Jadi Budak Bu Sur Sementara

Cerbung Episode ke 37…

Oleh Sofi Muhammad

Meski membayangkan gajinya saja sudah membuatku lemas tapi sebenarnya aku cukup nyaman juga bekerja di laundry itu. Cuma antar-jemput sih masalah gampang. Masalah sulitnya adalah ini.
Salah satu pelanggan di laundry-ku ini ternyata adalah Bu Mira. Dia kehilangan pembantunya beberapa hari lalu. Otomatis, tugas mencuci dialihkan ke laundry. Oleh karena Bu Mira tak ada waktu, tak punya sopir, juga tak punya anak, maka aku pula yang disuruh antar-jemput cuciannya.
Benar-benar sempit sekali dunia ini. Tidak mungkinlah jika tiba-tiba aku berani memunculkan diri begitu saja di depan mukanya. Bohong, ketahuan bohongnya pasti!
Begitu aku mendapat jatah mengambil cucian di alamat yang sudah kukenal itu, buru-buru otakku memutuskan sesuatu. Daripada memunculkan kecurigaan, bahkan sampai bisa merusak hubungannya dengan sang suami, lebih baik berhenti sajalah!
Iya, iya, nganggur lagi.
“Nganggur, kok bisa?!”
“Kenapa nggak bisa?”
“Belum genap seminggu, Ras.”
“Tahu, deh, San. Aku malas kalau disuruh nganterin di rumah Bu Mira.”
“Ya, kan kamu bisa minta dioper.”
“Yaelah, San. Anak baru aku ini, sudah minta-minta segala.”
Tak banyak komentar pula. Dibiarkan olehnya aku bingung sesukaku. Kini, barulah benar-benar kurasakan apa itu artinya susah mencari pekerjaan.

***
Meski pernah dihubungi lagi oleh Mbak Laundry untuk mengantar lagi di rumah Bu Sur, ibu-ibu yang paling laris dihindari teman-temanku di laundry itu, tapi aku tetap tak kasihan sama sekali.
Ah iya, kenapa tak dicoba saja, ibu itu, Bu Sur itu.
“Yakin, kamu, Ras?” tanya Santi yang tak percaya dengan rencana terbaruku yang hendak melamar menjadi PRT di rumah Bu Sur.
“Banget,” jawabku. “Sebenarnya, jadi PRT itu tak susah-susah amat. Cuma sedang sial aja kemarin. Kalau di rumah Bu Sur kan jelas tak ada suaminya, taka ada lelaki, bahkan!”
“Iya, juga sih.”
“Aku semangat nih mau melamar kerja di sana.”
“Ati-ati lho. Bisa dimakan kamu nanti, ha-ha.”
“Mendingan dimakan Bu Sur daripada bangkotan-bangkotan tua. Eh maaf San, bukan maksudku untuk menyindirmu lho.”
Santi tersenyum. Di hatinya mungkin agak sebal padaku oleh perkataanku tadi itu. Tapi, biarlah. Yang penting, sekarang keputusanku sudah sangat bulat. Lebih baik bobrok di rumah Bu Sur daripada di rumah Bu Mira.
Usai berganti pakaian dan cuci muka sekenanya, aku benar-benar langsung melancarkan rencana. Dengan wajah tertunduk setengah ragu, benar-benar kuhadapi Bu Sur itu. Matanya yang tajam, galak, tak berani kupelototi ganti.
Karena aku yang membutuhkannya, maka kumanis-maniskan perkataanku. Kubilang, mau kerja apa sajalah untuk bantu-bantu Bu Sur. Meski dia tak terlalu membutuhkan tenagaku tapi akhirnya diterima juga.
Komentarnya kala menerimaku, “Lumayan, buat pijit-pijit punggungku yang pegal.”
Aduh, sebenarnya, agak ngeri juga mendengar perkataannya yang satu itu. Lemak yang menggelendor setebal itu di lengannya, bahu, paha, betis, wah, bisa patah nanti jari-jariku kalau disuruh mijiti dia.
“Sekalian, kamu nanti nggantiin tugas mantan suamiku, ya,” tambahnya.
Tiba di situ, bulu kudukku langsung merinding. Di pikiranku yang keluar hanyalah kekonyolan dan kacau. Apa mungkin bahwa dia itu seorang lesbi?
Mengetahui keanehan di raut mukaku, kemudian segera diralatnya, “Jangan mikir yang aneh-aneh. Maksudku, kamu menggantikan tugas suamiku narik duit kos-kosan. Itu anak-anak kuliahan pada lemot kalau ditarik duit. Tugasmu itu!”
Huft, barulah bisa bernafas lega. Biarlah narik duit kos-kosan asal tak sampai masuk sumur juga, kan. Sumur yang bahkan airnya saja tidak ada. Sumur lubang buaya. Iya, kan ada banyak buaya di mana-mana. Sumur-sumur pemasok buaya darat yang luar biasa aku benci keberadaannya.
Tugas pertama aku disuruh narik duit kos. Kos-kosan Bu Sur tersebar hampir ke seluruh penjuru Kota Semarang. Baik Semarang atas atau pun bawah, ada semua. Memang pinter pilih tempat. Di sekitar kampus UNDIP Tembalang, UNNES, bahkan menyebar sampai ke IKIP PGRI, UDINUS, sampai IAIN juga.
Alhasil, kalau diperinci menggunakan ilmu hitung, lima hari kerja itu kan untuk minggu awal di tiap bulan, sedang minggu-minggu yang lainnya, biasanya juga untuk menarik kembali para penghuni kos yang luar biasa lelet kalau disuruh bayar.
Bu Sur bilang, kalau tidak dikejar terus seperti itu, bisa-bisa nunggak berbulan-bulan kemudian kabur, minggat. Ealah, dasar mahasiswa, memalukan sekali!
“Kalau yang di UNDIP tembalang memang cewek semua,” kata Bu Sur, “biasanya tak terlalu sulit kalau diminta.”
“Iya, Bu,” jawabku sambil menggut-manggut.
“Nanti tak telpon anak-anak biar mereka tidak salah ngasih ke orang lain,” imbuhnya.
“Iya, Bu.”
“Tak kasih tahu jugalah PRT-ku di kos-kosan juga.”
“Iya.”
Dalam sehari itu, aku langsung disuruh berangkat ke UNNES menarik duit kos. Penghuninya mahasiswa, laki-laki semua, agak risih sebenarnya, tapi Bu Sur malah bilang kalau itu justru baik.
“Biasanya, mahasiswa lelaki itu malu kalau di depan cewek terlihat nggak punya duit,” begitu kata Bu sur.
Yah, lagi-lagi, kalau punya motor sendiri memang sedikit lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan dari pada yang tidak. Yang masih kukhawatirkan hanya satu; lampu lalu lintas.
Kalau pas lagi pegang duit banyak sih nggak masalah. Masalahnya saat ini, aku lagi bokek banget. Kalau sampai ketilang dan motorku disita karena aku tak punya apa-apa, tak tahulah bagaimana.
Hari pertama kerja di rumah Bu Sur, nikmat sekali rasanya. Jadi budaknya, aku memang menjadi budaknya yang harus siap sedia di mana pun dan kapan pun. Meski sama-sama menjadi budak tapi tak boleh sembarangan memilih majikan, bukan?!


Post a Comment