kubilang, tidak semua, tidak semua pasti. Tapi, nyatanya apa?
Benar-benar brengsek, jahat, keparat, tak ada yang mampu menandingi kekejaman lelaki. Nggak di sini atau di sana, nggak anak pejabat, bahkan pejabatnya sendiri pun sama. Tak ada lelaki bersih, apa lagi benar-benar baik.
Jika setengah mati ada wanita yang menyayanginya justru pasti pikiran liciknya muncul. Ia berusaha untuk mengambil sebanyak-banyaknya keuntungan lalu diam-diam menghianatinya dari belakang.
Akh, sakit sekali rasanya. Hingga remot TV yang berada di depan mata pun kubanting sekeras mungkin. Juga gelas sisa kopi yang tergeletak kotor kena lemparan guling, kuambil kemudian benar-benar kubanting sekuat mungkin.
Hancur benar perasaan ini. Tak pernah kusangka jika benar-benar seperti ini jahatnya manusia yang berjenis laki-laki itu. Benarkah sudah tak ada yang berperasaan, yang mampu merasakan sakitnya perasaan wanita saat ia terluka?
Atau memang sudah ditakdirkan demikian para wanita. Takdir jahat yang mana Tuhan sendiri juga jahat! Sama jahatnya dengan makhluknya, dengan para lelaki yang Dia ciptakan tanpa menyelipkan perasaan padanya sekalian.
Padahal sudah lama sekali aku menunggu. Menunggu satu-satunya harapan kebahagiaan dari seorang lelaki yang kukira mampu untuk membahagiakanku. Tapi, malah seperti ini yang terjadi.
Sekali lagi, kubanting saja apa pun yang kukira mampu untuk memuaskan nafsu amarahku. Tapi ternyata, tak ada satu pun yang sanggup mengobati rasa sakit hati ini. Dalam sekali lukanya hingga tak mempan jika hanya diobati dari luar.
Arya, ya Tuhan, kenapa harus seperti ini jadinya?!

Bersambung Episode ke 39…

Baca juga: 

Post a Comment